Tokoh - Tokoh Batak Toba

Bookmark and Share

Sisingamangaraja XII
Raja Si Singamangaraja XII yang lahir pada tahun 1849 di Bakkara, Tapanuli, sebuah daerah di tepian Danau Toba, ini diangkat menjadi raja pada tahun 1867 menggantikan ayahnya Raja Si Singamangaraja XI yang meninggal dunia akibat penyakit kolera. Sebagaimana leluhurnya, sejak Si Singamangaraja II, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan dari pendahulunya secara turun temurun.


Raja Si Singamangaraja XII seorang pemimpin yang sangat menentang perbudakan. Jika beliau pergi ke satu desa (huta), beliau selalu meminta agar penduduk desa tersebut memerdekakan orang yang sedang dipasung karena hutang atau kalah perang, orang-orang yang ditawan yang hendak diperjualbelikan dan diperbudak.

Pada masa pemerintahannya, kegiatan zending pengembangan agama Kristen oleh Nommensen Cs dari Jerman juga sedang berlangsung di Tapanuli. Tidak begitu lama dengan itu, kekuasaan kolonial Belanda pun mulai memasuki daerah Tapanuli. Maka untuk menghadapi segala kemungkinan, ia pun mulai mengadakan persiapan-persiapan dengan mengadakan musyawarah dengan raja-raja serta panglima daerah Humbang, Toba, Samosir, dan Pakpak/Dairi.

Maka pada tanggal 19 Pebruari 1878 serangan mulai dilancarkan pasukan Si Singamangaraja XII yaitu rakyat Tapanuli sendiri terhadap pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung. Pertempuran yang menewaskan banyak penduduk tersebut akhirnya memaksa pasukan Si Singamangaraja mundur. Tapi walaupun harus mundur dari Bahal Batu, semangat juang perlawanan pasukan itu masih tetap tinggi terutama di desa-desa yang belum tunduk pada Belanda seperti Butar, Lobu Siregar, Tangga Batu, dan Balige selaku basis pasukan Si Singamangaraja XII ketika penyerangan ke Bahal Batu.

ertempuran kedua di Balige, Si Singamangaraja XII sempat terkena peluru di atas lengan, walau lukanya tidak sampai membahayakan nyawanya namun kuda putihnya si hapas pili mati ketika itu. Ia pun melakukan perang gerilia.

Dengan begitu, Si Singamangaraja XII pun terpaksa berpindah-pindah seperti dari Balige ke Bakkara kemudian ke Huta Paung di Dolok Sanggul, selanjutnya ke Lintong (kampung pamannya (tulang) Ompu Babiat Situmorang) dan kembali lagi ke Bakkara, begitulah terkadang berulang. Dan ketika kedua kalinya Si Singamangaraja XII menyingkir ke Lintong, Belanda pun menyerbu ke sana secara tiba-tiba pada tahun 1989.
Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi persenjataan yang lebih modern dari Belanda, akhirnya perlawanan gigih pasukan Si Singamangaraja XII pun terdesak. Dari situlah dia dan keluarga serta pasukannya menyingkir ke Dairi, yang kemudian selama 21 tahun tidak mengadakan serangan terbuka pada pasukan Belanda.

Beliau tetap mengadakan perlawanan dengan cara melakukan kunjungan ke berbagai daerah seperti ke Aceh dan raja-raja kampung (huta) di Tapanuli dengan maksud agar hubungan di antara mereka tetap terjaga terutama memberi semangat kepada mereka agar tidak mau tunduk pada Belanda. Akibatnya perlawanan oleh raja-raja terhadap Belanda pun kerap terjadi. Pihak Belanda meyakini, bahwa perlawanan yang dilakukan oleh raja-raja kampung itu tidak lepas dari pengaruh Si Singamangaraja XII.
Pihak penjajah Belanda juga melakukan upaya pendekatan (diplomasi) dengan menawarkan penobatan Si Singamangaraja sebagai Sultan Batak, dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di daerah lain. Namun Si Singamangaraja menolak tawaran itu.

Sehingga usaha untuk menangkapnya mati atau hidup semakin diaktifkan. Dan setelah melalui pengepungan yang ketat selama tiga tahun, akhirnya markasnya ketahuan oleh serdadu Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, peristiwa tragis pun terjadi. Dalam satu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya menyerah dan akan dinobatkan menjadi Sultan Batak. Namun pahlawan yang merasa tidak mau tunduk pada penjajah ini lebih memilih lebih baik mati daripada menyerah.Sehingga terjadilah pertempuran sengit yang menewaskan hampir seluruh keluarganya melawan penjajah. Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau Raja Si Singamangaraja XII bersama dua putra dan satu putrinya serta beberapa panglimanya yang berasal dari Aceh gugur pada saat yang sama yaitu tanggal 17 Juni 1907 di Sionom Hudon. Kedua putranya itu yaitu putra sulungnya Patuan Nagari dan Patuan Anggi sedangkan putrinya bernama boru Lopian, srikandi sejati yang masihberumur 17 tahun.

Keluarga Si Singamangaraja XII yang turut gugur dalam pertempuran melawan kolonial Belanda tersebut bukan hanya dua putra dan putri yang sangat disayanginya tersebut, tapi tidak lama sebelumnya, abangnya yang bernama Ompu Parlopuk juga sudah gugur ketika melancarkan perang Gerilya tersebut. Demikian halnya dengan sang Permaisuri Raja Si Singamangaraja XII, boru Situmorang, juga telah lebih dulu meninggal tidak lama sebelum wafatnya Si Singamangaraja XII akibat keletihan bergerilya di tengah hutan.

Bahkan, Pulo Batu, cucu yang sangat disayanginya, harus meninggal di usia muda sebelum kakeknya. Raja Si Singamangaraja XII alias Ompu Pulo Batu (Ompu Pulo Batu merupakan penamaan yang diambil dari nama cucu laki-laki paling sulung dari putranya paling sulung, dalam hal ini Pulo Batu merupakan anak sulung dari Patuan Nagari), akhirnya harus sama-sama wafat dengan cucu yang sebelumnya sangat diharapkannya menjadi penerus perjuangannya itu.

Raja Si Singamangaraja XII tepatnya gugur di hutan daerah Simsim, Sindias di kaki gunung Sitapongan, kurang lebih 9-10 km dari Pearaja, Sionom Hudon, Tapanuli, Sumatera Utara. (Disebut Sionom Hudon, sesuai dengan keenam marga yang menguasai daerah itu yaitu Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Pinayungan, Turutan, dan Anakampun). Jenazahnya mula-mula dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Sopo Surung Balige.


Tuanku Rao
Polemik tentang Tuanku Rao sebagai salah satu keturunan Dinasti Sisingamangara adalah bermula dari buku Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar yang berjudul “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833”. Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao alias Umar Katab adalah anak hasil perkawinan incest antara putri Sisingamangaraja IX, Putri Gana Sinambela dengan saudara laki-laki-nya Prince Gindoporang Sinambela. Gana seharusnya memangil uda pada Gindoporang, sedangkan Gindoporang memangil Gana boru. (Tuanku Rao, hal. 59. M.O Parlindungan, 2007). Mohammad Said dalam bukunya “Si Singamangaraja XII” menjelaskan, bahwa Tuanku Rao adalah Orang Padang Matinggi dan bukan orang Batak (lihat Sisingamangaraja XII, Mohammad Said, hal 77-78). Hal itu pula yang dikatakan Buya Hamka. Gara-gara buku tersebut Buya Hamka menulis buku sangahan. Buku melahirkan buku.

MO Parlindungan menulis, karena aib itu, Ompu Sohalompoan Sisingamangaraja IX terpaksa mengusir mereka. Keduanya lari misir, menyelamatkan diri ke Singkil, Aceh. Disana lahirlah Pongkinangolgolan yang berarti menunggu terlalu lama dipengusian. Prince Gindoporang Sinambela bergabung dengan pasukan Aceh, berganti nama menjadi Muhammad Zainal Amiruddin, dan menikahi putri raja Barus. Sejak itu, Gana Sinambela membesarkan putranya seorang diri. Sepuluh tahun kisah itu Sisingamangaraja IX wafat dan digantikan anaknya, Ompu Tuan Nabolon, adek laki-laki dari Gana Sinambela menjadi Sisingamangaraja X. Aib itu sudah dilupakan, Gana dan Pongkinangolgolan diundang kembali pulang ke Bakkara.

Namun, kehadiran mereka tidak direstui tiga orang datu bolon (dukun) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manullang. Dukun itu meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh Singamangaraja X, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman pada bere yang disayanginya. Tetapi Sisingamangara X tidak tega, lalu membuat sandiwara, Pongkinangolngolan dieksekusi dilakukan dengan pura-pura ditenggelamkan ke Danau Toba. Pongkinangolngolan diikat pada sebatang pohon, lalu tali dilonggarkan dengan Gajah Dompak, sembari menyelipkan satu kantong kulit uang perak ke balik bajunya, sebagai bekal hidup.

Kemudian, Pongkinangolngolan dibawa solu (rakit) ke tengah danau dan dijatuhkan ke dalam air. Sudah pasti Pongkinangolngolan terapung hingga arus air membawanya terdampar di sungai Asahan. Tak pelak, ia ditolong dan diangkat menjadi anak oleh seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Kira-kira umur 20 tahun, ia merantau ke Angkola dan Sipirok. Merasa masih trauma dengan masa lalunya, Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau. Di sana ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda.

Sementara, Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan gerakan Mazhab Hambali, meminta pada Datuk Bandaharo Ganggo untuk menyerahkan Pongkinangolngolan untuk didik. Apalagi desas-desus silsilah dari Pongkinangolngolan sebagai keturunan dinasti Sisingamangaraja telaha diketahui. Tuanku Nan Renceh menyusun siasat untuk mengIslamkan Tanah Batak. Tahun 1804, Pongkinangolngolan masuk Islam dan berganti nama Umar Katab, Katab jika dibalik terbaca Batak. Umar Katab dikirim ke Mekkah dan Syria untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mengikuti pendidikan kemiliteran sebagai kavaleri Janitsar Turki.

Tahun 1815, Umar Katab pulang dari Mekkah dan ditabalkan menjadi panglima tentara Padri dan diberi gelar Tuanku Rao, oleh Tuanku Nan Renceh. Ada yang menyebut Tuanku Rau.

Azas Manfaat

Perang Padri berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama di Sumatera Barat. Semangat Padri lahir dari beberapa tokoh Islam yang mendalami Mazhab Hambali, dan ingin menerapkan di Sumatera Barat. Dalam agama Kristen, Mazhab Hambali bisa disebut mirip gerakan puritan, aliran yang memengang teguh kemurniaan ajarannya, namun tidak sama.

Pasukan Padri mengunakan pakaian warna putih-putih. Pasukan Padri yang dipimpin Tuanku Rao bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan dan Utara. Penyerbuan pertama Padri ke Tanah Batak dimulai dengan meluluhlantahkan benteng Muarasipongi yang dikuasai Marga Lubis. Diperkirakan pasukan Padri 5.000 orang pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri. Seluruh penduduk Muarasipongi dibabat habis. Basyral Hamidy Harahap yang menulis buku Greget Tuanko Rao menyebutnya mirip holocaust. Setelah Selatan dikuasai Padri, mereka hendak ke Utara yang dikuasai Sisingamangaraja. Perang ini dimamfaatkan Klan Siregar, atas dendam mereka terhadap dinasti Sisingamangaraja. Salah satu keturunan Klan Siregar adalah Jatengger Siregar bergabung dengan pasukan Padri.

Tahun 1819, dari Selatan pasukan Padri berajak ke Utara untuk menyerang kerajaan Singamangaraja X di Bakkara. Perang ke Utara dimamfaatkan beberapa pihak. Terutama bagi Klan Siregar sebagai kesempatan balas dendam. Konon, Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, pernah menyerbu pemukiman Marga Siregar di Muara. Dalam perang tanding itu Klan Siregar kalah, Raja Porhas Siregar sebagai pemimpin tewas. Sejak saat itu dendam kusumat terus terngiang pada keturunan Raja Porhas Siregar. Memang banyak yang menyebut hal itu impossible, dendam berkepanjangan sampai 26 generasi. Serangan Padri ke Dinasti Sisingamangaraja dimafaatkan Jatengger Siregar sebagai ajang balas dendam. Jatengger menyasar Singamangaraja X dan membunuhnya. Kepalanya dipenggal, ditusukkan dan ditancapkan ke tanah. Sementara, Tuanku Rao tidak terbetik menggagalkan pembunuhan terhadap tulangnya itu.

Tahun 1820, pasukan Paderi minggir dari Tanah Batak karena terjangkit virus kolera dan epidemi penyakit pes. Ada asumsi virus itu muncul sebab terlalu banyak mayat membusuk tidak sempat dikuburkan. Dari 150.000 orang tentara Padri, yang selamat hanya tersisa sekitar 30.000 orang. Lebih banyak meninggal karena virus tersebut.

Ada tiga asumsi yang bisa diambil dari kisah tersebut. Pertama perang Padri yang ingin menyebarkan agama Islam. Kedua, Klan Siregar yang memamfaatkan perang Padri membalas dendam terhadap Sisingamangaraja X. Terakhir, ramalan datu Amantogar Manullang yang mengatakan, “Tuanku Rao akan membunuh Sisingamangaraja X terbukti, walau tidak langsung dilakukan Tuanku Rao. Tetapi Jatengger Siregar sebagai anak buah Tuanku Rao.”


Mayjend TNI Anumerta Donnald Issac Panjaitan

Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan (lahir di Balige, Sumatera Utara, 19 Juni 1925 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 40 tahun) adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta

Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.

Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.


Amir Pasaribu

Amir Pasaribu lahir tanggal 21 Mei 1915 di Siborong-Borong. Dia adalah seorang musisi Indonesia. Yang menikmati pendidikan di Sekolah Raja Balige, kemudian sekolah dasar Eropa milik misi Katolik, dan diteruskan ke HIS Hollands Inlandse School di Sibolga. Ia meneruskan sekolah di Mulo (=SMP) di Tarutung, dan diselesaikan di Padang. Pendidikan perguruan tinggi dijalaninya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung (dulu HIK); di sana ia juga mengembangkan pengetahuannya dalam bidang musik piano. Ia mendapat pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus; selanjutnya cello dari Nicolai Varvolomeyef dan Joan Giessens.

Biodata
• 1915 – 1935 sekolah dasar dan lanjutan di Sumatra Utara dan Tengah (Tarutung/Sibolga/Padang)
• 1935 – 1942 perguruan tinggi di Bandung
• 1942 – 1945 bekerja di bidang siaran radio di zaman pendudukan Jepang
• 1945 – 1952 bekerja di bidang siaran radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep), dan Orkes Studio Jakarta; kemudian RRI
• 1952 – 1954 tugas belajar di Belanda untuk mempersiapkan pembukaan program pendidikan musik di Indonesia
Pasaribu beberapa kali mengadakan kunjungan ke luar negeri antara lain Tiongkok, Jepang, Uni Soviet, Cekoslowakia, Jerman, Belanda dan Perancis dalam rangka tugas belajar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Departemen Pendidikan Nasional)
• 1954 – 1957 direktur Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta
• 1957 – 1968 direktur B1-kursus jurusan Seni Suara; Lembaga Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian ditingkatkan menjadi IKIP-UI (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia – kini Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta
• 1968 – 1980 guru piano dan cello pada Pusat Kebudayaan Suriname (Cultureel Centrum Suriname)
• 1980 – 1995 guru privat piano di Paramaribo
• 1995 kembali ke Indonesia
• 2002 dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Berbagai jabatan yang pernah disandang:
• Guru piano di Jakarta dan Paramaribo, Suriname
• Ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Cekoslowakia
• Pengimpor piano Petrof buatan Cekoslowakia
• Wirausaha bengkel & reparasi piano serta transportasi
Publikasi
1. Musik dan Selingkar wilayahnya, Kem. PPK 1955
2. Analisis Musik Indonesia (PT Pantja Simpati 1986)
3. Riwayat Musik dan Musisi (Gunung Agung, 1953)
4. Teori Singkat Tulisan Musik (NV Noordhof-Kolff)
5. Menudju Apresiasi Musik (NV Noordhof-Kolff)
6. Bernyanyi Kanon (Balai Pustaka, Kem.PPK 1955)
7. Lagu-lagu Lama Solo Piano I (Balai Pustaka 1952)
8. Lagu-lagu Lama Solo Piano II (Balai Pustaka, 1958)
9. Suka Menyanyi (Indira, 1955)
10. Tifa Totobuang
Artikel
1. Orkes Langgam Indonesia (Off beat – Tjintjang Babi!) – maret 1953
2. Kesaksamaan – juni 1953
3. Malam Musik di Geredja Paulus – oktober 1953
4. Lenong, Observasi MSDR Lenteng-Agung – Konfrontasi nr. 3 1954
Karya:
Musik untuk piano tunggal:
1. Capung kecimpung di Cikapundung
2. Rondino Capriccioso
3. 2 Sonata’s
4. Petruk, Gareng dan Bagong
5. Rabanara dances
6. Rabanara dances no. 7
7. Spielstuck
8. Puisi Bagor
9. Kesan langgar(Impressie Langgar)
10. Sampaniara no. 1 (Getek silam kali Ancol)
11. 6 Variasi Sriwijaya
12. Bongkok’s Bamboo-flute (Orpheus in de dessa)
13. Indihyang
14. Ball-dance of the river-fish princess/Tari Ikan Putri
15. Berceuse
16. Suite Villageoise
1. La flute d’un mendiant
2. Lullaby
3. Makam Achmad Sutisno
4. Beduk Puasa
17. Ole ole melojo-lojo
18. Variasi Es Lilin
19. Maswika Lily
Musik untuk string Quartet/Kwartet gesek:
1. Dua Resital Violis
2. Meditation
3. Hikayat Mas Klujur
4. Sunrise at Yang Tse,
5. Dr. Sun Yat Sen Memorial Hall,
6. Hang Tsu-Mountain and Creeks at Sundown,
7. Express Railroad Back Home
Musik untuk piano dan biola:
1. Clair de Lune
Musik hymne perjuangan ABRI:
1. Andhika Bhayangkari
Aktivitas musik yang terakhir dilakukan (hingga tahun 1995):
• Piano & biola ensemble di Paramaribo bersama Harry de la Fuënte
• Trio musik gesek di Paramaribo
• Piano pengiring untuk Paduan suara Maranatha di Paramaribo
• Piano pengiring sekolah balet di Paramaribo

Bersua dengan Amir Pasaribu
Oleh : Ananda Sukarlan

KabarIndonesia – Suatu hari datang satu e-mail dari seseorang bernama Nurman Pasaribu yang ditujukan ke saya. Sungguh suatu surprise!

Ternyata Beliau adalah putra dari komponis yang selama ini karya-karyanya saya kagumi dan sering dimainkan, tetapi saya selalu mengira Beliau sudah meninggal (Amir Pasaribu lahir pada tahun1915).

Nurman sendiri telah berkeluarga dan tinggal di Belanda. Dari Latifah Kodijat, seorang pengajar senior di Jakarta, beberapa tahun lalu saya mendapatkan banyak partitur dari Amir Pasaribu. Dua sonata untuk piano (yang no. 2 hanya bagian pertamanya saja yang partiturnya saya miliki), karya-karya kecil lainnya seperti The juggler’s meeting, Puisi Bagor, Capung Kecimpung di Cikapundung dan Variasi Sriwijaya. Dari karya-karya tersebut, ada sekitar 5 karya yang saya terus mainkan di berbagai penjuru dunia, sedangkan yang lainnya tersimpan di perpustakaan saya karena banyak not-not yang salah kutip ataupun meragukan.

Sejak email pertama dari Nurman, saya kemudian banyak bertukar e-mail dengannya, juga dengan putrinya, Gonny Pasaribu. Kebetulan, bulan Desember lalu saya diundang oleh Medan Musik untuk menjadi juri Samick Piano Competition di Medan. Nurman langsung menganjurkan saya untuk menyempatkan diri berkunjung ke rumah Amir Pasaribu. “Datang saja”, kata Nurman lewat telpon, “Tidak usah telpon dulu. Pappie (sebutannya untuk ayahnya) sudah di kursi roda, dan tidak pernah kemana-mana, dan pasti senang dikunjungi Ananda. Beliau sering menyebut nama anda.”

Ternyata, pernah ada satu artikel yang ditulis kritikus dan musikolog Bintang Prakarsa di satu harian di Indonesia yang menyebutkan bahwa saya adalah satu-satunya pianis Indonesia yang tetap memainkan karya-karyanya di luar negeri. Apa itu benar, saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu, ya itu tadi, saya selalu memainkan karya komponis dari negeri saya yang saya kira sudah masuk club yang saya bisa namakan “Dead Composers Society” yang anggota-anggotanya bisa disebut dari Beethoven, Bach, sampai Toru Takemitsu atau Mochtar Embut.

Jadilah hari Minggu pagi itu, setelah saya tiba di Medan hari sebelumnya, saya bersama teman & manager saya, Chendra, naik taxi dari hotel menuju ke Karya Wisata, alamat yang kami dapat dari Nurman. Rencananya kami hanya akan sebentar saja. Setelah agak berputar-putar Medan dan bertanya-tanya (saya sebenarnya cukup kaget karena orang Medan, termasuk para siswa/i musik, tidak mengenal namanya. Itulah nasib seorang seniman musik sastra di Indonesia!).

Akhirnya kami tiba, dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ketuk lagi. Sama saja. …. “Tuh, mungkin sedang ke gereja,” kata Chendra. Saya tidak menyerah. Mengetuk lagi. Tidak ada reaksi. Kami kemudian berputar, ingin bertanya ke tetangga apa benar ini rumah Amir Pasaribu. Ketika kami sampai di pintu gerbang, tiba-tiba pintu rumah bergoyang-goyang. Tapi tidak terbuka! Situasi ini mungkin hanya memakan waktu satu menit, tapi rasanya lama sekali karena kami bingung, kok surealis banget! Akhirnya, pintu terbuka, dan kami jadi mengerti kenapa hal itu terjadi. Muncul seseorang tua di kursi roda, memakai kaos oblong putih dan sarung. Langsung saya datangi.
“Pak Amir Pasaribu?”
“Siapa anda?” teriaknya.
“Saya Ananda Sukarlan, Pak.”
“Siapaaa?” “
Ananda Sukarlan, seorang pianis, Pak.”
“Siapaaa?”

Membaca situasi lebih cepat dari saya, Chendra mendekati telinganya, dan berteriak “Ananda Sukarlan Pak, pianis yang tinggal di Spanyol!”
“Ooooooh!”
Kegembiraan terpancar di wajahnya yang tadinya kelihatan galak. Beliau langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Ik ken jouw naam (saya tahu nama anda)!” dan setelah Chendra memperkenalkan dirinya juga, kami duduk dan mengobrol di teras.

Terus terang, saya selalu grogi bertemu dengan orang baru, apalagi ini seseorang yang saya selalu kagumi, senior, dan notabene sudah tuli. Saya membayangkan menit-menit keheningan pasti akan terjadi, di mana saya tidak tahu harus omong apa. Ternyata, pak Amir orangnya banyak bicara, dan antusias sekali. Beliau lebih fasih berbahasa Belanda, jadi akhirnya percakapan berganti bahasa. Chendra yang tidak mengerti satu kata pun jadi gelisah, dan akhirnya mengambil kamera. Ceklak, ceklek … Daripada nganggur dan tidak mengerti!

Sambil mendengarkannya berbicara, saya mengamati fisiknya. Luar biasa sekali orang ini. Umurnya 92 tahun, karakternya yang kuat masih bersinar di wajahnya. Yang menarik perhatian saya adalah telinganya yang besar, yang mengingatkan saya ke komik Tintin tentang patung-patung bertelinga panjang di Pulau Paskah. Masih ada sangat sedikit rambut putih dipotong pendek sekali walaupun sebagian besar sudah botak, dan sudah ompong. Kelihatan sekali bahwa pak Amir adalah orang yang tidak doyan berkompromi, keras dan punya pendapat yang kokoh dan sulit dibengkokkan tentang banyak hal.

“Saya menderita Alzheimer”, katanya. Wow, saya hampir tidak percaya. Banyak sekali yang Beliau masih ingat. “Gimana guru anda, Oey Tjong Lee?” tanyanya.
“Sudah meninggal, Pak” (Tjong Lee adalah Rudy Laban, mantan guru saya di Jakarta sebelum saya meninggalkan tanah air). “Ooooh”, kegetiran, seperti semua ekspresi yang dirasakannya, langsung terpancar kuat. Raut wajahnya memang ekspresif sekali. “Usianya masih sangat muda.” Kemudian, Pak Amir juga menyebut tentang “Tisna” (alm. Ny. Charlotte Sutisna, yang ditahun 60-an sangat berdedikasi untuk memainkan karya-karyanya.

Rekamannya dari banyak karyanya yang dibuat di RRI akan sangat membantu saya untuk merekam kembali karya-karya tersebut, kali ini dengan teknik digital yang tinggi dan mikrofon serta studio yang 100x lebih canggih dan betapa Beliau kehilangan setelah ia meninggal.

“Kawan-kawan saya terdekat kini sudah meninggal. Itulah kalau orang bertahan sampai usia lanjut, jadinya kesepian.” Saya jadi ingat pernah membaca bahwa Stravinsky, semakin lanjut usianya, karya-karyanya semakin banyak yang berjudul “In Memoriam”. Sebut saja: I.M. Aldous Huxley, Dylan Thomas … itu semua ditulisnya saat ia berusia sekitar 80 tahun.

Saya juga kaget Pak Amir tahu tentang Michael Jackson. “Musik jaman sekarang, tambah lama tambah jelek (“verschikelijk”). Itu bukan seni. Itu bikin masyarakat tambah tolol”. Terus terang, saya ada setujunya dengan pendapat ini, walaupun tentu saja saya tidak setuju tentang Michael Jackson, terutama hasil karyanya sewaktu ia masih berkulit hitam di tahun 80-an. “Beethoven, Brahms, Bartok, sudah tidak ada lagi komponis-komponis seperti mereka zaman sekarang. Musik pop dan rock itu sudah tidak dapat disebut musik lagi”. Wah, Pak, untungnya tidak sempat mengenal musik-musik avant-garde model Stockhausen dan Boulez; kalau musik pop saja sudah tidak bisa disebut musik, lalu musik avant-garde disebut apa???

Beliau banyak tahu tentang saya. Salah satu buktinya seperti di atas, Beliau mengetahui dengan siapa saja saya telah berguru. Satu anjurannya (yang tentu saja saya sudah turuti) adalah “Blijf buitenland” (tetaplah tinggal di luar negeri). “Di sini seniman tidak dihargai,” ujarnya. Beliau juga menyayangkan banyak partiturnya yang tersebar dan hilang, karena sering pindah rumah dan juga rumahnya pernah kemasukan maling. Andaikan saja maling itu tahu betapa berharganya kertas-kertas yang dicurinya!

Sulit sekali untuk pamit. Beliau sangat menikmati kunjungan dari siapa pun. Senang mengobrol, dan yang diajak mengobrol pun ketagihan. Tapi akhirnya kami pun harus balik ke hotel. Yang jelas, saya sudah mendapatkan izinnya untuk merekam seluruh karya musiknya. Lebih dari izin, Beliau “lega bahwa musik saya ada di tangan yang baik” (dalam dunia piano, kalimat ini bisa diterjemahkan secara harafiah). Pertanyaan terakhir dari Beliau, “Kapan saya bisa dengar rekaman permainan kamu? Jangan lupa, saya tidak punya banyak waktu lagi.” Saya hanya bisa menjawab “Iya, Pak” …. Dan pamit pulang.

Yang masih merupakan misteri untuk saya adalah mengapa Amir Pasaribu berhenti berkarya pada tahun 70-an, di saat Beliau berumur 60-an? Usia itu, untuk jaman sekarang, relatif muda untuk berhenti berkarya. Inspirasi kering? Motivasi kurang? Bagaimana pun, tidak seperti Jean Sibelius yang berhenti berkarya saat usia 50 tahun tapi hingga kini tetap beredar gossip-gossip bahwa ada karya-karya yang ditulis setelahnya (seperti Simfoni no. 8), dalam hal Amir Pasaribu cukup jelas.

Beliau memang telah berhenti berkarya sejak lama. Sebetulnya yang saya lebih sayangkan adalah partitur-partitur yang hilang entah kemana. Sewaktu saya bilang bahwa putranya telah berhasil mengumpulkan sekitar 25 karya untuk piano, pak Amir berkata “Sebetulnya sangat lebih dari segitu. Tapi, ada di mana musik-musik itu, tidak ada yang tahu. Sudah, lupakan saja.” Wah, maaf Pak, tidak bisa saya lupakan. Itu aset negara sebetulnya. Sayangnya, hanya beberapa orang saja yang sadar betapa bernilainya itu. Sayangnya, nilainya bukan berupa uang, dan kalau bukan uang, di abad 21 ini namanya bukan nilai …..


T.B. Simatupang


Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama TB Simatupang (lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 – meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 pada umur 69 tahun) adalah seorang tokoh militer dan Gereja di Indonesia. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.


Latar belakang

Simatupang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana. Ayahnya Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, terakhir bekerja sebagai pegawai kantor pos.

Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Tarutung 1937, lalu ke AMS di Jakarta dan selesai pada 1940. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Simatupang mendaftarkan diri dan diterima di Koninklije Militaire Academie (KMA) - akademi untuk anggota KNIL, di Bandung dan selesai pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia yang kemudian merebut kekuasaan dari pihak Belanda.

Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954). Pada 1954-1959 ia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno waktu itu.

Aktivitas setelah purnawira

Simatupang pernah mengatakan bahwa ada tiga Karl yang mempengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20. Seluruh kehidupan Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dll.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya. Simatupang percaya bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang menguasai ilmu manajemen di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat.

Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.

Keluarga
Simatupang menikah dengan Sumarti Budiardjo yang adalah adik dari teman seperjuangannya Ali Budiardjo. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak,Tigor,Toga,Siadji,dan Ida Apulia. salah seorang di antaranya meninggal.Dan dikarunia empat cucu,Satria Mula Habonaran,Larasati Dameria,dan Kezia Sekarsari,Hizkia Tuah Badia.

Karya tulis

  • Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956)
  • Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit selama Perang Kemerdekaan (1960)
  • Pemerintah, Masjarakat, Angkatan Perang: Pidato-pidato dan karangan-karangan 1955-1958 (1960)
  • Tugas Kristen dalam Revolusi (1967)
  • Capita Selecta Masalah Hankam (1967)
  • Pengetahuan Militer Umum (1968)
  • Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)
  • Diskusi Tjibulan II: Dukungan dan Pengawasan Masjarakat dalam Pembangunan, 9-11 Djanuari 1970 (disusun bersama oleh Anwar Harjono, H. Rosihan Anwar, T.B. Simatupang) (1970)
  • Kejakinan dan Perdjuangan: Buku Kenangan untuk Letnan Djenderal Dr. T.B. Simatupang (1972)
  • Keselamatan Masakini [disusun oleh T.B. Simatupang, bersama S.A.E. Nababan dan Fridolin Ukur (1973)
  • Buku Persiapan Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia, 1975 (1974)
  • Ketahanan Nasional dalam Situasi Baru di Asia Tenggara: Ceramah pada tanggal 30 Juni 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta (1975)
  • Ceramah Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. T.B. Simatupang di AKABRI Bagian Darat, tanggal 4 November 1981 [microform] (1981)
  • Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981)
  • Arti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan: Ceramah tanggal, 14 Oktober 1980 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta (1981)
  • Iman Kristen dan Pancasila (1984)
  • Harapan, Keprihatinan dan Tekad: Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985)
  • Kehadiran Kristen dalam Perang, Revolusi dan Pengembangan: Berjuang Mengamalkan Pancasila dalam Terang Iman (1986)
  • Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang (penyunting: H.M. Victor Matondang) (1986)
  • Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980)
  • Peranan Agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Negara Pancasila yang Membangun (1987)
  • Dari Revolusi ke Pembangunan (1987)
  • 70 tahun Dr. T.B. Simatupang: Saya adalah Orang yang Berhutang [penyunting: Samuel Pardede] (1990)
  • Penghayatan Kesatuan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila Menuju Tinggal Landas (1990)
  • Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos: Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa, dan Negara (1991)

Masri Singarimbun


Masih penuh rencana penelitian baru dan sibuk menyiapkan publikasi baru, Masri Singarimbun, profesor antropologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Indonesia) meninggal dunia pada tanggal 25 September 1997. Selama beberapa bulan dia telah menjalani pengobatan untuk berbagai leukemia yang banyak berharap ia akan bertahan hidup, tetapi yang akhirnya terbukti berakibat fatal. Kematiannya pada usia 66, daun kekosongan baik di Indonesia dan masyarakat akademik pada umumnya ketika ia berada di antara beberapa ulama Indonesia dengan reputasi internasional.

Sejak ia mendirikan Pusat Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1973, ia terkenal karena karyanya dalam demografi sosial, antropologi, dan studi pembangunan. Namun, sebagai orang yang energik dan antusias dia, dia adalah seorang pengamat dan analis tertarik dari berbagai isu-isu sosial dan akademis. Karya awalnya difokuskan pada sosio-antropologis klasik studi tentang Batak Karo-sistem kekerabatan untuk mana ia menerima gelar PhD di Australian National University di 1966 (setelah anda menyelesaikan gelar BA dalam Pendidikan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959). Kemudian ia pindah ke demografi di ANU untuk Sekolah Penelitian Ilmu Sosial, hingga ia memutuskan (pada 1972) bahwa setelah lebih dari sebelas tahun di Canberra ia harus kembali ke Alma Mater di Yogyakarta. Di sana ia menjadi sangat terlibat dalam penelitian tentang pengendalian kelahiran dan keluarga berencana di berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar itu ia bertindak sebagai penasihat kritis kepada pemerintah Indonesia yang pada saat itu telah terlibat dalam program perencanaan keluarga dalam upaya habis-habisan untuk memecahkan masalah penduduk negara itu. Masri’s rekomendasi tidak selalu diterima secara positif saat ia memenangkan bersikeras atas kerjasama dan penerimaan dari program dari masyarakat lokal, sementara lembaga-lembaga pemerintah terobsesi oleh angka-angka target dan kesuksesan cepat, dan dengan berbuat begitu mudah terpaksa tekanan politik pada populasi.

Nya sikap kritis juga membawa dia untuk menarik perhatian pada masalah kemiskinan pedesaan dan melalui penelitian jangka panjang proyek, yang dimulai bersama dengan David Penny pada tahun 1969 di Desa Sriharjo (di bagian selatan Yogyakarta provinsi), ia mampu menunjukkan bahwa angka-angka resmi pada pemberantasan kemiskinan di Indonesia pada umumnya terlalu optimis. Bahan nya di Sriharjo, sebuah desa yang ia kembali berkali-kali, memberikan Fundgrube bagi sejarah sosial pedesaan Jawa di abad ke-20.

Masri kembali ke Indonesia pada tahun 1972 tidak hanya menandai awal karir akademis yang mengesankan tetapi juga awal yang sangat sukses pusat penelitian di mana beberapa generasi ilmuwan sosial Indonesia menerima pelatihan intelektual mereka. Bangunan kecil dari yang ia mulai telah tumbuh menjadi salah satu pusat-pusat akademik di Universitas Gadjah Mada dengan jauh terbaik dilengkapi perpustakaan ilmu sosial dan suasana terbuka di mana mahasiswa, staf, dan (banyak) mengunjungi sarjana dari Indonesia dan luar negeri bertemu. Dunia menyenangkan ini telah menghasilkan sejumlah besar peneliti yang berdedikasi menggabungkan komitmen sosial dengan ketelitian ilmiah dan membuka pikiran. Yang sama jumlah besar peneliti asing sangat diuntungkan dari dukungan dan infrastruktur dari Pusat Studi Kependudukan menyediakan mereka dengan tantangan intelektual dan diskusi yang tajam serta relaksasi dari tekanan kerja lapangan.

Ketika pada tahun 1996, Masri pensiun dari kursinya di UGM Departemen Antropologi, ia tetap aktif dalam proyek-proyek penelitian dari Pusat Studi Kependudukan dan pembimbing tesis. Ia ditawari kursi baru dalam metodologi penelitian di Universitas Atma Jaya Yogyakar-ta, dan terus pada penelitian penerbitan baik melalui jurnal akademik dan (sangat luas) melalui kolom dalam pers Indonesia, mengomentari topik beragam seperti etnisitas, pedesaan kemiskinan, sosio-linguistik, seksualitas, dan AIDS.
Tiga puluh tahun setelah ia menerima gelar PhD di Canberra, ANU menawarkan kehormatan doktor pada tahun 1996. Masri merasa, tentu saja, dihormati oleh tanda-tanda ini pengakuan internasional dari karyanya, tapi ia terkejut pada saat yang sama, tidak sedikit pun karena dia, dilatih sebagai seorang pendidik dan antropolog, dan dipekerjakan di departemen demografi dan ekonomi, yang ditemukan dirinya untuk menjadi lld pada akhirnya.
Masri Singarimbun, yang meninggalkan seorang istri, Irawati, dan tiga anak perempuan, akan dirindukan oleh banyak teman dan kolega di seluruh dunia.

[Sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisan Masri Singarimbun dapat ditemukan di: Agus Dwiyanto et al. (eds), Penduduk dan Pembangunan, Population Studies Center, Yogyakarta 1996, hal. 413-424]

Prof Frans Hüsken melekat kepada Lembaga Budaya dan Sosial Antropologi, Universitas Katolik Nijmegen (Belanda) dan ketua Dewan IIAS.


M.S Hutagalung

Kehidupan adalah Jantung dari Sastra

Mungkin generasi muda sekarang ini tidak banyak yang kenal dengan Mangasa Sotarduga Hutagalung. Beliau adalah M.S. Hutagalung pengarang buku sastra dan kritikus sastra. MS Hutagalung telah banyak memakan asam garam ikhwal sastra di Indonesia. Di masa mudanya di tahun 60-an, Hutagalung banyak menulis tentang kritik sastra terhadap siapa gitu. Ratusan kritik dan esai sastra yang telah ditulis dan dimuat di buku antologi sastra.

Pada tahun 1971 -1973 pernah belajar Fakultas Sastra Universitas Leiden dalam program Leiden, studi Pasca Sarjana dalam bidang linguistik Terkenal di kalangan masyarakat kesusasteraan Indonesia sebagai seorang ahli sastra yang telah banyak menulis buku tentang kesusasteraan ; banyak menulis artikel sastra dalam majalah dan suratkabar ibukota, banyak membawakan kerja keras dalam seminar-seminar sastra. Ia juga pernah duduk dalam Komisi bahasa Indonesia yang bertugas membantu penyusunan “Alkitab Terjemahan Baru”.

Tak kurang kurang dari 10 bukunya yang telah diterbitkan antara lain: Tanggapan Jalan tak ada Ujung Muchtar Lubis (Gunung Agung, cet. 2,1963), Tanggapan Dunia Asrul Sani ( Gunung Agung,1967 ), Hari Penentuan (BPK Gunung Mulia,1967), Memahami dan Menikmati Puisi (BPK Gunung Mulia 1971 ; mendapat penghargaan dari Departmen Pemuda ), Telaah Puisi (BPK Gunung Mulia 1973), Kritik atas Kritik atas Kritik (Tulila, 1975 ), Membina Kesusasteraan Indonesia Modern (Corpatarin utama 1988), Telaah Puisi Penyair Angkatan Baru (Tulila, 1989). Dalam buku ini termuat pembicaraannya tentang hampir semua penyair utama di Indonesia (Angkatan Baru ), mulai dari Toto Sudarto Bachtiar, Ajib Rosidi, Subagio Sastrowardoyo, Gunawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Popy M.Hutagalung, Fridolin Ukur dan lain-lain.

Kemudian dalam 2 tahun terakhir ini buku yang terbit adalah Perjalanan 40 tahun GKPI Jemaat Rawamangun bersaksi, PENATUA, Tugas dan Syarat, Menumbuh Kembangkan Jemaat (Kolportase GKPI Rawamangun, 2006). Pada mulanya MS menulis sajak dan cerpen dan disiarkan oleh RRI Medan. Setelah tamat dari Universitas Indonesia puluhan bukunya telah diterbitkan. Ratusan kritik dan esainya tersebar di koran dan majalah. M.S Hutagalung lahir di Tarutung, Sumut 8 Desember 1937, lulus tahun 1964 pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mengajar pada fakultas yang sama dengan mata kuliah kesusasteraan Indonesia. Pada tahun 1984 bertugas di Universitas Sains di Penang -Malaysia sebagai dosen tamu. Dia sempat mengenyam pendidikan S2 di Leiden bahkan selama 7 tahun mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Sains Penang, Malaysia. Sebelum pensiun, dia juga mengajar bahasa Indonesia Sastra Indonesia di Universitas Kristen Indonesia, Universitas Nasional, STT Jakarta dan STT Cipanas.

Puisi Penting, Tetapi Tak Laku

Dua puluh tahun lalu dia pernah berkomentar dalam bukunya Telaah puisi Penyair Angkatan Baru, dan itu juga yang diulanginya ketika saya bertemu dengannya dua bulan lalu di rumahnya bilangan Pemuda Asli, Rawamangun, Jakarta Timur : Saya heran kalau dikatakan bahwa puisi dirasakan penting, tetapi mengapa tidak laku? Disamping yang mendewa-dewakan atau memistik-mistikkan puisi atau sastra, tidak kurang juga banyaknya orang-orang yang melecehkan arti puisi. Bagi mereka puisi itu adalah ciptaan orang-orang yang suka melamun dan hanya berguna untuk orang-orang yang melamun juga. Sajak-sajak yang berserakan di mana-mana dan sajak cengeng dan seenaknya seakan memperkuat alasan mereka bahwa sajak sebenarnya adalah hasil pekerjaan orang-orang iseng yang mempermainkan kata-kata.

Kita harus mengakui bahwa zaman kita bukanlah zaman seni, tetapi zaman ilmu, tekonologi, ekonomi dan lain-lain. Tetapi zaman ini pulalah mulai terbukti bahwa apa yang telah agak lama dikahawatirkan orang-orang bijak: merosotnya nilai-nilai kemanusiaan. Tidak kurang dari seorang Menteri Agama kita sendiri berkata bahwa hidup tanpa seni adalah kekasaran. Memang untuk dapat melihat makna sesuatu untuk kehidupan, kita perlu mencoba membayangkan hidup kita tanpa seni. Sebab sesuatu itu mungkin tidak kita sadari lagi maknanya, karena sudah terlalu biasa seperti “udara”. Saya kira memang banyak orang yang sudah tak dapat hidup lagi tanpa musik kesayangannya, tanpa buku sastra, tanpa tari. Tapi tanpa sajak atau puisi? Sangat mengerikan. Anak-anak sekarang kita tidak lagi menyanyikan tentang Pelangi atau Bintang kecilnya Ibu Sud. Dapatkan dibayangkan, kebaktian di gereja akan hambar dan pembicaraan di pesta adat dan antara kita mungkin menjadi kurang semarak dan membosankan, karena tidak diselingi lagi oleh pepatah-petitih atau gaya khas yang kita pergunakan. Pada zaman ini hati kita semakin kebal. Rasa ibahati, belas kasihan, pengorbanan semakin hilang.

Di samping merangsang kepekaan kita pada keindahan, kesenian dan terutama sastra juga selalu merangsang hati kita terhadap kemanusiaan, kehidupan bahkan kepada alam sekeliling. Kehidupan memang adalah jantung dari sastra. Sastra merangsang kita untuk lebih memahami, menghayati kehidupan. Sastra bukan merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada kita, tetapi menampilkannya, mengkonkretkannya.

Meski Sakit di Usia Senja, Karya Tetap Eksis

Karena selama menjelang pensiun MS Hutagalung banyak berkiprah di llingkungan gereja, puisinya banyak becerminkan tentang hidup dan kehidupan yang menjadi renungan yang mendalam kepada yang membacanya. M.S. Hutagalung menempatkan masa lalu dengan optimisme yang penuh semangat. Harus diakui bahwa Hutagalung kini tidak lagi secara cermat mengikuti perjalanan kritik sastra Indonesia, karena matanya sudah rabun. Bahkan kini ia tengah bergulat dengan alat pencuci darah yang terpaksa dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Cairan harus segera dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. “Kita jalani sajalah dengan penuh syukur, apa yang terjadi kini”, kata Aksa Mary Tobing, belahan jiwanya yang setia mendampinginya.

Permata Kehidupan

Dua bulan lalu bersama Astar Siregar teman mahasiswa dan teman seasramanya di Daksinapati, Rawamangun, telah menerbitkan sebuah buku. Di dalam buku antologi puisi berjudul: Permata Kehidupan, Sajak-sajak Lansia bersampul luks ini, MS Hutagalung yang genap berusia 71 tahun 8 desember 2007 ini, menulis 31 judul sajak yang ditulis selama tahun 2007. Maka lahirlah perenungan di dalam relung-relung hati yang amat dalam.

Coba kita simak dalam puisinya berjudul Aku ingin menari seperti daun gugur: Aku ingin seperti daun itu/ menarikan tarian yang paling indah/ Atau menyanyikan sebauah lagu paling merdu/ Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah/ Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup atau “Aku Bergegas dan Tersandung”: yang dengan sederhana tetapi sedemikian rupa sanggup menohok kecendrungan manusiawi dan kefanaan kita. Kemudian kita lihat lagi karyanya dalam judul lain seperti “Kunjungan bunda, Cinta terpendam, Sajak untuk isteriku, Menempuh tahun 2007 dengan merangkak”dan lain-lain. Karyanya seperti berbicara langsung dengan Tuhannya : mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya.

Riris dan Maman Berkomentar

“Kumpulan sajak Permata Kehidupan yang ditulis oleh dua sahabat yang kebetulan pada masa produktifnya adalah pengajar di Universitas Indonesia, bukan hanya memberi pengalaman dan pengetahuan pada pembacanya, tetapi juga sekaligus dapat memberi kelegaan pada penulisnya.” kata Prof. Riris K Toha Sarumpaet, Ph.D dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Membaca sajak-sajak yang longgar namun sungguh dan tulus ciptaan M.S. Hutagalung ibarat membuku buku harian, atau laporan sederhana yang berkisah tentang misalnya dan lain-lain. Seperti berbicara langsung dengan Tuhannya, mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya, sang penyair berkata, “Seperti cuaca musim pancaroba/setiap saat bisa berubah, kalau menghadapi yang begini/Aku ingin kembali ke kelas katekisasi.” Penyesalan, pengakuan, dan penerimaan hidup secara berulang berkelebat dalam sajak sajak M.S. Hutagalung seperti tampak pada sajaknya “Permata dan Kerikil” atau “Ingin Jadi Orang Berhidmat dan lain-lain.” Mesin pencuci darah telah melahirkan pesimisme dalam menatap masa depan. Sesuatu yang sangat manusiawi. Segalanya habis. Tetapi kemudian, spirit istri, doa kerabat dan keteguhan iman, memberi penyadaran, bahwa itulah kehendakNya. Maka dengan kehendak-Nya pula, di depan terhampar kemenangan ; optimisme untuk bertahan, bercinta dengan gereja dan jemaatnya, dan bertegur sapa dengan manusia dan kemanusiaan.

Di hiruk pikuk kemajuan dan keblinger manusia, tidakkah pengucapan serupa ini merupakan pengucapan yang sangat pedih dan dengan cara sederhana sekalipun, mengingatkan dan mendidik kita akan harga sebuah kehidupan? Dengan cara inilah sajak menyapa manusia, dan dengan cara serupa pula penyair melepaskan risau dan gelisahnya, karena tahu dengan komunikasi ini, ia telah mengatakan dan menyuratkan bahkan berbuat sesuatu.

“Renungan tentang masa lalu yang mendominasi puisi M.S. Hutagalung dan tanggapan evaluatif atas kondisi masa kini kerap disampaikan, menjadikan antologi puisi ini seperti menawarkan dua semangat yang berorientasi pada dua masa yang berbeda”, kata Maman S. Mahayana M.Hum, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.” M.S. Hutagalung mencoba menghubungkan masa kini sebagai alat refleksi mengembalikan masa lalu sebagai renungan kontemplatif.

Sementara itu Astar Siregar menempatkan masa kini sebagai alat untuk memaknai posisi kekiniannya sebagai mahluk sosial. Ia begitu perduli pada problem sosial yang seperti memaksanya harus ikut menyuarakan kegelisahannya. Maka ia mencoba memberi penyadaran, betapa pentingnya menatap masa depan dengan gairah cinta kasih dan toleransi” Semangat kesetaraan dan pengagungan yang sejajar pada sesama umat beragama dan sesama manusia, tidak hanya memancarkan élan multikulturalisme dalam lingkup keindonesiaan, tetapi juga diyakini dapat membawa negeri ini pada dua kata kunci : damai dan sejahtera.

Dua minggu lalu, ketika saya besuk di RS. Cikini, penyakitnya semakin berat. M.S. Hutagalung tampak lemah. Wajahnya pucat pasi. Ketika tulisan ini dibuat, Beliau masih tetap dirawat meskipun sudah diijinkan pulang ke rumahnya di bilangan Rawamangun. Cairan infus harus selalu dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. Kiranya Tuhan senantiasa campur tangan dengan kehidupannya kini.


Pantur Silaban

Dari Snellius ke Einstein
SEKALI peristiwa di awal dasawarsa lima puluhan. Seorang murid SMP di Sidikalang terpana pada keterangan guru ilmu alamnya. “Sinar yang masuk dari udara ke dalam air selalu dibelokkan.” Laki-laki remaja itu pun bertanya: mengapa? Tak ada jawaban memadai.
Hukum Snellius mengenai pembiasan itu merupakan pintu masuk bagi Pantur Silaban mencintai fisika. Karena tak ada jawaban jitu dari sang guru, ia pun bernazar akan menggeledah rahasia alam melalui studi fisika di kemudian hari.
Dalam perjalanan ruang-waktu, minat Pantur melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi setelah lulus SMA ikut pula bergerak. Selain mendalami fisika, ia berhasrat pula mempelajari teologi. Meninggalkan Sumatera selepas sekolah lanjutan atas, pria kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 itu mampir di Jakarta membekali diri mengikuti ujian saringan masuk sekolah tinggi teologi. “Anehnya, saya sakit selama di Jakarta mempersiapkan diri masuk ke sana,” katanya. Perjalanan diteruskan ke Bandung. Tujuannya satu: kuliah fisika di ITB. Dia diterima di sana.
Waktu pilih Fisika, tak ada masalah dengan orangtua?
“Ayah saya yang pedagang dan buta huruf hanya mengatakan, Kamu terserah pilih apa“. Kami hanya bisa membantu menyekolahkan. Saran saya ambil bidang yang kamu suka.’ Tak disuruh pilih yang menghasilkan uang sekian,” kata Pantur mengenai kebebasan yang ia peroleh dari ayahnya, Israel Silaban, memilih jurusan.

Orangtua Pantur, pasangan Israel Silaban dan Regina br. Lumbantoruan, adalah pedagang yang berhasil. Pendek cerita, keluarga ini tergolong berada di lingkungan Sidikalang dan sekitarnya.
Dalam tempo enam setengah tahun, waktu optimal pada zaman itu merampungkan kuliah tingkat sarjana, Pantur lulus pada tahun 1964 dan berhak menyandang gelar doktorandus dalam fisika. Ia langsung diterima sebagai anggota staf pengajar Fisika ITB.
Selama kuliah kecenderungannya pada bidang tertentu dalam fisika mulai terbentuk. Pantur amat menggandrungi matematika murni dan mata kuliah yang tergolong dalam kelompok fisika teori, seperti mekanika klasik lanjut, teori medan elektromagnetik, mekanika kuantum, dan teori relativitas Einstein. Maka, ketika datang kesempatan studi lanjut di Amerika Serikat pada tahun 1967, tujuannya sudah jelas. “I go there just for the General Relativity Theory, no other things,” katanya. “Itu yang ada di benak saya waktu itu.”
Siapakah fisikawan yang paling tepat menuntunnya belajar Relativitas Umum Einstein di tingkat doktor? Dan di perguruan tinggi manakah fisikawan-fisikawan itu bermarkas di Amerika Serikat?
Albert Einstein (1879-1955) pada saat itu sudah 12 tahun di alam baka. Tapi, semasa hidupnya ia salah satu pendiri sekolah –semacam fakultas—yang menjadi tempat khusus mempelajari teori gravitasi dan Relativitas Umum Einstein. Sekolah itu berada di bawah Universitas Syracuse, New York dan termasyhur sebagai pusat studi gravitasi dan Relativitas Unum yang pertama dan terkemuka di dunia, bahkan sampai saat ini. Di sana mengajar teman-teman dan murid-murid dekat Einstein, antara lain Peter Gabriel Bergmann. Dia fisikawan pertama yang menulis buku daras tentang Relativitas Umum Einstein.
Karya Bergmann itu, Introduction to the Theory of Relativity, mendapat tempat khusus di kalangan fisikawan teoretis dengan spesialisasi teori gravitasi atau Relativitas Umum. Selain dianggap sebagai salah satu buku babon tentang relativitas, kitab inilah satu-satunya tempat di mana Einstein pernah menulis kata pengantar.
Pantur diterima di sekolah itu. Tentang pentingnya kedudukan sekolah gravitasi Universitas Syracuse itu, Dr. Clifford M. Will dari Universitas Washington di St. Louis seperti dikutip The New York Times (23 Oktober 2002) ketika menurunkan obituari atas Peter G. Bergmann menulis sebagai berikut: “Pada masa-masa akhir 1940an Syracuse adalah tempat yang tepat untuk bekerja dalam Relativitas Umum karena tak ada tempat lain di dunia yang melakukannya.”
Untung baginya sebab Bergmann bersedia menjadi ko-pembimbing untuk disertasinya. Dengan demikian, Pantur merupakan fisikawan Indonesia yang berguru langsung kepada murid dan kolega Einstein dalam Relativitas Umum. Ia merupakan satu dari 32 mahasiswa dari seluruh dunia yang mempelajari Relativitas Umum di Syracuse dengan Bergmann sebagai pembimbing atau ko-pembimbing dalam kurun tahun 1947-1982. Tak salah kalau orang menyebutnya sebagai cucu murid Einstein.
Adapun pembimbing utamanya lebih muda dari Bergmann, tapi juga raksasa dalam Relativitas Umum. Dialah Joshua N. Goldberg. Nama-nama itu terasa Yahudi. Universitas Syracuse memang didominasi oleh orang-orang Yahudi, baik dosen maupun mahasiswanya. Sekali waktu dalam sebuah kuliah, Pantur menggambarkan almamaternya itu dengan lelucon segar yang tentu saja didasarkan pada fakta: “Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di Syracuse. Yang pertama Yahudi, yang kedua adalah orang pintar. You tahu, saya bukan Yahudi.”
Di Syracuse selain mendalami fisika teoretis, Pantur juga menyerap etos belajar dan etos kerja orang-orang Yahudi di sana. Meski inteligensi mereka relatif tinggi-tinggi, mahasiswa-mahasiswa Yahudi menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar kuliah untuk belajar, belajar, dan belajar. Demikian pula dosen-dosennya. Lampu kamar kerja dosen di sana masih benderang sampai pukul sembilan malam. Kerja keras semacam itu plus otak cemerlang barangkali yang menjelaskan betapa orang-orang berdarah Yahudi menempati jumlah terbanyak dalam daftar peraih Nobel Fisika.
Pantur menyerap pola belajar dan pola kerja seperti itu selama kuliah di sana. Tapi, sekali waktu Pantur ada keperluan pulang lebih lekas ke tempat tinggalnya. Tak enak baginya ketahuan pulang lebih awal. “Akhirnya saya terapkan kelihaian yang khas Indonesia,” katanya sambil tersenyum. “Saya biarkan lampu kamar kerja saya menyala, sementara saya pulang ke tempat tinggal saya.”
Tentu perbuatan ini tak berulang. Sebab bila terulang, niscaya Pantur akan kesulitan memenuhi ajakan Goldberg dan Bergmann ikut dalam upaya mendamaikan Teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum demi menemukan Teori Kuantum Gravitasi, teori yang diimpikan semua fisikawan teoretis sedunia, yang memerlukan ketekunan bagi disertasinya. Berbulan-bulan menguantisasi Relativitas Umum supaya akur dengan Medan Kuantum; Pantur, Goldberg, dan Bergmann gagal membidani Teori Kuantum Gravitasi. Fisikawan-fisikawan di Institute for Advanced Studies di Princeton mengingatkan mereka bahwa proyek itu adalah pekerjaan kolektif dalam skala besar yang membutuhkan waktu 25 tahun.
Alih-alih berkeras mendapatkan kuantum gravitasi, akhirnya Pantur mengikuti saran Goldberg. Dengan saran itu, ia pun mengalihkan topik untuk disertasinya: mengamputasi prinsip Relativitas Umum dengan menggunakan Grup Poincare untuk menemukan kuantitas fisis yang kekal dalam radiasi gravitasi. Temuan ini mengukuhkan keberpihakannya kepada Dentuman Besar (Big Bang) sebagai model pembentukan Alam Semesta ketimbang model-model lain.
Pekerjaan itu selesai pada tahun 1971 dan mengukuhkan Pantur Silaban sebagai Ph.D. dengan disertasi berjudul Null Tetrad Formulation of the Equations of Motion in General Relativity. Garis-garis besar mengenai apa yang dicapai dalam disertasinya ini tercantum dalam Dissertation Abstracts International, Volume: 32-10, Seksi: B, halaman: 5963 .
Tiga tahun kemudian Joshua Goldberg—yang banyak menghasilkan risalah penting fisika yang dimuat di jurnal utama seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Journal of Geom. Physics—merujuk pekerjaan Pantur ini dalam risalahnya, Conservation Equations and Equations of Motion in the Null Formalism, yang diterbitkan General Relativity and Gravitation, Volume 5, halaman 183-200. Karya lain yang menjadi rujukan dalam risalah ini adalah dari dua orang mahafisikawan dunia, Hermann Bondi dan Roger Penrose. Jadi, dapatlah ditebak tempat Pantur dalam Relativitas Umum.
Setahun setelah menyelesaikan disertasinya, Pantur kembali di Bandung pada tahun 1972 dan mengajar di Jurusan Fisika ITB. Orang pertama Indonesia yang mendapat doktor dalam Relativitas Umum itu adalah orang Sumatera pertama—tidak sekadar orang Batak pertama—yang mendapat Ph.D. dalam fisika. Sebuah risetnya setelah disertasi ini dimuat di Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian makalahnya mengenai teori gravitasi dan fisika partikel elementer dimuat di berbagai prosidings dalam dan luar negeri. Ya, sebagai seorang fisikawan teoretis, Pantur juga menggumuli fisika partikel elementer.
Beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP) yang didirikan fisikawan Pakistan pemenang Nobel Fisika, Abdus Salam, Pantur selalu mencermati indikasi akan keberhasilan ditemukannya Teori Kuantum Gravitasi. Katanya suatu kali dalam sebuah kolokium di Jurusan Fisika ITB, “Dengan menganggap partikel sebagai titik, upaya menguantumkan Relativitas Umum berhadapan dengan singularitas yang tak bisa dihilangkan.” Itu sebabnya ketika teori string—yakni teori fisika yang menganggap partikel sebagai seutas string, bukan titik sebagaimana diasumsikan sejak zaman Democritus (460-370 SM)—menghangat pada pertengahan 1980an hingga awal 1990an, Pantur menggumulinya dan bekerja untuk mendapatkan Teori Kuantum Gravitasi.
“Timbul pula masalah yang tak kalah besarnya,” katanya. “Kita berhadapan dengan perumusan grup simetri yang parameternya sampai 496. Waduh, payah ini.”
Singkat kata, baik dengan memandang partikel terkecil sebagai titik maupun sebagai seutas tali (string), Teori Kuantum Gravitasi yang didamba-dambakan itu masih saja belum berhasil ditemukan. “Jadi, sebetulnya masih banyak proyek dalam fisika teori,” kata Pantur.
Peran sentral Pantur membangun komunitas fisika teori di Indonesia, yang antara lain beranggotakan fisikawan Hans Jacobus Wospakrik (almarhum) yang adalah muridnya semasa S-1, tidak diragukan lagi. “Sulit membayangkan kehadiran fisika teori di Indonesia tanpa Pak Silaban,” kata Triyanta, mantan ketua Departmen Fisika ITB, yang adalah muridnya dan menyelesaikan Ph.D. dari Universitas Tasmania, Australia dalam fisika teoretis.
Sebagai seorang dosen, Pantur adalah komunikator ulung. Ia hadir di kelas dengan membawa kapur saja sebab, “Setiap kali masuk kelas, seorang dosen harus siap dengan bahan yang akan ia ajarkan, sesulit apa pun kuliah yang ia berikan. Tapi, itu tidak menjamin bahwa setiap pertanyaan mahasiswa bisa kita jawab.” Selalu saja ada ilustrasi-ilustrasi yang mudah dikenang dalam kuliahnya untuk memudahkan mahasiswa menangkap konsep fisika yang rumit-rumit. Yang juga tak pernah ketinggalan dalam setiap kuliahnya adalah humor-humor yang segar dan tampaknya autentik. “Beberapa fisikawan di Maryland pernah menghitung temperatur surga dan neraka dengan menggunakan statistik Boltzman, Bose-Einstein, dan Fermi Dirac,” katanya dalam sebuah kuliah. “Ternyata suhu neraka sedikit lebih rendah daripada suhu surga. Itu sebabnya orang lebih banyak berbuat jahat karena neraka ternyata lebih sejuk.”
Karena referensi dalam bahasa Indonesia untuk fisika teori sangat minim, Pantur Silaban pada tahun 1979 menerbitkan buku daras Teori Grup dalam Fisika. Kemudian ia menerbitkan buku Tensor dan Simetri. Pertengahan 1980an, bekerja sama dengan Penerbit Erlangga, dia menerjemahkan banyak buku daras teknologi mesin, elektroteknik, dan matematika yang dipakai perguruan-perguruan tinggi terbaik dunia.
Pantur Silaban dikukuhkan sebagai guru besar ITB dalam fisika teoretis pada Januari 1995. Ia memasuki masa pensiun per 11 November 2002. Tapi, ketua Jurusan Fisika waktu itu, Pepen Arifin, mempertahankannya untuk terus mengajar. “Kalau Jurusan kekurangan ruang kerja, saya sediakan kamar saya untuk beliau,” kata Freddy P. Zen, ketua Kelompok Bidang Keahlian Fisika Teori ITB memperkuat tawaran Pepen Arifin.
Sebagai penghormatan kepada Pantur yang telah memasuki masa pensiun, murid-muridnya mengadakan Seminar Sehari A Tribute to Prof. P. Silaban pada 20 Februari 2003 di ruang kuliah bersejarah Jurusan Fisika ITB, Ruang 1201. Di sana hadir civitas academica dari Jurusan Fisika dan jurusan-jurusan lain di ITB yang mengenal Pantur dengan baik. Beberapa komentar yang terungkap dalam seminar itu antara lain berasal dari guru besar Matematika ITB, M. Ansjar, dan guru besar Fisika ITB, The Houw Liong.
“Bila suasana akademis di ITB dan Indonesia memadai, bukan tak mungkin Pak Silaban menghasilkan kontribusi yang sangat berarti dalam fisika,” kata M. Ansjar sebagaimana dibacakan Freddy P. Zen.
“Yang selalu saya ingat dari Pak Silaban adalah pernyataannya bahwa segala sesuatu, termasuk ruang dan waktu, akan berakhir,” kata The Houw Liong. “Yang tidak berakhir adalah hukum alam.”
Rektor ITB ketika itu, Kusmayanto Kadiman, dan Ketua Departemen Fisika saat itu, Pepen Arifin, pada 30 Agutus 2004 mendaulat Pantur Silaban menggelar kuliah umum populer Umur Alam Semesta di sebuah ruang kuliah Fisika ITB. Seperti dilaporkan Kompas keesokan harinya, ceramah itu dihadiri sekitar 300 orang dari berbagai kalangan, termasuk mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Panjaitan, geologiman M.T. Zen, Presiden Direktur ESQ Ary Ginanjar Agustian, beberapa orang dari kalangan agamawan, dan beberapa guru SMA.
Dengan mendasarkan perhitungan umur Alam Semesta pada Teori Dentuman Besar, Pantur waktu itu dikutip Kompas mengatakan, “Alam masih miliaran tahun, silakan terus berinvestasi.”
Rupanya laporan surat kabar itu menarik perhatian sebuah keluarga Batak. Tak lama sesudah itu, bertepatan dengan lepas sidi salah satu anaknya, Edward Nababan yang sehari-hari bekerja sebagai salah satu petinggi Perusahaan Jawatan Kereta Api mengundang Pantur Silaban menggelar ceramah fisika di rumahnya di bilangan Jatibening, Jakarta Timur.
Yang menarik, acara yang dimulai sore itu—sebab lepas sidi diadakan di Bandung, lalu keluarga ini langsung menuju Jakarta—diawali dengan ceramah fisika. Inti perayaan lepas sidi bagi putri keluarga Nababan itu adalah ceramah Pantur. Acara adat hanya penyerahan tudu-tudu sipanganon dan dengke, itu pun dilaksanakan setelah acara inti berakhir. Hadir antara lain mantan Eforus HKBP S.A.E. Nababan, aktivis organisasi nonpemerintah abang-beradik Indera Nababan dan Asmara Nababan, Panda Nababan, dan Hotasi Nababan yang sekarang presiden direktur PT Merpati Nusantara Airlines.
TATAP menjumpai fisikawan teoretis ini untuk sebuah wawancara pertengahan Januari lalu di ruang kerjanya di Fisika ITB yang masih seperti dulu: papan tulis penuh dengan relasi-relasi matematis fenomena alam. Suami dari Rugun br. Lumbantoruan, ayah dari empat putri ini—Anna, Ruth, Sarah, dan Mary— serta mertua dari tiga menantu dan kakek empat cucu ini rupanya baru saja kembali dari wisata ke Israel.
“Menantu saya yang orang Swiss itu yang membiayai perjalanan kami,” katanya sambil menjelaskan sedang mempersiapkan buku kuliah untuk beberapa perguruan tinggi di Australia yang tertarik dengan kuliah yang pernah ia berikan di Melbourne beberapa waktu lalu: teori medan kuantum yang diselusuri dari teori Newton. “Rupanya mereka tertarik dengan pendekatan saya ini,” katanya.
Bagaimana minat orang Batak menjadi fisikawan sekarang ini?
Beberapa murid pintar SMA dari kalangan Batak rupanya pernah datang kepadanya ingin belajar serius fisika. “Penghalang mereka jutru orangtua mereka sendiri,” kata Pantur. “Kalau lulus, kamu mau makan apa. Paling jadi guru. Begitu ancaman orangtua mereka. Dari situ kelihatan, profesi guru dilecehkan, padahal yang menentukan maju-tidaknya sebuah bangsa adalah guru.”
Selama orang Batak masih kukuh dengan hamoraon dalam segitiga hasangapon, hamoraon, hagabeon, menurut Pantur Silaban, sulit mengharapkan orang Batak menonjol dalam ilmu-ilmu murni, seperti fisika dan biologi molekuler, dua bidang sains yang masing-masing merupakan primadona ilmu dalam abad 20 dan abad 21.
Menjelang kami berpisah, dalam sesi memotret, Pantur menganjurkan supaya dia dipotret bersama mobil Toyota-Corollla keluaran 1984 itu. “Ini mobil saya yang pertama dan terakhir, tidak akan pernah saya ganti,” kata Pantur seraya mengingatkan bahwa “Einstein selama hidupnya tidak pernah punya mobil.


Notier Simanungkalit

Raja Mars dari Tarutung

Nortier Simanungkalit (GATRA/Rachmat Hidayat)HIDUP Nortier Simanungkalit teratur seperti lagu-lagu mars dan himne ciptaannya. Delapan jam istirahat, delapan jam santai. Sisanya, berkarya. Hasilnya, meski Desember nanti akan memasuki usia 75 tahun, ia masih segar bugar dan menghasilkan lagu. Terakhir, ia menciptakan Mars Pemilu 2004.

Mars dan himne menjadi identitas pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, itu. Pembaca pasti masih ingat denting piano pada intro lagu Senam Kesegaran Jasmani pada 1980-an. Kalau partiturnya masih ada, di bawah judul mars tadi pasti tertulis nama N. Simanungkalit.

Di luar dua komposisi itu, masih ada ratusan, tepatnya 268, komposisi lain yang sudah dihasilkannya. Seluruhnya diciptakan ompung empat cucu itu sejak ia remaja, pada 1950-an. Sayang, pria yang tak punya latar belakang pendidikan khusus musik ini lupa judul mars perdananya.

Tapi untuk debutnya di luar mars dan himne, ia ingat betul. “Sekuntum Bunga di Taman,” kata suami Sri Sugiarti boru Simorangkir itu. Lagu itu berirama pop. Ditulis ketika Simanungkalit baru satu semester menuntut ilmu di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Semangat mencipta lagunya makin menggebu ketika Sekuntum diputar RRI Yogyakarta. Lewat stasiun radio itu pula, guru seni suara sebuah SMA di Yogyakarta (1957-1964) itu mendengar siaran musik klasik kesukaannya. Kalau akhirnya ia lebih terpikat pada mars, tak lain karena menurut dia, “Mars adalah induk seluruh lagu.”

Karya cipta Simanungkalit tersebar sampai ke “negeri Paman Sam”. Lewat Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Palang Merah Amerika memesan sebuah himne dari dia pada 1999. Sebulan penuh dihabiskan Simanungkalit sebelum mendapatkan komposisi yang pas. Untuk keberhasilannya, ia mendapat medali jenis Special Recognition dari Palang Merah Amerika.

Nortier Simanungkalit; Induk Seluruh Lagu (GATRA/Rachmat Hidayat)Itu bukan pengalaman pertamanya dengan negeri Paman Sam. Pada 1972, Simanungkalit pernah bersantap siang dengan Presiden Richard Nixon. Ia berada di Amerika Serikat dalam rangka menjadi juri Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional. Kiprah dosen kor Akademi Musik Indonesia Yogyakarta (1964-1966) itu di pentas internasional tak sebatas menjadi juri. Selama periode 1968-1981, ia menjadi anggota International Music Council UNESCO.

Ada yang tak biasa dari Simanungkalit. Bila biasanya seorang komposer membangun sebuah komposisi lewat alat musik yang dikuasainya, tak demikian dengan komposer yang satu ini. Ia lebih sering membayangkannya terlebih dulu. Lalu nada-nada yang terlintas di kepala dituangkan ke atas secarik kertas. Biasanya, sebagian besar dari komposisi tadi sudah tercipta di luar kepala.

Untuk mendapatkan harmonisasi, atau agar tahu komposisi itu secara utuh, Simanungkalit menggunakan jasa orang lain. Misalnya saat mencipta Mars Pemilu 2004, ia menggunakan jasa seorang pianis di studio Monang Sianipar, Jakarta. “Di situlah kekuatan imajinasi dan seni,” kata bapak tiga anak itu.

Simanungkalit memperhatikan betul keselarasan lirik, yang senantiasa filosofis, dengan lagu ciptaannya. Empat unsur penting selalu diupayakan ada dalam tiap ciptaannya. Yaitu melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kehati-hatian itulah yang membuat penerima penghargaan Lifetime Achievement dari Koalisi Media KPU dan SCTV itu enggan mengikuti lomba bila jurinya bukan maestro musik atau seorang musikolog.

Nortier Simanungkalit (GATRA/Rachmat Hidayat)Sebelum mencipta lagu, mantan anggota MPR-RI (1987-1992) itu selalu menjalani ritualnya: berdoa. “Tuntunlah saya supaya berhasil membahagiakan orang yang menerima lagu ini,” kata Simanungkalit, menirukan doanya. Setelah itu, ia melakukan perenungan. Kadang lirik yang lebih dulu muncul, baru lagu. Kadang sebaliknya. Inspirasi didapatnya dari sembarang tempat.

Ketika membuat mars dan himne SEA Games, yang dipesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua KONI saat itu, ia mendapat idenya di atas bus kota. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat dua lagu sekaligus dalam 30 menit perjalanan. “Lagunya khas Jawa. Laras pelog untuk mars, selendro buat himne,” kata penerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II itu. Mulai pukul dua siang sampai pukul 10 keesokan harinya, Simanungkalit mengutak-atik lagu tadi. “Sampai pegal tangan saya,” katanya.


Tiophan Berndhard Silalahi (DR. TB Silalahi, SH)

Tiopan Bernhard Silalahi dilahirkan di Pematang Siantar pada tanggal 17 April 1938, ditengah-tengah keluarga yang berkecukupan pada saat itu karena Ayahnya adalah seorang supir pibadi seorang Belanda yang menjabat sebagai kepala perkebunan di daerah Sidamanik dan Tiga balata.

Pada umur tiga tahun, keluarga TB Silalahi pindah ke kampung halaman mereka Pagarbatu Balige. Sebagai orang yang berkecukupan, ayahnya mampu membeli bis yang digunakan untuk mencari nafkah. Akan tetapi kebahagiaan itu memudar seiring dengan kedatangan penjajahan Jepang. Disamping itu ayahanda beliau jatuh sakit yang akhirnya meninggal dunia pada saat TB Silalahi berumur 5 tahun.

Selama ayahanda beliau dalam perawatan sampai meninggal, kehidupan TB. Silalahi kecil hidup dalam serba kekurangan karena seluruh harta terpaksa harus dijual untuk membiayai pengobatan ayahanda tercinta ditengah-tengah sulitnya kehidupan pada saat itu. Ibunda tercinta yang sedang mengandung adik bungsunya terpaksa menjadi buruh pemecah batu bagi perintah Jepang yang sedang membuka jalan.

Penderitaan TB. Silalahi kecil berlanjut hingga beliau masuk ke sekolah rakyat yang membuatnya berbeda dengan anak-anak yang lain pada saat itu, beliau terpaksa harus menahan lapar saat menggembalakan kerbau dan memakan harimonting dan serangga untuk sekedar mengganjal perut, tetapi seiring dengan menyerahnya Jepang terhadap Sekutu dan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, kehidupan keluarga TB. Silalahi kecil sedikit membaik karena ibunda tercinta mempunyai kesempatan berdagang beras ke Sumatera Timur khususnya ke Medan, dan sebaliknya membawa barang-barang kelontong dari Medan untuk dijual di Balige. Keluarga TB. Silalahi kecil kembali mengalami penderitaan ketika Ibunda tercinta dirampok oleh pasukan liar di Batu Lubang, seluruh barang dagangannya dirampas berikut uang yang merupakan modal usaha.

Kondisi ini memaksa TB. Silalahi kecil untuk berjuang bersama orangtua dengan membantu berjualan di pasar setiap hari Jumat. Karena tidak mau merepotkan sang ibu TB. Silalahi kecil juga bekerja sebagai penjual es cendol, mencuci mobil, menjadi kacung tenis, mencap kertas rokok untuk sekedar membiayai sekolah dan hidup mandiri, hal itu berlanjut hingga beliau duduk di bangku SMA yang membentuknya menjadi manusia yang berjiwa besar dan mandiri. TB. Silalahi kecil juga dikenal sebagai anak yang hadal atau lebih tepatnya adalah anak yang hiperaktif, berani, dan selalu tampil sebagai pemimpin, beliau tidak takut memasuki daerah-daerah yang diyakini sangat angker oleh penduduk kampungnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, TB. Silalahi berhasil lulus seleksi dan akhirnya mengecap perkuliahan di ITB jurusan Arsitektur, sebuah perguruan tinggi yang sangat terkenal hingga saat ini, beliau terinspirasi oleh Presiden Soekarno yang juga alumni dari Teknik Sipil ITB. Tetapi tersendatnya biaya kuliah karena sulitnya kehidupan di kampung halaman memaksa TB. Silalahi untuk mengubur impiannya menjadi seorang arsitek, tetapi hingga saat ini jiwa arsitek beliau selalu mencul dengan ide-ide yang luar biasa.

Akhirnya ditengah-tengah kesulitan biaya kuliah, Akademi Militer Nasional ( AMN ) di Magelang membuka kesempatan untuk pemuda-pemuda Indonesia untuk mengikuti pendidikan militer, dan TB. Silalahi berhasil lolos seleksi dan menjadi Taruna Militer selama 3 tahun ( 1958 – 1961 ). Sesungguhnya menjadi prajurit adalah cita-cita beliau sejak kecil tetapi pihak keluarga tidak pernah merestui cita-cita tersebut. Setelah menjalani pendidikan di AMN, penugasan demi penugasan dijalani TB. Silalahi. Pengabdian di bidang militer diawali sebagi Danton Yonkav 4 Siliwangi dalam operasi Kamdagri di Jawa Barat (1962),Wadanki dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963-1965) bersamaan dengan operasi Dwikora. Danyonkav 8 Tank Kostrad (1972), ke Timur Tengah sebagai pasukan PBB pada perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir sebagai Camp Commandant UNEF Middle East di Kairo. Dosen Sesko AD (1974), Asops Kasdam XVI Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam IV Diponegoro (1984) dan Asisten Perencanaan dan Anggaran KASAD (1986) dengan pangkat Mayor Jenderal TNI.

Sejalan dengan penugasannya, TB Silalahi memanfaatkan waktunya dengan mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung sampai sarjana muda (1968) dan mendapatkan S1 pada Sekolah tinggi Hukum Militer dengan predikat Cumlaude (1995). Atas prestasinya dalam bidang pemerintahan dan sosial, ia beroleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gregorio Araneta, 8 agustus 1996 di Manila, Filipina. Karir militernya dilanjutkan dengan tugas karya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi (1988). Pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto (1993), Kabinet pembangunan VI, Ia mendapat kepercayaan menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal TNI. Tahun 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat TB Silalahi menjadi penasehat presiden yang kemudian pada tahun 2006 menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan pada tahun 2007 diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dalam bidang pertahanan dan keamanan.



Kenangan indah yang selalu membekas didalam hatinya adalah persaudaraan yang tulus dan tidak pernah putus dengan masyarakat Kabere, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Sewaktu TB Silalahi sebagai Wadanki bersama anak buahnya datang ke desa Kabere, penyambutan seluruh warga sangat hangat. Ia beserta seluruh anak buahnya bertugas selama setahun didesa tersebut dan tinggal di rumah-rumah penduduk. Selama setahun itu pula, mereka diberi makan sehari-hari oleh penduduk sebagai ungkapan rasa terima kasih karena kehadiran tentara menimbulkan rasa aman di desa mereka. Hal yang paling patut dicatat dari hubungan persaudaraan ini adalah pada saat TB Silalahi diangkat menjadi Menteri Pendayagunaan Negara olehPresiden Soeharto. Secara spontan lebih kurang 10o0 orang masyarakat Kabere melakukan sholat syukur untuk pengangkatan tersebut. Acara ini dimuat dalam sebuah koran lokal di Ujung Pandang sehingga diketahui masyarakat umum di Sulawesi Selatan. Oleh masyarakat kabere, TB Silalahi adalah seorang anak sekaligus saudara. Oleh karena itu, TB Silalahi diangkat menjadi warga kehormatan Bugis oleh Masyarakat Kabere.

Menurunnya mutu pendidikan di Bonapasogit, menggerakkan hati TB. Silalahi untuk turut serta bertanggungjawab, bersama teman-teman masa kecilnya (Alumni SMA Soposurung) beliau mendirikan Yayasan Soposurung, berupa sebuah asrama yang menampung siswa/i lulusan SMP yang terpilih melalui seleksi yang ketat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang SMA, setiap tahun 40 orang putra-putri terbaik bonapasogit (sejak 2008 menjadi 80 orang) digembleng mental dan karakternya disamping mengikuti pendidikan formal di sekolah (SMAN 2 Balige). Konsep ini dikenal dengan istilah SMA Plus yang kemudian ditetapkan oleh Presiden Soeharto sebagai sekolah percontohan di seluruh Indonesia. Pekerjaan tidak sia-sia, saat ini ratusan alumni sedang menempuh kuliah diberbagiai perguaruan tinggi terbaik di Indonesia. Juga ratusan alumni sudah bekerja diberbagai bidang pekerjaan, swasta maupun negeri. Dalam maupun luar negeri.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : DR. TB Silalahi, SH
Tempat/Tgl Lahir : Pematang Siantar, 17 April 1938
Pendidikan :
  1. Militer
    1. Akademi Militer Nasional (1958 – 1961)
    2. Kupaltu Kav (setingkat Kursus Dan Ki), lulus terbaik (1965)
    3. Kursus Guru Perang Nuklir Biologi dan Kimia, lulus terbaik (1966)
    4. Suslapa Kav ( Kursus Dan Yon), lulus terbaik
    5. Seskoad (1971-1972)
    6. Defence Management Course, Monterey (USA) (1976)
    7. Sesko ABRI, lulus terbaik (1977)
    8. International Peace Keeping Training, Wina, Austria (1979)
  2. Kepemimpinan Nasional
    Lemhannas KRA XVI, lulus terbaik, Bintang Seroja/Garuda (1983)
  3. Umum
    1. Sarjana Muda Hukum Univ. Padjajaran, Bandung (1966 – 1969)
    2. Executive Program, Stanford University USA, National University of Singapore (1992)
    3. Sarjana Hukum STHM, Jakarta, Cum Laude (1996 - 1997)
    4. Doctor HC, Gregorious ArenataUniversity, Manila dalam bidang Administrasi Negara (1997)
  4. Riwayat Jabatan, antara lain
    1. Dan Yonkav 8/Kostrad (1972)
    2. Camp Commandant UNEF/HQ, Cairo/Mesir (1974)
    3. Dosen Seskoad (1975)
    4. Kasdam VII/Diponegoro (1985)
    5. Asrena Kasad (1986)
    6. Sekjen Departemen Pertambangan dan Energi (1988)
    7. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993 – 1998)
    8. Dosen Senior Lemhannas (2000 – sekarang)
    9. Dosen Tamu SESKO ABRI, SESKOAD, SESKOAL, SESKOAU, SESPIM POLRI (2000-sekarang )
    10. Komisaris Utama di berbagai perusahaan Nasional dan Internasional (1990 – sekarang )
    11. Ketua Dewan Pembina Yayasan Soposurung (1990 – sekarang)
    12. Ketua Dewan Kehormatan Yayasan Pondok Pesantren Tradisional Indonesia dan Yayasan Pengembangan Pondok Pesantren Tradisional Indonesia di Bandung (2004 – sekarang)
    13. Penasehat Khusus Presiden RI (2004 – 2006)
    14. Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah (2006-sekarang)
    15. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Hankam (2006 – sekarang)


Sintong Hamonangan Panjaitan

Mayor Jenderal (Purn) TNI Sintong Hamonangan Panjaitan (lahir di Sumatera Utara, 4 September 1940; umur 69 tahun) adalah seorang purnawirawan TNI lulusan Akademi Militer Nasional (kini Akademi Militer) tahun 1963. Ia menerima 20 perintah operasi/penugasan di dalam dan luar negeri selama karir militernya. Pencopotan jabatannya sebagai pangdam akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, 11 November 1991 banyak dianggap sebagai awal dari kemunduran karirnya di bidang militer sebelum ia menjadi Purnawirawan dengan pangkat Letnan Jendral.

Sintong dilahirkan di Tarutung, sebagai anak ketujuh dari 11 bersaudara. Saudara-saudaranya bernama: Johan Christian, Nelly, Humalatua, Hiras, Erne, Wilem, Tiurma, Dame, Anton dan Emmy. Ayahnya, Simon Luther Panjaitan (sebelumnya bernama Mangiang Panjaitan) adalah seorang Mantri di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (RSU) Semarang. Ibunya, Elina Siahaan adalah puteri dari seorang raja di Aek Nauli, Raja Ompu Joseph Siahaan. Keduanya menikah di Semarang, pada tahun 1925. Minat Sintong pada bidang militer muncul saat berumur tujuh tahun rumahnya terkena bom P-51 Mustang Angkatan Udara Kerajaan Belanda. Sintong mulai memanggul senjata di bangku Sekolah Menengah Atas (1958) saat ia mengikuti latihan kemiliteran 3 bulan yang dilaksanakan gerakan PRRI di bawah pimpinan Kolonel M. Simbolon.

Sintong mulai mencoba memasuki dunia militer saat mencoba melamar masuk Akademi Angkatan Udara di tahun 1959. Saat menunggu hasil lamarannya tadi, Sintong juga mengikuti ujian masuk Akademi Militer Nasional di tahun 1960, dan lulus sebagai bagian dari 117 taruna AMN angkatan V. Sintong lulus dari AMN pada tahun 1963 dengan pangkat Letnan Dua. Selanjutnya ia mengikuti sekolah dasar cabang Infantri di Bandung dan lulus pada tanggal 27 Juni 1964 dan ditempatkan sebagai perwira pertama Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), pasukan elit TNI Angkatan Darat (kini bernama Komando Pasukan Khusus – Kopassus).

Pada periode Agustus 1964-Februari 1965 Sintong menerima perintah operasi tempur peramanya di dalam Operasi Kilat penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sejak Februari 1965, Sintong mengikuti pendidikan dasar komando di Pusat Pendidikan Para Komando AD di Batujajar. Ia memperoleh atribut Komando di Pantai Permisan, 1 Agustus 1965, dan kembali ke Batujajar untuk pendidikan dasar Para dan mengalami 3 kali terjun. Setelah itu ia menerima perintah untuk diterjunkan di Kuching, Serawak, Malaysia Timur sebagai bagian dari Kompi Sukarelawan Pembebasan Kalimantan Utara dalam rangka Konfrontasi Malaysia.

Terjadinya Gerakan 30 September (G30S) membatalkan rencana penerjunan di atas. Sintong sebagai bagian dari Kompi yang berada di bawah pimpinan Lettu Feisal Tanjung kemudian berperan aktif dalam menggagalkan G30S. Sintong memimpin Peleton 1 untuk merebut stasiun / kantor pusat Radio Republik Indonesia (RRI), yang memungkinkan Kapuspen-AD, Brigjen TNI Ibnu Subroto menyiarkan amanat Mayjen TNI Soeharto. Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua di Lubang Buaya. Setelah itu Sintong menerima tugas operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, untuk memimpin Peleton 1 di bawah kompi Tanjung beroperasi memberantas pendukung G30S di Semarang, Demak, Blora, Kudus, Cepu, Salatiga, Boyolali, Yogyakarta hingga lereng timur Gunung Merapi.

Pada tahun 1969 Kapten Feisal Tanjung mengikutsertakan Sintong dalam upaya membujuk kepala-kepala suku di Irian Barat untuk memilih bergabung bersama Indonesia dalam Penentuan Pendapat Rakyat. Berbagai prestasi Sintong di kesatuan khusus TNI-AD ini mengantarkannya ke kursi Komandan Kopassandha di periode 1985-1987, menggantikan Brigjen. Wismoyo Arismunandar.

Keterlibatannya dalam operasi militer di daerah Timor Timur kemudian menjadi salah satu penyebab diangkatnya Sintong menjadi Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana yang mencakup Provinsi Timor Timur. Sintong kemudian dicopot dari jabatannya sebagai pangdam akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, 11 November 1991, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Beberapa pihak menyatakan bahwa peristiwa ini turut mengakhiri karir militer Sintong.[7] Akibat keterlibatannya dalam insiden tersebut ia dituntut pada 1992 oleh keluarga seorang korban jiwa dan divonis, pada 1994, untuk membayar ganti rugi sebanyak total 14 juta dollars AS.

Menristek Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie menunjuk Sintong sebagai penasihat bidang militer di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1994. Sejak saat itu Sintong menjadi penasihat kepercayaan Habibie hingga Habibie menjadi Presiden Indonesia di tahun 1998 dimana Sintong duduk sebagai penasihat Presiden di bidang Militer. Sebuah sumber menyatakan bahwa Habibie berdiskusi secara mendalam dengan Sintong, Jendral Wiranto (Panglima ABRI dan Menhankam) dan Yunus Yosfiah (Menteri Penerangan) sebelum mengijinkan referendum Timor Timur bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan apakah Timor Timur akan tetap bergabung dalam Republik Indonesia atau menjadi negara sendiri.

Buku

Pada Maret 2009, Sintong menerbitkan bukunya yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Buku tersebut menuai kontroversi karena menuduh Prabowo Subianto yang pada Maret 1983 berpangkat kapten hendak melakukan upaya kudeta dengan menculik beberapa perwira tinggi ABRI. Buku yang diterbitkan menjelang Pemilu Legislatif 2009 itu memberikan kredit kepada Luhut Panjaitan yang waktu itu berpangkat mayor yang disebutkan menggagalkan upaya yang mengarah kepada kudeta tersebut.


Saut Hamonangan Sirait

Saut Sirait: Khotbah Panjang dan Berani

Saut Hamonangan Sirait memang bukan selibritis, dan tidak suka entertainment, tetapi di dunia para aktivis sosok ini bukan muka baru. Dia semacam aktor yang selalu dicari wartawan untuk ditanyakan pendapatnya. Apa arti Saut Hamonangan Sirait? William Shakespeare mengatakan, “Apalah arti sebuah nama nama?” Tapi, apa salahnya sekedar bertanya. Barangkali nama memang punya arti. Paling tidak untuk yang memberikan atau yang memilikinya. Saut dalam bahasa Batak berarti “jadi” sedangkan Hamonangan adalah “orang yang selalu menang” dan Sirait adalah marganya.

Sejak masih bayi dia sudah ditempa oleh getirnya kehidupan. Saut kecil, tidak pernah merasakan dekapan seorang ayah, karena saat umur empat bulan, ayahnya meninggal. Praktis sejak kecil dia dididik seorang ibu beserta delapan kakak-kakaknya. Saut Sirait adalah anak siampudan atau anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara. Putra dari pasangan Constan Sirait dan Cornelia boru Marpaung.

Dia lahir di Paparean, Porsea, 24 April 1962. Disanalah dia dibesarkan hingga kelas tiga sekolah dasar. Lalu kelas empat SD hingga kelas dua SMA ditempuhnyanya di Pontianak. Dia ke Pontianak ikut sang Abang tertua yang adalah seorang jaksa yang bertugas di daerah tersebut. Kemudian, dari sana, dia pindah ke Tanjung Karang, Lampung, hingga lulus SMA.

Saut Sirait menikah dengan Agustina Veronica boru Silalahi yang sekarang berusia 35 tahun. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di organisasi Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saut aktivis dan duduk dalam kepengurusan organisasi tersebut. Dia didaulat sebagai senior oleh teman-temannya. Sedangkan Agustina adalah alumni Universitas Brawijaya, Malang, jurusan administrasi negara dan aktif dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Malang. Juga giat di PIKI.

Ada momen yang membahagiakan. Waktu itu, Agustinai menjadi anggota panitia dari pelaksana kongres PIKI. Tak dinyana, dari pertemuan pertama keduanya berteman, berpacaran hingga yang berakhir di pelaminan. Walau terpaut umur yang agak jauh, 13 tahun, tetapi kalau cinta sudah sor tidak ada yang bisa menghalangi. Keduanya sepakat menikah. Dari pernikahan mereka, Tuhan mengaruniakan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. si sulung, Saulina Hariarany Tabita boru Sirait, 8 tahun dan Sampurna Cavin Timoty Sirait, 7 tahun. Keduanya duduk di bangku sekolah dasar.

Sebenarnya, sejak kecil Saut bercita-cita menjadi seorang taruna Akabri. Namun, suratan tangan berkata lain, karena beberapa alasan yang berat hatinya untuk mengatakannya, dia kemudian mengurungkan niat itu dan mendaftar ke Sekolah Tinggi Teologia Jakarta.

Ketika masih duduk di SMA di Tanjung Karang, Saut aktif dalam kepemudaan gereja, dan terpilih menjadi wakil ketua pemuda HKBP Tanjung Karang. Dia juga aktif dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

“Sejak kecil saya bercita-cita masuk Akabri. Itulah sebabnya, sampai saat ini saya hafal pangkat-pangkat, dari perwira terendah hingga tertinggi. Saya sudah siapkan diri, tetapi karena satu hal, saya urungkan niat untuk masuk. Pendeta menjadi pilihan saya, karena sejak di Pontianak saya sudah aktif di gereja sebagai guru sekolah Minggu,” kata Saut mengenang.

Tidak jujur
Jiwa aktivis turun dari sang Abang, Pahotan Sirait, alumni Institut Pertanian Bogor. Pahotan adalah aktivis di tahun 1966. Maka, ketika menjadi mahasiswa, Saut tidak ketinggalan, dia aktif di senat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa STT Jakarta. Di luar kampus, dia jatuh-bangun sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Organisasi ini membuka pintu baginya untuk banyak bergaul dengan aktivis pemuda, seperti Anas Urbaningrum dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Anas ketika itu adalah ketua HMI. Saat ini dia duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Saut kemudian aktif di organisasi gereja, di bawah sayap PGI, sebagai Sekretaris Pokja Pemuda PGI. Pernah pula menjadi Ketua Panitia Nasional Perkemahan Kerja Pemuda PGI (1985-1990). Lalu, Ketua DPP Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), dan DPP Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saat ini dia adalah Sekretaris Ikatan Alumni STT Jakarta.

Untuk apa dia banyak berkecimpung dalam begitu banyak organisasi? Menurut dia, kemajemukan harus juga dipahami sebagai ruang untuk pelbagai kelompok-kelompok, baik itu didasarkan etnis, pola kebudayaan, dan agama. Dari banyak interaksi itulah sikap kritis seseorang dipertajam. Keberbagaian merupakan kenyataan yang harus diterima dan sikap saling-menerima harus dipupuk. Maka, organisasi itu, katanya, adalah jembatan untuk mengenal orang lain.

Saut ikut menjadi salah satu pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) yang terdiri dari 13 organisasi massa pemuda dan mahasiswa. Tahun 1996, dia termasuk salah satu deklarator Komite Independen Pemantau Pemilu bersama-sama Nurcholis Madjid, Goenawan Muhammad, Mulyana Kusumah, Budiman Sudjatmiko.

Tahun 2004-2009, dia aktif dalam Forum Peduli Nusantara. Waktu itu dia diserahi tanggungjawab untuk duduk dalam Presidium dan Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tahun 2002-2007, dia menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Komaruddin Hidayat yang duduk sebagai ketua. Di Panwaslu, Saut bersikap tegas. Dia mengatakan tidak akan berkompromi dengan para pelanggar aturan pemilu. Dan tidak takut melaporkan tindakan politik yang tidak jujur yang dilakukan oleh partai dalam kampaye maupun kaitannya dalam pemilu.

Saat sekarang ini, Saut adalah Ketua DPP Partisipasi Kristen Indonesia, yang disingkat Parkindo. Sudah dua periode dia memangku jabatan itu. “Bagi sebagian orang, Parkindo adalah partai. Ada yang menyebutnya sebagai sayap PDI-Perjuangan, karena pernah dipimpin Sabam Sirait yang notabene adalah fungsionaris PDI-Perjuangan. Padahal, tidak ada hubungannya sama sekali. Parkindo bukan partai,” ujarnya Saut saat menerima TAPIAN di kantor Parkindo, di Jalan Matraman 10, Jakarta, baru-baru ini.

Tahun 1992, Saut ditahbiskan menjadi pendeta Huria Kristen Batak Protestan. Di masa itu, gereja yang terbesar di Asia Tenggara tersebut sedang “ribut.” Dia pun tidak pasif, karena kedudukannya sebagai Direktur Departemen Pemuda di HKBP selama 5 tahun, sejak tahun 1991-1996. Departemen pemuda ini semacam Ansor di Nahdatul Ulama.

Mengapa terjun ke dunia LSM? Tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi, begitu jawabnya. “Pemahaman yang menganggap bahwa ruang duniawi harus dipisahkan dengan yang surgawi adalah salah. Pendeta mengurusi surga sementara aktivis mengurusi dunia. Ini seolah-olah tidak ada hubungan, padahal keduanya saling-tergantung.”

Ketidak-adilan merajalela
Saut menambahkan, tidak mungkin ada roh tanpa pewadahan dalam bentuk tubuh. Dan tidak ada gunanya surga jika tidak ada realitas dunia. Itulah yang disebut interdependesi atau saling-ketergantungan. Pertautan antara hal-hal yang bersifat dunia dan yang bersifat rohani. Itu sama sekali tidak boleh dipisah, katanya.

“Kasus KPK dan Polri sekarang ini menunjukkan kemunafikan kita. Semua mengatakan demi Allah. Tempat-tempat peribahan kita, seperti gereja, masjid, wihara, klenteng semua penuh. Semua dengan antusiasme memuliakan agama dari luar. Tetapi, kenyataanya korupsi dan ketidak-adilan merajalela. Yang salah adalah Senin sampai Sabtu menjadi aktivis, lalu Minggu menjadi pendeta. Keduanya harus jalan bersama. Misalnya, Yesus tidak pernah memisahkan dirinya dengan dunia. Dia datang ke dunia ‘Allah yang menjadi manusia.’ Dia yang terbaik yang disebut reinkarnasi yang masuk ke lorong-lorong kehidupan. Jadi tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi,” kata Saut.

Sang pendeta sekaligus aktivis ini pernah ditembak, tetapi tidak kena. Tidak jera pula, malah makin berani. Menurutnya, sebagai aktivis sudah biasa mengadapi hal demikian. Dipukul, ditangkap, bahkan dipenjara sekali pun adalah hidupnya para aktivis. Maka, kalah adalah juga hidupnya. Sementara menang hanyalah bonus. Jadi mengapa harus takut? Begitu dia bertanya tanpa mengharapkan jawab.

Ada satu peristiwa yang membuat Saut tidak lagi takut menghadapi apa pun, kematian pun tidak. Masa HKBP bergejolak, Saut bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengatur gereja dengan mengangkat seorang “ephorus” puncuk pimpinan tertinggi di HKBP, hanya dengan Surat Keputusan dari Kodam Bukit Barisan. Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun, dari tahun 1992-1998.

Sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP ketika itu, Saut mendeklarasikan perlawanan, dengan mendukung orang yang dizolimi dan terlibat langsung dalam gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). Inilah awal Saut menelusuri lorong-lorong kegelapan HKBP dan sampai pada kesimpulan bahwa pemerintahlah yang mengintervensi HKBP.

“Pemicu utama saya untuk terjun menjadi aktivis adalah ketika kasus seorang panglima Kodam Bukit Barisan mengangkat ’ephorus’ pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui sk-nya. Dari situ mata saya terbelalak melihat betapa selama ini rezim otoriter telah menina-bobokan rakyat, ” ujar pendeta yang menghabiskan masa kecilnya di wilayah pemukiman di lembah Bukit Barisan.

Tahun 1993, masa genting yang dialami HKBP, jemaat yang menentang intervensi pemerintah mendirikan parlape-lapean, semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah. Pada waktu itu Setia Sampai Akhir (SSA) mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Narumonda, Kabupaten Toba-Samosir, yang dihadiri ephorus Dr. SAE Nababan yang diakui SSA.

Saut menggerakkan seluruh “ruas” atau jemaat dari Tarutung, Humbang, Siborongborong, Sigumpar, Laguboti, hingga ke Balige. Di tengah jalan, di Sitoluama, daerah Laguboti, Saut berserta para peserta KKR, dihadang oleh Brimob yang muncul dengan memegang senjata api laras panjang.

Membangkang terhadap penghadangan, Saut memimpin warga untuk melawan. Maka terjadi huru-hara antara Brimob dan ruas SSA. Saut ditembak dari jarak enam meter, tetapi tidak kena. Lalu, dikeroyok sembilan anggota Brimob hingga babak belur, mukanya memar.

“Kejadian itu membuat saya tiba pada titik kulminasi, tidak ada lagi rasa takut. Perasaan takut sudah putus. Saya punya kesimpulan, jika Tuhan izinkan saya ditanggkap atau dipukuli, itu artinya Tuhan memberikan kemampuan kepada saya untuk mengalami semua itu. Tetapi, kalau saya lolos, saya tidak tertembak, itu juga rencana Tuhan,” katanya mencurahkan perasaannya seperti sedang berkhotbah.

Empek-empek Megaria
Sebagai seorang pendeta yang tahu dan merasakan betul dampak yang timbul dari krisis HKBP itu, Saut pun tidak mau berlama-lama pada ketidaknyamanan itu. Dia tampil menjadi salah seorang rekonsiliator.

Saut menjadi Sekretaris Tim Rekonsiliasi Konflik HKBP. Pada akhirnya, tahun 1998, terpilihlah Dr. Jr. Hutauruk sebagai ephorus (1998-2004) yang oleh “Sinode Godang Rekonsiliasi.” Dan inilah akhir dari sejarah kelam HKBP.

Ada lagi cerita yang tak kalah seru. Oleh aktivitasnya di bidang politik, Saut menjadi orang yang masuk daftar merah, daftar pencarian orang (DPO). Tahun 1999, dua truk tentara menyisir seluruh bangunan STT Jakarta, kampus yang membesarkannya sebagai manusia. Ketika itu, Saut mengambil gelar master dalam etika politik. Saut lapar luar biasa. Dia kemudian keluar kampus, pergi mencari empek-empek kesukaannya semasa di Tanjung Karang, terletak di bioskop Megaria, dekat kampusnya.

Setelah melangkah keluar dari bendul kampusnya, dua truk tentara datang mau menangkap Saut yang sudah lama mereka cari. Tak ditemukan. Maka, dosen, staf, dan mahasiswa pun diintrogasi. Yang dicari tidak ada. Akhirnya tentara “mulak balging,” pulang tanpa hasil.

Begitu tentara keluar dari lingkungan kampus, tak berapa lama kemudian, Saut pun kembali tanpa kekurangan satu apa pun. Begitu memasuki pintu kampus, dia melihat semua penghuni kampus keluar. Saut malah bertanya, ada apa? Inilah jalan Tuhan. Semua yang menyaksikan kejadian itu seakan tidak percaya.

Menurut Saut banyak orang yang telah membentuk dan memberikan kekuatan kepadanya dalam berjuang, terutama sahabat-sahabatnya. Dari persahabatan itu dia banyak mengenal manusia. Di antara banyak orang yang memberikan semangat, ada satu sosok yang sangat mempengaruhinya: Moxa Nadeak. Moxa dia kenal semasa aktif di GMKI dan GAMKI. Moxa adalah seniornya di dua organisasi ini. Baginya, Moxa adalah sahabat sekaligus abang, kalau tidak bisa dibilang bapak penganti.

“Dia sudah almarhum. Dialah seorang sahabat. Lebih dari abang kandung saya. Satu yang tidak pernah saya lupakan nasihatnya, kesederhanaan dan idealisme. Kelebihannya adalah keteguhannya dalam prinsip. Dia ditawarkan wakil pemimpin redaksi ’Suara Pembaruan’ ketika muncul kasus ’Sinar Harapan.’ Tetapi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, Moxa tidak menerima tawaran itu.

Menurut dia, Moxa merasa ”Lebih baik saya menjadi seorang reporter asal koran ini dibaca pengambil keputusan di negeri ini, ketimbang saya menjadi wapemred, tetapi koran ini tidak bisa memberikan pengaruh untuk negeri ini.” Jadi, menurut Saut, dari dialah dia belajar mengenai prinsip. Moxa Henry Nadeak meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Senin, 24 Mei 1999.

Sebagaimana mottonya sebagai aktivis, “Kekalahan adalah bagian hidup, sementara kemenangan adalah bonus,” maka Saut mencoba “ruang-ruang” baru yang bisa memberikan kontribusi pada masyarakat luas. Misalnya, ikut mencalonkan diri waktu pemilihan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode tahun 2007-2012. Saut mendaftar.

Namun kalah suara. Dia hanya di peringkat delapan, sedangkan anggota KPU hanya tujuh orang. Demikian juga pada pemilu lalu, Saut maju dalam pemilihan DPD DKI dengan nomor urut 36. Namun, gagal, tidak mendapat suara yang berarti untuk bisa menjadi Dewan Perwakilan Daerah dari pemilihan Jakarta Timur.

Walupun dia terjun ke politik, tetapi ikut partai tidak cocok bagi Saut. Lebih cocok independen. Memang, pernah ikut mendirikan partai PUDI bersama 13 tokoh, namun menurut Saut, ketika dibentuk, PUDI bukan partai yang disiapkan berjuang dalam pemilu. Tetapi, dia didirikan untuk menjatuhkan rezim berkuasa Suharto. Sesudah Suharto tumbang, seharusnya PUDI bubar, dan 12 tokoh sepakat partai tersebut membubarkan diri. Tapi, Sri Bintang Pamungkas, salah satu pendiri PUDI, berkehendak lain. Dia mendirikan PUDI sebagai partai politik yang ingin bertarung dalam pemilu. Hasilnya, semua orang ingat, tidak lolos di KPU.

Apakah gereja bisa berpolitik? Warga gerejalah yang berpolitik. Menurut Saut, harus ada keseimbangan. Ada relevansi nilai-nilai yang dianut dalam agama. “Gereja terlalu lama dalam zona abu-abu. Ada yang menyebut ‘gereja ya gereja, politik ya politik.’ Gereja harus terlibat dalam politik, tetapi mempersiapkan jemaatnya. Organisasi gereja tidak boleh berpolitik apalagi mendirikan partai.” Tegas seperti batu dia berpendirian itu.

Tambahnya lagi, selama gereja apolitis dan umatnya yang apolitis, kita tidak menjadi garam. Gereja memiliki tanggung-jawab politik. Kalau politik menindas dan merusak masyarakat, gereja harus melawan. Jika belajar sejarah gereja, seorang pendeta juga pernah menjadi seorang perdana menteri Belanda (1901-1905), Abraham Kuyper, lulusan sekolah teologia dan seorang pendeta. Sebelumnya, ada juga Jhon Calvin, dia presiden Swiss. Dia menjadikan aparatus gereja, dan juga aparat negara.

Untuk mengasah jiwa kepemimpinannya, Saut mengecap berbagai pengalaman, salah satunya partnership consultation di Dusseldorf pada tahun 1995, pelatihan monitoring pemilu di Bangkok (1996), pemantauan pemilu di Kamboja (1998), serta koordinator KIPP untuk pemantauan jajak pendapat Timor Timur (1999).

Kini, selain pendeta di HKBP Bandung, Saut juga menjadi narasumber pendidikan politik organisasi gereja di PGI. Tahun 1999, dia memperoleh gelar magister teologia di bidang etika politik dari STT Jakarta. Tesisnya tentang politik gereja dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku, diberi judul Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis 21. Buku ini dianggap sebagai buku refrensi untuk memahami politik Kristen di Indonesia.

Almarhum Eka Darmaputera, guru dan seniornya, dalam kata sambutannya untuk buku itu menyebut Saut Sirait berbeda dari dari aktivis kebanyakan. “Saudara Saut Sirait berbeda. Dia mengambil rute yang sebaliknya……Dia mengawali karirnya dari dunia pergerakan, baru kemudianlah dia melanjutkan studi, sampai meraih gelah Strata Dua. Ia, berbeda dengan yang lain, agaknya ingin memberikan pondasi teoritis yang lebih teguh bagi kegiatan-kegiatan perjuangan……Ia tidak mau ternggelam dalam kekenesan akademis, tetapi sebaliknya juga tidak mau terjerat oleh kesibukan aktivisme semata.”


Prof. DR. Drs. Laurence A. Manullang


Teori Akuntansi dengan Pendekatan Peristiwa (Event Approach)
(Kasus Pengungkapan Korupsi)

Oleh:

Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang, MM, SE

Pidato Pengukuhan Guru Besar
Dalam Ilmu Akuntansi
Dalam Sidang Terbuka
Senat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBEK

Kamis, 17 November 2005

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI IBEK

Jakarta @2005

Sidang Senat STIE–IBEK yang saya hormati, para dosen, alumni association, seluruh civitas akademia STIE–IBEK, para tamu, keluarga dan rekan-rekan saya dan para hadirin yang berbahagia.
Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih oleh karena rahmat anugerahnyalah kita bisa melaksanakan kegiatan yang mulia pada hari ini.
Sidang Senat yang saya hormati,
Ijinkanlah saya memulai pidato ini dengan membacakan kutipan kata-kata mutiara dari seseorang yang penuh arif dan bijaksana, dimana kearifannya tersohor kemana-mana, dan semua teman dan musuhnya sangat mengaguminya yaitu Raja Salomo yang juga dikenal Nabi Sulaiman.
Seperti tertulis dalam Amsal 3:13 – 18:
(13) Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, (14) karena keuntungannya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas, (15) ia lebih berharga daripada permata; apapun yang dia inginkan, tidak dapat menyamainya, (16) umur panjang ada ditangan kanannya, ditangan kirinya kekayaan dan kehormatan, (17) jalannya adalah jalan penuh bahagia segala jalannya sejahtera semata-mata, (18) ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang akan disebut berbahagia.
Sidang senat yang saya hormati.
Adapun judul pidato pengukuhan yang saya pilih adalah:

Teori Akuntansi Dengan Pendekatan Peristiwa (Event Approach) – Case Study: Peristiwa Pengungkapan Korupsi KPU oleh KPK

Saya berangkat dari pendekatan dari proses pembentukan teori, pengembangan nalar, pergeseran pradigma, beberapa pendekatan yang telah baku dilakukan pada Teori Akuntansi dan alur pikir sampai pada kesimpulan rekomendasi dan saran.

1. Pendahuluan

Teori Akuntansi dapat didefinisikan sebagai seperangkat koherent prinsip-prinsip yang hipotesis, konseptual dan pragmatis yang membentuk suatu kerangka umum untuk menyelidiki sifat akuntansi (Webster:1961).
Pembentukan suatu teori umumnya berawal dari fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia. Fenomena yang menimbulkan suatu pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Lima pertanyaan dasar dirumuskan menjadi beberapa dimensi, yaitu (a) Dimensi ontologis pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui (knowable), atau apa sebenarnya hakikat dari suatu realitas (reality). Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata (what is nature of reality?). (b) Dimensi epistemologis oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dan object yang ditemukan (know atau knowable?). (c) Dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran-peran nilai-nilai dalam suatu kegiatan penelitian, (d) Dimensi retorika yang dipermasalahkan adalah bahasa yang digunakan dalam penelitian, (e) Dimensi metodologis, seorang ilmuwan harus menjawab pertanyaan: bagaimana cara atau metodologi yang dipakai seseorang dalam menemukan kebenaran? Jawaban terhadap kelima dimensi pertanyaan ini, akan menemukan posisi pradigma ilmu untuk menentukan paradigma apa yang akan dikembangkan seseorang dalam kegiatan keilmuan (Muh. Muslih:2004.93).
Teori harus diekspresikan dalam bentuk bahasa yang baik yang bersifat verbal dan matematis. Teori yang dapat dinyatakan dalam bentuk kata dan simbol, yang disebut dalam filsafat pengetahuan dengan istilah semiology. Semiology terdiri dari 3 unsur teori yaitu (a) Sintektik: Studi tentang tata bahasa atau hubungan antar simbol dengan simbol, (b) Semantik: menunjukkan makna atau hubungan antara kata, tanda atau simbol dengan objek yang ada didunia nyata. Kebenaran nilai atau keakuratan semantik suatu pernyataan ditentukan oleh keakuratan, deskriptif yang ada di dunia nyata. (c) Pragmatis: Hubungan pragmatis menunjukkan pengaruh kata-kata atau simbol terhadap seseorang. Dalam kaitannya dengan akuntansi, aspek pragmatis berkaitan dengan bagaimana konsep dan praktik akuntansi mempengaruhi perilaku seseorang (Anis Chariri, Imam Ghozali:2001:27-29).
Sebagai bahasa komunikasi, Teori Akuntansi telah didefinisikan oleh AICPA (1953) sebagai: Seni (art), mencetak, mengklarifikasikan dan meringkas transaksi atau peristiwa yang dilakukan sedemikian rupa dalam bentuk uang, atau paling sedikit tidak memiliki sifat keuangan dan menginterpretasikan hasilnya.
Penekanan definisi ini adalah pada art bukan sebagai body of knowledge, dalam artian bukan ilmu pengetahuan murni (science).
Kemudian AICPA (1966) mendefinisikan akuntansi itu sebagai: Proses mengidentifikasi, mengukur dan mengkomunikasikan informasi untuk membantu pemakai dalam membuat keputusan atau pertimbangan yang benar.
Definisi diatas menunjukkan bahwa akuntansi merupakan media/alat yang dapat digunakan sebagai informasi pada pemakai. Selanjutnya APB statement No. 4 (1970) menyatakan bahwa: Akuntansi adalah kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas ekonomi, yang diharapkan bermanfaat bagi pengambilan keputusan ekonomi. Teori itu terus dievaluasi dengan menggunakan daya nalar yang berkembang.
Perumusan teori akuntansi timbul karena adanya kebutuhan untuk memberikan logika penalaran tentang apa yang dilakukan oleh akuntansi dan apa yang akan dilakukan oleh Akuntansi.
Kemudian Hendriksen (1982) menawarkan rumusan teori akuntansi sebagai suatu penalaran logis dalam bentuk seperangkat prinsip-prinsip yang saling terkait (coherent) yang bersifat hipotesis, konseptual dan pragmatis yang membentuk kerangka referensi umum, untuk mengevaluasi praktik akuntansi dan memberikan pedoman dalam mengembangkan praktik dan prosedur akuntansi yang baru.
Berbeda dengan ilmu pasti (natural science) dimana teori dikembangkan dari hasil observasi empiris, akuntansi cenderung dikembangkan atas dasar pertimbangan nilai (value judgement) yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat akuntansi diaplikasikan.
Berdasarkan pada kecenderungan ini Chambers (1994:7) berpendapat bahwa akuntansi dikembangkan dari modul spesifik bukannya dikembangkan secara sistematik dari teori yang terstruktur. Selanjutnya Chambers mengemukakan: Akuntansi telah digambarkan sebagai a body of practice yang dikembangkan sebagai tanggapan terhadap kebutuhan praktik bukannya dikembangkan dari pemikiran yang sistematik dan terencana.
Teori akuntansi telah dikembangkan namun tidak satupun dari teori-teori tersebut yang mampu secara tuntas dan menyeluruh tentang apa yang dinamakan teori akuntansi. Belkaoui (1993:56) mengatakan: bahwa sampai saat ini tidak ada teori akuntansi yang bersifat komprehensif. Teori yang sekarang muncul dari pemakaian pendekatan yang berbeda, bukannya dihasilkan dari satu teori tunggal yang komprehensif.
Seperti Komite American Accounting Association (AAA,1977:1-2) telah mengadakan konfirmasi mengenai pendapat ini, dengan menandaskan tidak ada teori akuntansi tunggal yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan pemakai. Yang ada dalam literatur akuntansi keuangan bukanlah teori akuntansi, tetapi koleksi teori yang digambarkan sesuai dengan perbedaan pemakainya.

2. Perumusan Teori Akuntansi
Teori akuntansi ini dapat dirumuskan berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Sofyan S. Harahap (2001:116) telah mengembangkan penjelasan Belkaoui tentang perumusan teori akuntansi dengan dibagi dalam 2 (dua/segmentasi yaitu Pendekatan Informal dan Pendekatan Teoritis).
A. Pendekatan Informal. 1) Pragmatis, Praktis dan non teoritis, 2) Otoriter.
B. Pendekatan Teoritis, terdiri dari: 1) Deduktif, 2) Induktif, 3) Etika, 4) Sosiologis, 5) Ekonomi, 6) Eklektik

Ad.A. 1). Pendekatan non-teoritis.
Menurut pendekatan ini prinsip akuntansi yang dipakai adalah didasarkan pada kegunaannya bagi para pemakai laporan keuangan dan relevansinya dengan proses pengambilan keputusan. 2) Pendekatan Otoriter. Perumusan teori akuntansi adalah organisasi profesi yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur praktik akuntansi.

Ad.B. 1). Deduktif
Langkah yang digunakan dalam merumuskan teori akuntansi, adalah:
1) Menentukan tujuan pelaporan keuangan. 2) Memilih postulate akuntansi sesuai dengan kondisi ekonomi, praktik dan sosiologi. 3) Menentukan prinsip akuntansi. 4) Mengembangkan teori akuntansi.
Keuntungan pendekatan deduktif adalah kemampuan untuk merumuskan struktur teori yang konsisten, terkoordinasi, lengkap dan setiap tahapan berjalan secara logis. Jika dalam pengujian teori ini diterima dalam praktik, maka teori itu verified, dan jika tidak diterima disebut fasified. Model yang dihasilkan dari pendekatan deduktif dapat digunakan sebagai standart dalam mengevaluasi induktif berbagai praktik akuntansi (Salomouson:1969).

2). Induktif: Proses penalaran yang menggunakan pendekatan induktif didasarkan pada konklusi yang digeneralisasikan berdasarkan hasil observasi dan pengukuran yang terinci. a) Mengumpulkan semua observasi. b) Analisis dan golongan informasi berdasarkan hubungan yang berulang-ulang dan sejenis, seragam, mirip. c) Ditarik kesimpulan umum dan prinsip akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang-ulang tadi. d) Kesimpulan umum diuji kebenarannya.
Beberapa pemikiran berkembang seperti Moonitz (1961) menyatakan bahwa observasi terhadap data akuntansi kelihatannya lebih tepat dengan menggunakan induktif. Schrader (1962:645) mendukung gagasan itu dengan statement bahwa perumusan teori akuntansi dapat dilakukan secara induktif dengan cara mengobservasi dalam keuangan yang dihasilkan dari transaksi bisnis. Littleton (1953) menyatakan bahwa prinsip akuntansi dapat dihasilkan secara induktif dengan melakukan pengujian empiris terhadap kegiatan akuntansi.
3). Pendekatan Etika. Pendekatan etika didasarkan pada konsep kebenaran (truth), keadilan (justice) dan kewajaran (fairness). Disajikan kebenaran dalam arti laporan yang benar dan akurat tanpa mengundang salah tafsir dan kewajaran dalam arti penyajiannya wajar, tidak bias dan tidak sebagian-sebagian. 4). Pendekatan Sosiologi: Socio responsibility accounting yang dicoba untuk dikembangkan, bertujuan untuk mendorong perusahaan akuntabel kegiatan usahanya pada lingkungan sosial melalui pengukuran, interudiksi dan pengungkapan dampak sosial dari kegiatan perusahaan dalam laporan keuangan.
5). Pendekatan Ekonomi: a) Teknik dan kebijaksanaan akuntansi harus dapat menggambarkan realitas ekonomi. b) Pilihan terhadap teknik akuntansi harus tergantung pada konsekuensi ekonomis.
6). Pendekatan Eklektik. Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya suatu pengetahuan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan maka disebut eklektik. Pengetahuan mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal yakni pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Sebab kedua, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu secara garis besar cara berpikir seperti itu disebut penalaran (reasoning power).
Penalaran adalah merupakan suatu proses berpikir dalam menarik satu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses berfikirnya. Disamping itu masih ada ciri lain manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan Jakni; wahyu (Yujun S. Sumantri:2005:40-41).
Seiring dengan proses peradaban global yang mengalami 4 era, yaitu gelombang I dikenal sebagai era agriculture dimana Alvin Toffler menyebut gelombang ini merupakan peradaban global dan merupakan langkah signifikan dalam penanjakan perkembangan manusia serta bagian dari revolusi biologis, disusul oleh gelombang II yaitu era industri ditandai oleh konsep waktu yang tegas yang menuntut produktifitas yang efisien, era ke-3 (gelombang 3) disebut juga sebagai era informatika ditandai dengan ketelitian serta kecermatan dan dibarengi kecenderungan materialistis, persaingan yang kurang sehat karena berambisi saling menaklukkan. Namun dalam era ke-4 (gelombang ke-4) yaitu respritualisasi masyarakat yang mengedepankan pentingnya refleksi batin yang mendalam (a deep inner reflection) dan sering dibarengi oleh cooperation, dan competition tidak lagi mentoleransikan keserakahan (greedness) (Meyerand et. al. 1997), ternyata wawasan pemikiran berubah, bukan rasio dan logika saja yang menjadi landasan intelektual, melainkan juga inspirasi, kreativitas, moral, instituism (C. Semiawan. et. al. 2005), dan juga needs (kebutuhan)–(Manullang–2005).
Selaras dengan perkembangan era atau gelombang ini, teori akuntansi mengalami gelombang sesuai dengan needs dengan munculnya, a) Teori Pemilikan, menfokuskan analisa kekayaan neto pemilik, dengan rumus persamaan:
Asset (A) – Liabilities (L) = Equity (E).
Aktiva dinilai dan neraca disusun agar dapat mengukur perubahan hak milik dan kekayaan. Teori ini mengantar pada suatu kesimpulan apakah badan usaha itu memiliki Asset lebih dari Liabilities (negative asset). b) Teori Kesatuan, melihat bukan pemilik yang menjadi pusat perhatian tetapi satuan usahalah yang menjadi fokus konsentrasi, dengan persamaan:
A = L + E
Ini adalah yang diterapkan dalam konglomerasi Indonesia pada saat-saat awan kelabu membayangi perekonomian Indonesia. Sebab dibandingkan dengan teori pemilikan A – L = E, dapat dilihat perbedaan antara bumi dan langit.
Sebagai contoh: Konglomerasi memiliki Asset+Rp.100 m, dan Liabilities–Rp.200 m, maka Equitynya menjadi negatif Rp.100,- Bila dikembangkan pada kedua persamaan diatas, akan terlihat sbb:
I : A – L = E II : A = L + E
100 – 200 = -100 100 = 200 – 100
Dari persamaan diatas berdasarkan teori kepemilikan, maka konglomerasi itu sudah berada dalam posisi bangkrut, dan sebaiknya dibubarkan saja, sebab Equitynya cerminan milik bersih badan usaha itu menunjuk negatif Rp.100 m. Sebaliknya dengan memiliki teori kesatuan, fokus perhatian ditujukan pada Asset. Konglomerasi itu memiliki Asset Rp.100 m, tatkala badan usaha itu memohon suntikan dana dari bank, bank melihat wajar diberikan suntikan dana.
Pemilihan kedua teori ini mana yang akan diterapkan akan menghasilkan keputusan yang berbeda karena memakai map yang berbeda. Konglomerat hitam berkolaborasi dengan pihak bank dan kekuasaan menggunakan teori Kesatuan yang menjadi cikal bakal kehancuran sistim perbankan nasional. c) Teori dana: Dasar akuntansi bukanlah pemilik atau, satuan tetapi sekelompok Asset dan kewajiban-kewajiban yang bersangkutan serta batas-batasan yang mengatur pemakaian aktivalah yang menjadi dasar akuntansi.
Seperti Achmed Belkaoui, Terjemahan Erwan Dukat, dkk (1986) merumuskan teori dana mengatakan setiap dana yang berimbang menyebabkan pemisahan laporannya melalui pemisahan sistem akuntansi. Artinya jumlah dana yang dipergunakan oleh setiap lembaga yang bertujuan tidak untuk keuntungan akan tergantung kepada jumlah dan bentuk aktivitasnya sedang penggunaan aktiva yang dipercayakan kepadanya akan dibatasi oleh peraturan hukum.
Delapan macam dana (account) disarankan untuk ditetapkan pada pemerintahan yaitu:
(1). The General Fund, mengakun seluruh transaksi keuangan yang tidak tepat kalau di akun dengan dana yang lain. (2) Special Revenue Fund, mengakun hasil sumber penghasilan khusus (selain dari pembebanan khusus) atau membiayai aktivitas khusus sebagaimana yang dipersyaratkan hukum atau aturan administratif. (3) Debt Service Fund, mengakun pembayaran bunga dan pelunasan pokok pinjaman hutang jangka panjang selain pembebanan khusus dan obligasi berpenghasilan. (4). Capital Project Fund, mengakun penerimaan dan pengeluaran uang yang dipergunakan untuk pemberian fasilitas modal selain dari yang dibiayai oleh pembebanan khusus dan enterprise funds. (5), Enterprise Funds, mengakun pembiayaan pelayanan masyarakat umum yang seluruhnya atau sebagian terbesar dari biaya yang bersangkutan dibayar dalam bentuk beban-beban oleh para pemakai pelayanan tersebut. (6) Trust and Agency Funds, mengakun aktiva yang ditahan oleh suatu satuan pemerintah sebagai wali atau agen bagi perseorangan, organisasi swasta, dan satuan pemerintah lainnya. (7) Intragovernmental Service Funds, mengakun pembiayaan aktifitas khusus dan pelayanan khusus yang dilaksanakan oleh suatu satuan organisasi yang ditunjuk didalam daerah kekuasaan hukum suatu pemerintah bagi satuan organisasi lain yang masih berada dalam daerah kekuasaan hukum pemerintah yang sama. (8) Special Assessment Fund, mengakun pembebanan-pembebanan khusus yang dipungut untuk membiayai pelayanan umum atau perbaikan umum yang dipertimbangkan bermanfaat bagi kekayaan yang dipungut beban. (Belkaoui:1986)

Sifat-sifat Akuntansi

Teori Akuntansi ini yang rentan pada akomodasi dari multi lingkungan strategis, tetapi lembaga profesi telah berhasil untuk menformulasikan sifat-sifat dasar akuntansi itu, baik sebagai teori mampu–applikasinya, yaitu:
(1). Conservatism. Karena lingkungan mengandung aspek ketidakpastian (uncertainty), maka pencatatan transaksi dipilih angka yang paling rendah. Misalnya pendapatan belum bisa dicatat sebagai pendapatan apabila belum direalisasikan walaupun sudah ada gambaran yang mengandung kepastian bahwa bakal terjadi pendapatan, sedang biaya dapat dicatat sebagai biaya walaupun belum direlasir. (2) Measurement. Harus dapat diukur, dan alat pengukurnya jelas. (3) Verifiability. Harus dapat ditelusuri dan diuji sampai ke bukti-bukti pendukung dan sah. (4) Timeliness. Laporan keuangan harus bisa menyuguhkan period dan cut off date. (5) Consistency. Sistem dan metode yang digunakan harus konsisten dari waktu ke waktu. (6) Going concern. Memahami laporan akuntansi itu harus dengan asumsi bahwa entity akan terus beroperasi dengan berkesinambungan. (7) Materiality. Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting dan signifikan. (8) Netral. Akuntansi itu tidak memihak kecuali pada prinsip akuntansi sendiri. (9) Relevance. Relevan yang memiliki nilai prediktif. (10). Reliability. Dapat dipercaya kebenarannya. (11) Comparability. Dapat dibandingkan. (12) Predictivity. Dapat digunakan untuk meramalkan dan mengakomodasi trend yang bakal terjadi berdasarkan pengembangan asumsi-asumsi yang dapat dikembangkan oleh nalar dan analitikal, serta berdasarkan logika yang rationalistis.

FASB telah membangun pohon hierarchi, sbb:

OBJECTIVES
Provide information
1.Useful in investment
and credit decisions
2.Useful in assessing
future cash flows
3.About enterprise resources,
to resources, and changes
in them

QUALITATIVE
CHARACTERISTICS ELEMENTS
1.Primary qualities
A.Relevance 1.Assets
1.Productive value 2.Liabilities
2.Productive value 3.Equity
3.Timeliness 4.Investment by Owners
B.Reliability 5.Distribution to Owners
1. Verifiability 6.Comprehensive Income
2. Neutrality 7.Revenues
2.Secondary 8.Expenses
qualities 9.Gains
A.Comparability 10.Losses
B.Consistency

ASSUMPTIONS PRINCIPLES COSTRAINTS THIRD
1.Economic Entitiy 1.Historical cost 1.Cost-benefit LEVEL
2.Going concern 2.Revenue recognition 2.Materiality
3.Monetary unit 3.Matching 3.Industry practice
4.Periodicity 4.Full disclosure 4.Conservatism

Hierarchi Accounting Konseptual and Frame. FASB

Pendekatan Peristiwa
1. Alur Pikir
Pendekatan demi pendekatan telah diuraikan diatas dan tercantum dalam semua buku-buku teori akuntansi secara universal. Namun, sebuah pendekatan yang dapat dimasukkan menambah pendekatan yang diatas ialah pendekatan peristiwa (event approach). Beberapa literatur telah diterbitkan dengan judul Event Approach, tapi belum dimasukkan pendekatan peristiwa tersebut secara baku dalam teori akuntansi.
Dalam pidato pengukuhan ini, sorotan akan lebih dipertajam tentang pendekatan ini sebagai kontribusi ilmiah pada teori akuntansi. Adapun yang mengilhami pemikiran ini adalah pendapat Gulielmo Ferrero yang menyatakan:
“Teori yang memberi nilai dan signifikansi pada fakta-fakta, seringkali sangat bermanfaat sekalipun jika sebagian teori itu salah, karena teori itu menyoroti fenomena yang belum pernah diamati siapapun, teori ini mendorong dilakukannya pemeriksaan, baik sudut, atas faktor-faktor yang belum pernah diteliti atau dikembangkan lebih meluas oleh siapapun sampai sekarang ini, dan teori itu menumbuhkan minat untuk melakukan riset-riset yang lebih ekstensif dan lebih produktif”. (Gulielmo Ferrero:1956)
Struktur pengetahuan ilmiah

Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai pernyataan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada. Sekiranya pengetahuan ilmiah itu kemudian dinyatakan salah oleh kelengahan dalam perjalanan prosesnya, maka pengetahuan itu akan sendirinya tersesat.
Tidaklah benar asumsi bahwa ilmu hanya dikembangkan oleh innovator yang genius seperti Einstein, Newton, dll, akan tetapi ilmu itu adalah secara kuantitatif dikembangkan oleh masyarakat.
Pengetahuan ilmiah itu pada dasarnya mempunyai 3 fungsi yaitu, Tantum, Possumus, Quantum Scimus (Francis Bacon) yaitu menjelaskan, meramalkan dan mengontrol.
Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan tentang ilmu yaitu: 1) Deduktif, 2) Probabilistik, 3) Fungsional atau Teologis dan 4) Genetik (Nagel:1961:20–26). Penjelasan deduktif mempergunakan cara berfikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya, probabilistik merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan penjelasan yang bersifat seperti “kemungkinan”, kemungkinan besar atau “hampir” dapat dipastikan, sedangkan fungsional atau teleologis merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu, sedang genetik mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian (Suriasumantri:2005). Kemudian untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain. Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial dan baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Tanpa itu, maka matematika hanya merupakan kesimpulan rumus yang mati (North). Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif.
Para pelopor statistika telah mengembangkan theory of error (Abraham Demoivra) dimana konsep sering dikaitkan dengan distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Teknik kuadrat terkecil (least squares) simpangan baku, standard error of the mean dikembangkan Karl Friedrich Gaus (1777–1855), dan Ronald Plylmer Fisher (1880–1962) disamping analysis variance dan covariant, distribusi z, distribusi t, uji signifikan dan theory of estimation. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun experimen, dilakukan dengan cermat dan teliti.
Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat faktual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan panca indera, maupun dengan menggunakan alat-alat membantu panca indera tersebut (Kneller:1964). Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Pengujian mengharuskan kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Kesimpulan mana berdasarkan logika induktif. Dipihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan pula yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan menggunakan deduksi. Kedua penarikan itu tidak bisa dicampur adukkan. Logika deduktif berpaling pada matematika, sedang logika induktif berpaling kepada statistika. (Suriasumantri:2005)
Para pengamat mengedepankan argumentasinya berdasarkan pengamatannya, seperti: Logika induktif dibenarkan oleh (Chalmers:1978), sedang Karl Popper tidak puas lalu memperkenalkan Falsificationism yang menyatakan bahwa tujuan penelitian ilmiah adalah membuktikan kesalahan (falsify) hipotesis, bukannya membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Selanjutnya Thomas Kuhn (1972) yang terkenal dengan pradigma dan revolusinya, menyatakan bahwa kemajuan pengetahuan bukan merupakan hasil evolusi seperti dianut oleh induktivisme dan falsifikasinisme. Kemajuan pengetahuan adalah merupakan hasil revolusi. Teori ini dapat diganti dengan teori lain yang tidak cocok dengan teori tersebut. Kemajuan pengetahuan merupakan kemajuan-kemajuan yang berakhir terbuka (open-ended progress).
Didalam akuntansi revolusi Kuhn hanya digunakan sebagai metode scientific dalam proyek riset. Wells (1976), Belkaoui (1981,1985) telah menggunakannya menggambarkan bahwa akuntansi sebagai multi-paradigm science. Namun banyak peneliti menganggap inducitivist interpretation merupakan filsafat ilmu yang relevan untuk akuntansi, karena peneliti merumuskan hipotesis dan berusaha membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.
Argumentasi terbuka makin berkembang, sampai Wells (1976) dan Flamholtz (1979) berpendapat bahwa revolusi Kuhn sangat relevan untuk digunakan dalam memahami perkembangan akuntansi saat ini. Sebab Kuhn menyatakan bahwa revolusi science terjadi dalam lima tahap, yaitu: (1) Akumulasi anomali, (2) Periode krisis, (3) Perkembangan dan perdebatan alternatif ide, (4) Identifikasi alternatif dari pelbagai pandangan, (5) Pradigma baru yang mendunia.

Pendekatan Peristiwa (Event Approach)
2. Analisis
A) Yang dimaksud dengan pendekatan peristiwa (event approach) adalah untaian kejadian yang diumumkan (published) terexpose secara nasional.
Pengujian pengendalian yang menguji apakah kejadian dipublikasikan berpengaruh signifikan terhadap peranan akuntansi dalam segmentasi pengendalian dan pemeriksaan. Sama halnya pengujian terhadap informasi untuk menguji pasar modal dalam bentuk setengah kuat, apakah berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
Seperti Timbul tahun 2004 telah berhasil mengadakan penelitian dan merampungkannya dalam format disertasi tentang Efisiensi Pasar Modal Indonesia Menggunakan Pendekatan Multi-Event Sosial, Politik & Ekonomi. Timbul menganalisa 51 peristiwa terdiri dari 28 peristiwa sosial politik, 6 peristiwa itu dikategorikan sebagai good news, dan 22 bad news, dan 23 peristiwa ekonomi terdiri dari 14 good news dan 9 bad news.
B). Dengan meneliti pengaruhnya terhadap 85.5% jumlah saham yang beredar di BEJ, dan 80.04% kapitalisasi yang direpresentasikan oleh 46 perusahaan go public yang terdaftar di BEJ, Timbul menemukan bahwa pasar dengan cepat mengadakan reaksi secara signifikan positif dan negatif, dan beliau menemukan: bahwa Pasar Modal Indonesia disebut efisien, sesuai dengan teori yang mengatakan: “Jika pasar bereaksi cepat dan akurat dan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia dan relevan yang dipublikasikan, maka pasar seperti itu disebut efisien”.
Yang menarik dari hasil penelitian itu dapat ditemukan adalah implikasi ilmiahnya yaitu: bahwa tidak seluruhnya event good news menghasilkan abnormal return positif dan bad news menghasilkan abnormal return negatif. C). Karena disegmen sosial politik 5 (lima) peristiwa good news menghasilkan abnormal return negatif dan 2 (dua) bad news menghasilkan positive abnormal return, sedang disegmen ekonomi, 3 (tiga) peristiwa good news menghasilkan abnormal return negatif. Temuan ini sekaligus menggugat teori yang telah mendominasi pasar modal selama ini, yang menyimpulkan bahwa peristiwa good news akan menghasilkan abnormal return positif dan bad news menghasilkan abnormal return negatif.
Pendekatan kejadian ditetapkan pertama kali dengan tegas setelah suatu perbedaan pendapat diantara para anggota Komite The American Accounting Association yang menerbitkan Statement of Basic Accounting Theory tahun 1966. Sebagian besar anggota komite menyenangi pendekatan nilai terhadap akuntansi, hanya seorang anggota, Profesor Ilmu Akuntansi bernama George Sortev, mempertahankan pendekatan kejadian. Selanjutnya pendekatan kejadian mengusulkan bahwa tujuan akuntansi adalah memberikan informasi tentang kejadian ekonomi yang relevan yang dapat dimanfaatkan dalam pelbagai kemungkinan model-model keputusan. (Belkaoui/ Dukat:1986:44)
Pendekatan peristiwa (event approach) dalam pidato ini tidak seluruhnya sama dengan pendekatan yang diusulkan oleh George Sortev tahun 1966, sebab dalam usulnya itu , kecenderungan dapat dilihat kepada pendekatan nilai.
Pendekatan peristiwa ini adalah pendekatan peristiwa yang dipublikasikan seperti yang terungkap atas peristiwa penyogokan KPU atas BPK 8 April 2005 yang lalu.

Korupsi di Indonesia–Kasus Peristiwa–dalam Pendekatan
Peristiwa
Korupsi telah menjadi bagian dari hidup bangsa Indonesia. Walaupun tiap Ramadhan Masjid ramai, tiap tahun sekitar 200.000 warga Indonesia menjalankan ibadah haji. Gereja-gerejapun umumnya ramai dikunjungi umat Kristiani, begitu pula tempat ibadah lainnya. Oleh karena itu sering menyatakan diri sebagai bangsa yang religius. Namun, sebaliknya, negara kita di kawasan Asia dan dunia termasuk negara terkorup. Inilah satu dari sekian banyak paradoks bangsa kita (Salahuddin Wahid:2005).
Praktik korupsi di negara ini telah amat parah. Hasil penelitian Transparancy International tahun lalu menunjukkan menjadi negara kelima terkorup di dunia. Aturan-aturan perundang-undangan yang dibuat elite politik dan kekuasaan pada level manapun (Legislatif, Judikatif, Eksekutif) berubah menjadi strategi koruptif (Aloys Budi Purnomo:2005).
Undang-undang dan peraturan telah diterbitkan dan dihunjuk orang-orang sekaliber M. Hatta dan Jenderal A. H. Nasution dengan operasi budinya, namun korupsi tidak juga mereda malah berkembang di Indonesia.
Demokrasi di Indonesia telah diperkenalkan namun yang berhasil dalam demokratisasi baru korupsi. Rupanya demokrasi bukanlah suatu indikator bisa menghapuskan korupsi. Korupsi nampaknya berkorelasi dengan percepatan demokrasi. Dalam laporan Corruption Perception Index (CPI-1998) sejumlah negara demokratis di Asia tercatat sebagai negara korupsinya tinggi, misalnya Phillipina (urutan 57), Thailand (64), India (68), Indonesia (80) tingkat korupsinya tinggi. Sebaliknya negara yang tergolong berada dalam level demokrasi rendah, justru tingkat korupsinya rendah, seperti Singapura (7), Malaysia (29) dan China (52). Hanya satu negara di Asia dengan tingkat demokrasinya tinggi, tingkat korupsinya rendah (25) yaitu Jepang. Sedang negara-negara yang memproklamirkan diri sebagai negara demokratis tinggi seperti Amerika Serikat, tingkat korupsinya rendah (18), Inggris (13) dan Belanda (8). (Indria Piliang: 2005)
Dalam iklim korupsi dan kolusi yang sudah sedemikian sistimik dan endemik, terlalu sulit mencari calon pejabat yang steril dan terkontaminasi penyakit KKN di negeri ini. Karena itu Kompas menurunkan karikaturnya menggambarkan, bahwa bangsa ini hidup dalam Republik Maling (Kompas, 26.2.2005). salah satu perwujudannya adalah banyaknya isu mark–up yang dilakukan dalam penyusunan anggaran belanja negara/baik di tingkat pusat dan daerah. (J. Kristiadi:2005) Pemberitaan korupsi secara gencar diberitakan mass–media, tetapi koruptor jarang ditemukan di Indonesia, karena tatkala yang tersangka koruptor diadukan ke pengadilan apa yang terjadi hakim sering memutuskan para terdakwa di vonnis bebas.
Korupsi adalah kesalahan besar yang banyak terjadi ditengah kehidupan bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, namun mengapa sehingga bangsa Indonesia masih terus melakukan korupsi? Salah satu penyebab mendasar adalah bangsa Indonesia belum benar-benar mau belajar dari fakta-fakta pengalaman besar korupsi masa lampau. Fakta-fakta itu bukan diungkapkan sehingga bisa dijadikan pengalaman belajar baru yang memperbaiki pola pikir dan perilaku, tapi perlu ditutupi, direspress, dan dipaksakan untuk dilupakan (Satjipto Rahardjo:2005:12)
Dalam kerahasiaan dan untuk terus ditutupi, seperti pada pengaruh zaman VOC para pejabat publik merasa tidak mempunyai akuntabel moral dengan masyarakat. Birokrasi melihat diri sebagai ruling class yang secara hierarkis lebih tinggi dari masyarakat. Konsekuensinya apa yang mereka renungkan sebagai kepentingan Pemerintah boleh jadi tidak urusannya dengan kemaslahatan publik. Para pejabat mempunyai sejenis privasi yang tidak dapat dikorbankan meski untuk melindungi koruptornya lebih besar. Dengan mentalitas ini, pejabat publik tidak merasa perlu membuka diri dan memberi akses informasi kepada masyarakat. (Agus Sudibyo:2005)
Bangsa Indonesia dipaksa untuk jadi bangsa amnestik. Betapa tidak normalnya manusia yang mengalami amnesia retigrad. Dia seolah hidup tanpa kaitan sama sekali dengan deret fakta pengalaman masa lampau dan tidak bisa lagi belajar atau memetik hikmah dari fakta-fakta pengalaman itu. Betapa tidak normalnya bangsa Indonesia jika hamparan luas insan yang terangkum didalamnya dipaksa untuk melupakan fakta-fakta besar pengalaman korupsi yang terjadi pada kurun kehidupan mereka sebelum Desember 2002, dan hanya boleh mengingat pengalaman korupsi setelah Desember 2002. (Limas Sutanto:2005)
Disamping itu, aturan-aturan perundang-undangan yang dibuat elite politik dan kekuasaan pada level manapun (Legislatif, Judikatif dan Eksekutif) berubah menjadi strategi koruptif. Praktik korupsi secara genius mendapat legitimasi dari perundang-undangan yang dibuat sendiri. Bahkan gerakan dan komitmen melawan korupsi akhir-akhir ini justru berhadapan dengan “Solidaritas koruptif secara praktis”. (Aloys Budi Purnomo:2005)
Belum lagi rangsangan korupsi oleh karena belum terbangunnya rasa malu. Melihat kenyataan belum adanya perbaikan pada sistim hukum yang ada, mungkin sebaiknya direnungkan kembali tulisan terakhir almarhum (Prof. Dr. Charles Himawan:2002) mengatakan walaupun 98% rakyat Indonesia malu karena pengadilan kita dituduh mempraktikkan KKN, tetapi 2 persen rakyat Indonesia pemegang kekuasaan riil tidak malu, mustahil citra peradilan dapat diperbaiki. Sebaliknya jika yang 2 persen rakyat Indonesia pemegang kekuasaan riil untuk merasa malu dan mengambil konsekuensinya, harapan Indonesia memiliki peradilan yang mandiri mungkin tidak akan memakan waktu lama. (Harry Ponto:2005)
Karena itu terjadi pada bangsa Indonesia khususnya yang berada dalam circle kekuasaan penampilan muka tembok alias tidak ada rasa malu sedikitpun adalah merupakan suatu fenomena. Dapat dilihat dari laporan BPK selama pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Dalam 3 tahun berturut-turut, BPK mengeluarkan statement disclaimer hasil audit mereka lakukan. Namun tidak ada response penyelesaian dari Eksekutif dianggap itu seperti angin lalu. Juga peristiwa yang sama untuk periode 2004, BPK tidak bisa memberi penilaian (disclaimer) atas laporan keuangan Pemerintah Pusat tahun 2004. Dalam laporan BPK itu ditemukan banyak kelemahan sistim pengendalian internal keuangan, tidak sesuai dengan perundang-undangan dan masalah pada SAL (sisa anggaran lebih).
Kelemahan dalam sistim pengendalian internal keuangan negara antara lain: 1) Dalam bentuk prosedur penyusunan laporan keuangan tidak sesuai dengan sistim akuntansi yang ditetapkan, 2) Tidak sesuai dengan verifikasi dan rekonsiliasi pendapatan, 3) Hibah dan belanja negara tidak efektif, 4) Pengelolaan kas, investasi, asset tetap tidak memadai, 5) Organisasi APBN pada tingkat kementrian negara/lembaga belum seluruh direview oleh aparat pengawas internal. Padahal, aparat pengawasan internal di Indonesia cukup banyak, terdiri atas empat lapis dan termasuk sangat rumit, serta memiliki jumlah auditor, jaringan kantor, peralatan maupun anggaran yang sangat besar. Ditemukan penyimpangan pengeluaran anggaran untuk dana reboisasi dari rekening bendahara umum sebesar Rp.2.89 trilliun, dan eksekusi oleh Kejaksaan Agung uang pengganti Rp.6.67 trilliun (Anwar Nasution:Media Indonesia, 21/09/2005). Namun, response dari Eksekutif, Judikatif maupun Legislatif atas laporan ini hampir tidak muncul karena dianggap tidak membawa dampak apa-apa pada karir mereka.
Karena undang-undang yang dilanggar seharusnya semua yang kena negatif performance report baik dia Menteri, Irjen dan pimpinan lembaga lain harus diminta pertanggung jawaban. Andaikatapun itu sampai dihadapkan pada hukum, pelaku-pelakunya akan bisa menghindari jeratan hukum yang ada. Lebih canggih lagi, ada yang dari awal membuat desain untuk menjadikan hukum sebagai alat untuk membenarkan korupsi yang dilakukan tatkala hukum dijadikan alat kejahatan (law as tool of crime) semacam ini koruptor yang paling kakap sekalipun tidak mungkin dinyatakan bersalah, karena tindakannya tidak ada yang menyalahi hukum. (Nitibaskara:2005)
Karena semua permasalahan mengenai korupsi berputar-putar dan jalan ditempat, maka perlu dibuat UU yang baru menangani korupsi yang terkenal UU 30/2002 tentang Pembentukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun ditemui masalah yaitu korupsi yang paling banyak terjadi adalah sepanjang tahun-tahun sebelum 2002, sedangkan UU 30/2002 itu tidak mengatur asas retroaktif. Dipihak lain para ahli hukum berpendapat pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam setiap putusannya tidak mengikat secara umum sehingga tidak perlu diikuti KPK. (Syamsuddin:2005)
Indikasi menunjukkan pada tahun 1998: Hutang luar negeri Rp.1400 trilliun termasuk 47.3% hutang swasta, kredit macet sejumlah bank Rp.450 trilliun, BPPN dibentuk dengan modal asset Rp.630 trilliun keberhasilan hanya 29%. Tahun 1999, BLBI Rp.144.3 trilliun tidak jelas penyelesaiannya. Pinjaman dalam negeri untuk rekapitalisasi perbankan Rp.650 trilliun dan pinjaman BUMN yang diduga kesemuanya angka-angka dan pengeluarannya terkandung unsur korupsi berupa mark–up dan konspirasi angka-angka. Alangkah sayangnya apabila KPK tidak memiliki landasan hukum untuk menelusurinya.
Dengan terkuaknya fakta-fakta ini secara induktif dan sudah “well documented” di kantor lembaga negara, seperti di DPR laporan BPK, di Archief Executive laporan BPKP dan laporan Irjen di setiap departemen, sampai berlapis-lapis, namun perubahan tidak juga muncul kearah perbaikan, sampai Wakil Presiden menyindir dengan kata-kata ironisnya: ”Hai Departemen Keuangan perhatikan jangan disclaimer melulu”. (Jusuf Kalla: Media Indonesia, 26/9/2005)
Terbentuknya KPK pada mulanya disikapi secara ironis, sebab 6 bulan pertama sejak pembentukan KPK hampir tidak berbuat sesuatu dan hanya sibuk untuk membicarakan anggaran untuk operasional belum turun, gaji pimpinan dan staff masih down payment, namun KPK dituntut undang-undang harus melaksanakan fungsinya.
KPK telah mengetahui tindakan korupsi ini. Tapi itu tidak cukup seperti Grethe berkata: ”Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do”, dan Sopocles menimpali: “One learns by doing the thing, for though you think you know it, you have no certainty until you try it”.
Apakah gagasan revolusioner Thomas Kuhn perlu diterapkan, dimana perubahan revolusioner itu terjadi setelah pradigma lama merebakkan anomali, dulu anomali merebakkan krisis, krisis memicu revolusi yang menumbangkan pradigma lama itu serta menggantinya dengan pradigma baru yang sama sekali berbeda dengan pradigma lama. (Limas Sutanto:2005)
Tapi kenapa pradigma lama dapat ditumbangkan di Indonesia sejak tahun 1998, sedang pradigma korupsi tetap bertahan, malah kian menggejala? Untuk menjawab pertanyaan itu kembali kita merujuk pemikiran Kuhn untuk menjawabnya.
Siklus penumbangan revolusioner pradigma lama dan pergerakan pradigma baru hanya terjadi jika ada tokoh yang sungguh bisa menjadi contoh atau panutan untuk menumbangkan pradigma lama dan penegakan pradigma baru: Siapakah tokoh itu? Disela-sela mencari tokoh panutan ini KPK harus berbuat sesuatu.
KPK tidak mampu mengadakan frontal attack terhadap pelaku korupsi itu sebab organisasi koruptor itu sudah sangat kuat, apa saja mereka bisa perbuat sampai mencelakakan penguasa sekalipun. Serangan mengapit (flanking attack), serangan mobile jangan tidak memiliki sarana yang cukup. KPK pilih serangan melingkar (encirclement attack) dimulai dari kelas teri strata korupsi itu yaitu investigasi KPU.
KPU yang menghabiskan anggaran Rp. 3.5 trilliun, telah ditangani oleh audit investigasi BPK, dimana hampir seluruh anggota KPU terlibat dalam pengadaan barang, antara lain: Maulana W. Kusuma bertanggung jawab pengadaan barang kotak suara Rp.361.5 miliar dan bilik suara senilai Rp.200 miliar, Chusnul Marijah dalam pengadaan surat suara (Rp.247.256 miliar), kertas kraft (Rp.4.124 miliar) dan teknologi informasi (Rp.295.332 miliar), Hamid Awaluddin dalam pengadaan kartu pemilih (Rp.70 miliar), Ramlan Surbakti untuk validasi surat suara (Rp.8 miliar). (Teten Masduki:2005)
Ditengah-tengah iklim negara memiliki auditor-auditor yang terkenal menyandang citra tukang sulap, karena tidak memiliki ketaatan (compliance) terhadap standard operating procedure dan kode etik auditor, juga dibarengi oleh integritas yang sangat rendah dan kepercayaan masyarakat telah terpuruk atas balas jasa para auditor menyulap laporan keuangan dengan imbalan jasa yang sangat menggiurkan, pada saat itulah KPK harus menunjukkan kinerja sesuai dengan amanat undang-undang.
Dalam strategi serangan melingkar (encirclement attack) seperti dijelaskan diatas, KPK mulai memikirkan penjebakan sebagai suatu rencana percobaan (pobing), mirip dengan FBI yang menyamar under cover yang terkenal sebagai operasi “Broken faith” di Washington D.C bulan Mei 1992. Maka pada tanggal 8 April 2005 terjadi penangkapan atas diri anggota KPU oleh KPK mengagetkan seluruh masyarakat. Jebakan yang berawal dari penyerahan uang suap oleh Sekjen kepada auditor BPK Khairiansyah Salman pada tanggal 3 April dan 8 April 2005 di Hotel Ibis, Jakarta Barat. Suatu peristiwa nasional telah terjadi menyangkut profile seorang yang terkenal ideologis, pejuang HAM yang gigih, kejadian di Room 609 Hotel Ibis, Slipi dengan jumlah jebakan suap Rp.150 juta. (8 April 2005)
Uang yang sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kejadian korupsi dan suap-menyuap ini merupakan satu snowball yang berjalan secara berantai dengan harapan ikan akan ditangkap satu persatu dari teri hingga yang kakap. Kenapa mulai dari teri? Sebab KPK memahami bahwa korupsi akan sulit terembus jika modusnya melibatkan sindikasi yang rumit, terlebih jika diback-up struktur kekuasaan politik yang kuat dan berlapis. Korupsi seperti sering tidak terjangkau oleh hukum (untouchable by law) karena 2 (dua) alasan:
Pertama, menggelandang koruptor kakap acap kali mengundang resiko yang tidak kecil baik pejabat penegak hukum maupun kepentingan masyarakat luas. Bentuk risiko yang diterimapun bervariasi, dari yang paling ringan, seperti ancaman teror hingga yang berat, seperti kekerasan, atau amuk massa, instabilitas sosial politik, sampai hilangnya nyawa, jadi ini kalkulasi untung rugi belaka. Kedua, mungkin ini menyangkut skala prioritas atau pemberantasan korupsi. Dulu kasus Mulyana (sekjen KPU), diandaikan memancing di air kolam yang tenang untuk menangkap ikan didalamnya, dan atas petunjuk ikan yang tertangkap, ikan-ikan lainnya juga akan tertangkap. (Masdar Hilmy:2005)
Pelaku korupsi telah tertangkap dilanjuti oleh proses hukum. Dengan membukakan peristiwa ini secara meluas diseluruh media cetak/elektronik, akan memberikan informasi pada masyarakat, sekaligus mendengar kehendak rakyat, walaupun itu sebatas, pertama: shock teraphy, namun penjatuhan pidana akan bermakna sangat besar. Pelaksana efek kejut ditakutkan berulang-ulang sebagai peristiwa akan menggentarkan, sehingga timbul efek jera dan daya tangkal (deterrent effect) bagi pelaku maupun calon-calon pelaku korupsi, kedua, memutus stensel dan mekanisme korupsi yang sudah berurat-berakar. Pemenjaraan dalam waktu relatif lama, akan memotong jalur-jalur korupsi yang terbangun bersama yang dikenai pidana itu.
Ada alasan lain, strategi penghukuman (punitive strategy), yang keras itu amat diperlukan, karena korupsi bukan merupakan penyimpangan perilaku (deviant behaviour).
Korupsi adalah tindakan yang direncanakan penuh perhitungan untung rugi (benefit cost ratio) oleh pelanggar hukum yang memiliki status terhormat (the honorable status of offender). Kejahatan yang dilakukan itu tidak hanya untuk mencari keuntungan material belaka, seperti pelaku kejahatan property crime yang diwarnai kekerasan banyak motif dalam korupsi, salah satunya bisa karena kepentingan-kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan politis. Semakin tinggi sasaran yang akan dicapai, semakin kompleks metode korupsi dilakukan. (Nitibaskara:2005)
Jadi peristiwa shock teraphy ini perlu dilakukan secara berulang-ulang sebagai informasi pada masyarakat, bahwa teori akuntansi yang menganut sifat-sifat etika independent, compliance test masih belum mati di Indonesia.
Situasi dugaan korupsi sebelum dan sesudah peristiwa 8 April 2005, dapat dilihat perbandingannya. Sebelum peristiwa itu walaupun skala besar tetapi penanganannya masih setengah hati, terbukti: Terdakwa BLBI yang masih sempat lari keluar negeri seperti: Bambang Sutrisno (BLBI di Bank Surya Rp.1.5 trilliun), Hendra Raharja, Sherny Kajongian, Eko Adi Putranto (BLBI di Bank BHS Rp.2.6 trilliun), Marie Pauline Lumowa (Kasus Pembobolan BNI–Rp.1.9 trilliun), Agus Anwar (BLBI Bank Pelita Rp.1.9 trilliun), Sudjiono Timan (BLBI Bank Modern Rp.169 miliar) David Nusa Widjaya (BLBI Sertivia Rp.1.29 trilliun). (Konstan, Edisi IX, 2005)
Kasus BLBI menurut BPK mengungkapkan hasil audit 2000 adanya penyimpangan dana BLBI Rp.138.4 trilliun dari total senilai Rp.144.5 trilliun. Sedang hasil audit yang dilakukan oleh BPKP terhadap 42 bank penerima BLBI, menemukan penyimpangan sebesar Rp.54.5 trilliun, dimana Rp.53.4 trilliun merupakan tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan.
Proyek Balongan di Indramayu disebut-sebut mark–up terbesar di Pertamina. Bank Dunia menemukan mark–up US$591 juta (Rp.1.5 trilliun), dari total investasi US$1.999 miliar untuk 3 (Exor). (Konstan 2005: Edisi VIII)
Juga kerugian negara dalam praktik illegal lodging Rp.30 trilliun per tahun. Karena pembabatan hutan telah menjarah ke kawasan Taman Nasional seperti Gunung Leuser, Kerinci Sebelet, Barbak, Bukit Tiga Puluh, Bukit Dua Belas, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, Betung Kerihun Bentuang Karimun, Kanyan Mentarang, Tanjung Putong, Tn. Kutai, Tn. Lore Lindu di taman nasional Lorenz di wilayah Indonesia Timur.
Belum lagi pengusutan dugaan korupsi ditubuh BUMN yang berasset Rp.1.200 trilliun berupa mark–up dan penyelundupan. Mafia BBM mengalahkan Tim Pelaksana Penanggulangan Penyalahgunaan BBM (TP3 BBM), yang sudah menyelamatkan uang negara Rp.2.458 trilliun dari tahun 2000 s/d 2004, akhirnya harus dihentikan karena Presiden membubarkan TP3 BBM karena oknum mafia BBM tidak mau jika mafia minyak diawasi. Tapi sejak KPK dibentuk, dari Presiden SBY memback-up habis-habisan pemberantasan korupsi, muncullah usaha-usaha pemberantasan dengan upaya hukum menjerat, dan pemberitaan gencar diseluruh dunia, dipicu oleh peristiwa 8 April 2005, oleh kotak suara KPU. Illegal lodging telah menyelamatkan uang negara 2.5 trilliun dari Januari s/d Juni 2005, semua peralatan seperti alat-alat berat, tug boat, truck, dll disita.
Juga dihebohkan dengan praktik lama terbongkar penyelundupan BBM yang sebenarnya telah dimulai dari bulan Oktober 2004, oleh kapal MT Rejoice menyedot 2.500 ton minyak mentah dan 2600 ton bulan Desember 2004. Kapal MT Sunrise menyedot 2300 ton minyak mentah pada Maret 2005 dan 2400 ton pada bulan Juni 2005, bulan Agustus 21, 2005, KRI Multatuli menangkap kapal MT. Tionam dengan hasil sedotan 19.000 barrel berasal dari terminal Lawe-lawe, atau equivalent 2.881 ton minyak mentah.
Peristiwa penangkapan tersiar secara nasional dan diperkirakan telah merugikan negara Rp.8.8 trilliun satu tahun, yang bertindak sebagai broker adalah Freddy dan berhasil menemukan pembeli dari Singapura bernama Martinus alias Aliong alias Nur Lie bersedia membeli minyak mentah itu hanya dengan US$35 perbarrel.
Berbeda dengan sebelumnya, kini SBY Presiden yang jadi pilihan 200 juta rakyat Indonesia mengumandangkan pekik perang terhadap korupsi. Hampir setiap hari di mass media wajah-wajah koruptor diekspose, dimana pada periode dulu pantang dilakukan.
Namun, upaya dahsyat masih terlihat untuk menghambat jalannya pemberantasan korupsi itu di level penegak hukum. Tapi SBY telah berhasil mengadakan koordinasi dengan Tintastipikor, Jaksa Agung, Kapolri, KPTKP, BPK. Tinggal menunggu benteng terakhir dalam keadilan yaitu Mahkamah Agung ditunggu untuk mengeluarkan keputusan yang memihak pada rakyat, karena masih berjalan suatu kebiasaan untuk menvonnis segar para koruptor.

Kesimpulan
Dalam pembahasan kajian ilmu, filsafat ilmu, serta teori yang dijelaskan diatas, bahwa Teori Akuntansi itu adalah:
1) Seni (art), bukan merupakan ilmu pengetahuan murni (sciences). 2) Terdiri dari seperangkat prinsip-prinsip yang saling terkait (coherent). 3) Konsep akuntansi mengakar pada sistim nilai masyarakat dimana akuntansi dipraktikkan. 4) Suatu koleksi teori yang digambarkan sesuai dengan kebutuhan pemakainya. 5) Akuntansi itu digambarkan sebagai a body of practice yang dikembangkan sebagai tanggapan kebutuhan praktik bukannya dikembangkan dari pemikiran yang sistematik dan terencana. 6) Teori akuntansi membahas masalah dan memberikan solusi. 7) Fungsi akuntansi adalah memberikan informasi kuantitatif terutama bersifat keuangan tentang entitas ekonomi yang diharapkan bermanfaat, bagi pengambilan keputusan. Teori akuntansi dikembangkan dengan pendekatan-pendekatan yang mampu memberikan informasi, menegakkan sifat integritasnya, compliancenya pada hukum dan perundang-undangan dan prosedur yang berlaku dan memihak pada pengguna informasi.
Berdasarkan sifat dan nuansa Teori Akuntansi ini, maka saya dapat menyimpulkan bahwa Teori Akuntansi dapat diperkaya dengan Pendekatan Peristiwa (Event Approach) yang dipublikasikan secara meluas sebagai suatu penyuguhan informasi ekonomi dalam hal ini dengan mengambil case study peristiwa 8 April 2005 yang kronologisnya dapat dilihat dalam lampiran I sebagai pemicu significant pemberantasan korupsi kepada masyarakat yang memberi mandat pada Presiden untuk menyelenggarakan negara yang baik (good governance).
Semoga kontribusi ini dapat bermanfaat pada ilmu pengetahuan, dan merekomendasikan para peneliti mengadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam dikemudian hari.

Sidang Senat yang berbahagia,
Perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada seluruh anggota Senat STIE–IBEK, Ketua STIE–IBEK Leonard S. Manullang, SE, MM, yang akan memangku tugas yang lebih berat lagi sebagai Ketua Yayasan IBEK, dalam waktu yang dekat didepan ini dan seluruh Puket, Direktur Pascasarjana, Ketua-ketua Jurusan dan khususnya Drs. M. Sitanggang, MBA, yang telah memberikan waktu dan mendesain langkah-langkah strategis membantu saya sampai dapat menyusun dengan seksama semua persyaratan yang dibutuhkan untuk jenjang jabatan akademik tertinggi ini yaitu Guru Besar penuh dalam Ilmu Akuntansi.
Kepada Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji, Koordinator Kopertis III, Drs. Samsu Makka, SE, Ak, Sekretaris Eksekutif Kopertis III dan seluruh jajarannya yang telah meluangkan waktu mengkoordinasikan pada Guru Besar penilai dari jajaran Kopertis III, dan dapat menghasilkan penelitian objektif atas kepangkatan akademik Guru Besar ini. Kepada Prof. Dr. Satryo Sumantri Brojonegoro, Dirjen Dikti dalam kapasitasnya sebagai Ketua Tim Penilai Kepangkatan Guru Besar Pusat beserta seluruh Tim Penilai Pusat atas waktu dan pikiran jernih memberikan penilaian yang murni profesional atas kepangkatan Guru Besar yang dianugerahkan pada saya.
Kepada yth Bapak Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA,Ak, Menteri Pendidikan Nasional sebagai pemegang keputusan akhir atas nama Presiden RI yang telah memberikan persetujuannya atas Guru Besar yang telah melalui proses lengkap sebagaimana telah diisyaratkan oleh Undang-undang Pendidikan Nasional dan Peraturan yang berlaku, kepada Sekretaris Jenderal dan Trisno Djuardi, SH, MM, Karo Kepegawaian dalam menerbitkan SK Penetapan saya jadi Guru Besar.
Kepada Ayah yang saya hormati Darius Manail Manullang (alm. 1947) yang telah menjadi hero saya dan Ibunda Manonga Rumia Manullang boru Marpaung (alm. 1949) yang telah mengandung dan melahirkan saya dan mengasuh dengan penuh kasih sayang walaupun sangat singkat karena beliau sangat cepat meninggalkan saya dan adik saya. Khususnya saya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya pada Ompung (nenek) saya Martalena Manullang boru Marpaung (alm. 1993) yang telah mengambil alih tanggung jawab merawat dan membesarkan saya sampai mengecap pendidikan tinggi. Kepada mertua saya Sutan Djaparramean Batubara (alm. 1986), atas doa dan nasihat serta berkat yang dilimpahkan pada saya semasih hidupnya.
Kepada adik saya Robert Manullang dan istrinya Rosdiana br Marpaung serta Gabriella Ruth Manullang, anak mereka satu-satunya saya tidak lupa mengucapkan penghargaan atas perhatian mereka pada saya selama berkecimpung dalam dunia pendidikan ini.
Kepada istri tercinta Beffie Lanny Manullang, SE, MM, yang dengan sabar telah mendampingi saya dan berbagi suka dan duka mengarungi bahtera keluarga dan mencapai yang ke 41 tahun ini. Berbahagialah seorang suami yang mempunyai seorang istri yang bijak dan setia memberikan tender loving care (TLC) kepada suami seperti istri saya. Dalam kehidupan saya selama 41 tahun berumah tangga saya mencatat saya sudah tiga kali sakit parah dan sangat kritis, dan kalau bukan karena perjuangan dan doa seorang istri yang kebetulan memulai karirnya sebagai perawat pada saya. Barangkali saya tidak bisa berada di forum ini.
Anak-anak saya, Leonora C. Manullang, anak sulung yang arif dan bijaksana, Leonard S. Manullang, yang pada saat ini sedang berjuang dalam meniti tatanan hidup dan karir kearah yang lebih solid, anak saya Darius Agusdjaja Satria Negara Manullang dan istrinya Rita Mary Manullang br Tampubolon yang tinggal di California, Rizal Ruben Manullang dan istrinya Rina Anastasia Bernadette Idroes Chaniago boru Marpaung yang sehari-harinya mengelola IBEK di Pangkal Pinang, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yolanda Puspasari Uli Artha Rumenta Manullang yang pada saat ini berdomisili di Loma Linda, California, atas perhatian mereka pada saya yang telah memilih dalam pengabdian dilapangan pendidikan, saya ucapkan terima kasih. Juga pada cucu-cucu saya yang manis-manis Pamela Abigail Febiola Laurent, Briggita Laurencia Geovana, Patricia Lorenza Desire Sabbathini, adalah mahkota saya yang telah memberikan motivasi yang luar biasa pada saya untuk lebih tekun mengabdi sampai mencapai jenjang kepangkatan akademik yang tertinggi ini.
Juga tidak lupa saya mengucapkan salut dan penghargaan saya yang tinggi pada mantan promotor dan co-promotor serta penguji saya waktu menyelesaikan Doktor Ekonomi dalam Ilmu Manajemen Akuntansi, a.l. Prof. DR. Ma’sud Machfoedz, MBA, Ak, Prof. DR. Sofyan Sjafri Harahap, MSc, Acc, Ak, Prof. Dr. Jogiyanto Hartono, MBA, Ak, Prof. Dr. Imam Ghozali, MSc.Com, Ak, Dr. Hadory Junus, MSc Com, Ak, Prof. DR. Subagyo Sastrodiningrat, MPA, Prof. DR. Charles Marpaung, Dr. Sumarno Zein, MBA, Ak, Prof. Supranto, MA, Prof. DR. Hamdy Hady atas berkenannya sharing kepintaran kearifan mereka.
Juga saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada mantan guru-guru saya dari SRVI s/d Perguruan Tinggi sampai Strata–1 yang berpengaruh dalam hidup saya seperti; Guru Osmar Manullang, Guru Hendrik Marpaung, Guru Willem Marpaung, Dr. R.A. Fighur, E.T. Mangunsong, Dr. B.A. Aaen, Kolonel (Purn) Bonifacius Siagian, MA, Dr. R.K. Kalangi, Dr. Percy Paul, Dr. Pangarisan Sitompul dan Gladys Macarewa, MA, A. P. Mamora, Soaloon Siagian, Dr. R.A. Nainggolan, Dumaria Tampubolon, MA, Edward Panjaitan, MBA, Prof. Gerald Thompson, Prof. A. Panggabean, MA, Hardy Siregar, MBA, Prof. Dr. Conny Semiawan, Drs. Manginar Manullang, Dr. R. H. Tauran, yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan yang kuat bagi saya.
Para kolega/sesepuh saya dalam pekerjaan pertama s/d perusahaan selanjutnya, seperti W. L. Wicox, Gordon Bullock, J. Johnson, C. Oliver, Lie Hwa In, Dr. G. Coleman, P.L. Tambunan, Dr. Charles Martin, Dr. Alfarius Mamora, Dr. Lie Sek Hong (Liwidjaja), Dr. Jess C. Holmes MD, John T. Manullang, H. Mangkey, MEd, Alaistair Halliday, CPA, B. Benton, RAP Lbn Tobing, MA, S.F. Sitompul, John R. Steiger, T.M. Plowden, Thomas McQuire, Paul McQuinn, Dr. Brian Kane, Don Hibbard, Jim Cotter, John Scott, Jim Stretch, Edwardo Puno, Willy Siwu, John Edwards, E.T. Velasco, Peter Golberg, John Rush, E.D. Saban, John McIntyre.
Tidak juga saya melupakan teman-teman sejawat dalam seprofesi Financial Executive, seperti: Tanri Abeng, MBA, Subarto Zaini, MBA, Romeo Co, Robert Moore, Annibal Forchieri, Claude Ceasar, Hans Godefroid, Don Laurio, Rikkard Douglas, Dr. George Moller, Abdillah Toha, MBA, Theodorus Tuanakotta, MBA, Bambang Rachmadi, MBA, MSc, James Riady, Edward Suryajaya, Mugianto, Nurman Diah, Para Pengurus Ikatan Alumni Lemhannas dari IB Sujana, Hendro Prijiono, Jend (Purn) Agum Gumilar, serta teman-teman seperjuangan Lemhannas KRA XXIII/1990 seperti, Mayjen (Purn) E.E. Mangindaan, LetJen (Purn) Suryadi, Mayjen (Purn) Sukarno, Letjen (Purn) Moh. Ma’ruf, Mayjen (Purn) Chris Masengi, Mayjen (Purn) Freddy Tanjung, Marsda (Purn) F.X. Suyitno, Marsda (Purn) Sasmito, Letjen (Purn) Soeyono, Mayjen Marinir (Purn) Gafur Malik, Mayjen Pol (Purn). Drs. Arief Tawil, MM, Ir. Amir Harbani, WMP. Simanjuntak, Ak, Laksma (Purn) Adi Muljo, Mayjen (Purn) A. Pranowo, Letjen (Purn) AA. Nasution, Mayjen (Purn) Maman Herawan, Mayjen (Purn) Banser, Mayjen (Purn) Kojin, Mayjen Pol (Pur) Yusnan dan lain-lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
Diantara keluarga yang berpartisipasi langsung atau tidak langsung berupa motivator dalam mengembangkan karir saya adalah: St. Galang S. M. Marpaung, Kostan Marpaung, A. Bongitan Marpaung, Drs. Marbun Batubara, Dr. Cosmas Batubara, Prof. Dr. John Batubara, Herbert Wolf, Eng.Dipl, Ir. Partumpuan Naiborhu, MM, Dr. Binsar Sianipar, John R. Manullang, Ir. Mangatas Manullang, Poltak Manullang, SE, MM, Ak, Fajar Suyanto, Drs. Missa Manullang, Drs. Hotman Manullang, SP. Gerhad Manullang, Purnamarea Sinambela, T. Tambunan, MA, Ir. Sophar Marpaung, Ungkap Hutapea, SE, Drs. Ojak Simorangkir, Darius Marpaung, Drs. Monang Sitorus, SH, Mayjen (Purn) Agus Marpaung, SH, Tuan M. H. Manullang, Th.D. Manullang, Gustaf Adolf Manullang, Dr. A.C. Manullang, Dr. KRH Tarnama Sinambela Kusumanegoro, Sahat & Ida Pola Nainggolan, Manson Marpaung, M. Fin, Deta Sinambela, Blihert Sihotang, Seluruh Pengurus Punguan Si Raja Oloan terdiri dari Keluarga Besar Raja Sisingamangaradja Pusat Bakara dan Jabotabek, Keluarga Besar Pamuharadja dan seluruh Pomparan Toga Manullang, dan Keluarga Besar Naibaho, Sihotang, Bakara, Sinambela, Sihite dan Raja Saidi Raja Si Jorat IX dan Dr. Thelmah Manullang. Juga Keluarga Besar Si Raja Si Jorat VII dan Keluarga Besar Raja Malaha Marpaung serta Keluarga Besar Baginda Paung, saya sangat hormati dan tidak pernah saya lupakan.
Kepada kolega-kolega yang telah ikut berpartisipasi dalam pengembangan STIE–IBEK suatu lembaga pendidikan tinggi yang mengajukan kepangkatan Guru Besar sini juga saya mengucapkan terima kasih yaitu: Dr. J.W. Limbong, Cyrus Manurung, MBA, Kol. Marinir Sugeng, Mardalena Marpaung dan kolega yang aktif mengisi pengembangan STIE–IBEK seperti Prof. Dr. Subur Budi Santosa, Prof. DR. M. Matondang, Prof. DR. Payaman Simanjuntak, Prof. DR. Sofyan Sjafri Harahap, MSc, Acc, Prof. DR. Soelaiman Sukmalana, MM, Prof. DR. W. Napitupulu, Mudjihandoko, Ph.D, MA, Hamongan Ritonga, Ph.D, MSc, Dr. Johor Ritonga, Dr. Togar Saragih, Budi Sitepu, MA, Ida Yuningsih, SE, MM, Dr. Agus M. Natasukarya, Dr. Sahala Sinurat, Dr. Gison Manullang, Dr. Narumi Lapoliwa, MM, MBA, Ak, Dr. Romulus Tampubolon, Drs. B.O. Harahap, MM, Drs. Martua Sitanggang, SE.Ak, Hirdinis SE, MM, Drs. Ridwan M. Pane, MM, Dr. Marihot Manullang, Johan Kartanajaya, MA, dll, Pengurus Alumni Association Sarjana & Pascasarjana STIE–IBEK seperti, Syamsul Bachri, SE, MM, E. Ribka M, SE, MM, Mariati Jahja, SE, Lenna Sentosa, SE, Lauw Giok Siu, SE, Kombes Untung, MM, Max Tjio, SE, Chris Warouw, SE, Tan Ting Ling (Rosana), SE, Rosdiana Mustafa, SE, Milatania, SE, Mayjen Pol (Purn). Drs. Arief Tawil, MM, Dr. John Pallinggi, dan seluruh Civitas Academia STIE–IBEK Jakarta & Pangkal Pinang, dll, sangat berperan menopang pengabdian saya dalam pendidikan.
Rekan seperjuangan saya seperti Drs. Sofyan Rebuin, MM, Drs. Zulkarnaen Karim, MM, Dr. Kinny, MM, Dr. Zaiful Karim, Drs. Effendy Hasjim, MM, Drs. Syamsul Bachri, MM, Ir. Tunggul Pakpahan, MM, Drs. Johan Murod, MM dan Ramli Ngadjum, SH, MM dan lain-lain yang belum sempat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas motivasi yang diberikan pada saya.
Para Senior dan teman sejawat dalam profesi Indonesian Administration Society. banyak saya mendapat contoh dari mereka dan tidak lupa saya menyampaikan penghargaan, kepada a.l., Prof. H. Bintoro Tjokroamidjojo, MA, Prof. DR. Mustopadidjaja, AR, MPA, Drs. Frans Seda, Prof. DR. Ir. Ginandjar Kartasasmita, Dr. Sapta Nirwandar, Dr. Ir. Bima H. Wibasana, MSc, Dr. Mulia P. Nasution, Dr. J. Basuki, MPSi, Dr. Ir. Deddy S. Bratakusumah, Prof. DR. Said Zainal Abidin, Prof. DR. J.B. Kristiadi, Dr. Soebagijio Soemodihardjo, SH, Letjen (Purn) T.B. Silalahi, Dr. Andi Amir, Dr. Tuti Suryani, Dr. Andi Mallarangeng, Prof. DR. Sondang Siagian, MPA.
Para Senior dan teman sejawat dalam pengabdian profesi bisnis dan pengabdian masyarakat banyak sharing pengalaman yang saya sangat hargai langsung dan tidak langsung, a.l., Prof. DR. Suhardiman, SE, Oetojo Oesman, SH, Dr. Bomer Pasaribu, Dr. Thomas Suyatno, Dr. Wiratman, Ir. Arie Peju, MSc, Dr. A. Baramuli, Dr. Muchtar Riyadi, Ir. Ciputra, Ir. Aburizal Bakrie, Dr (HC) Jacob Utama, Sabam Siagian, Surya Paloh, Drs. Soy Pardede, Dr. Dewi Motik, Ir. Salahuddin Wahid, Drs. Thomson Manullang, Drs. Ardjuno, Kristia Kartika, SH, MH, Drs. Pudji Rahardjo, Ir. Muchayat, Prof. Dr. Sambas Wirakusumah, Prof. Dr. Malingkay, Prof. Dr. Arijatmo Tjokrodinegoro, Ph.D, Charles Mast, Dr. Hans Roden, Dr. Russel Cheetam, Dr. David Rockefeller, Dr. Andrew Steer, Drs. Santoso, MSc, Ak, Tommy Sihotang, LLM, La Rose, Samantha Ratno, Rahayu Effendy, Dr. Jusuf Anwar, Drs. J. Turangan, Drs. Hadi Purnomo, MBA, Jenderal (Purn) M. Panggabean, Mayjen (Purn) D.I. Panjaitan, Jend (Purn) Luhut B. Panjaitan, MA, Poltak Ruhut Sitompul, SH, Robin Simanullang, Harlan Bekti, Hasyim Ning, Sudarpo, Probo Sutejo, Sukamdani Gitosardjono, Letjen (Purn) Sahala RajaGuk-Guk, Jend (Purn) Eddy Sudrajat, Jend (Purn) Rudini, Letjen (Purn) Suprakto, Jend (Purn) Try Sutrisno, Laks (Purn) Sudomo, Prof. DR. Radius Prawiro, Drs. Rachmat Saleh, Dr. Arifin Siregar, Dr. Alex Alatas, Drs. Salamun A.T, Drs. Sutadi Sukarya, Jenderal (Purn) Benny Murdhani, Prof. DR. J.B. Sumarlin, Prof. DR. Emil Salim, Ir. Ary Wibowo, Drs. Mari’e Muhammad, Prof. DR. Widjojo Nitisastro, Prof. DR. Ali Wardhana, Jenderal (Purn) Agum Gumilar, Yapto Sumarno, SH, Drs. Syarifuddin Harahap, Sariati Pardede, Palti Siregar, SH, Ir. Akbar Tanjung, Prof. Bismar Siregar, SH, Prof. DR. Bagir Manan, SH, Ismail Saleh, SH, Dr. Paul Wolfowitz, Dr. Henry Kissinger, William Miller, John Holdridge, Robert Gelbard, Howard P. Jones, Marshall Green, Francis J. Galbraith, David D. Newson, Edward Master, John C. Manjo, Robert L. Bary, J. Stepleton Roy, Ralph L. Boyce, B. Lynne Pascou, J. A. Sereh, Dr. Albert Hasibuan, Maruli Simorangkir, SH, Ir. Agus Kartasasmita, Harvey Goldstein, Jimmy Castle, Jeffrey Jones, CPA, Prof. Dr. Anwar Nasution, Drs. Ari Sulendro, Ak, MPM, Drs. Taufiqurrohman Ruki, Dr. Todung Mulya Lubis, Prof. Ir. Eko Budi, Prof. Dr. Thoby Mutis, Prof. Dr. Hj. Farida Jaspar, ME, Prof. Dr. Tb. Ronny R. Nitibaskara, SH, Prof. Dr. Tadjuddin, MD, Dr. Pande Silalahi, Dr. Adnan Buyung Nasution, DR. Adjie Susanto, Dr. Matius, MBA, John Reed, Dr. Sabrina.
Kelompok kerohanian saya yang memberikan dorongan penguatan spiritual pada saya tidak lupa menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya, a.l. Albert Gulfan, MA, Dr. Benyamin D. Schoun, Dr. Clinton Shankel, Dr. Eddy Sarmun, Dr. Albert J. Pardede, Dr. Daniel & Dr. Sherly Injo, Dr. Sam Kwik, Dr. Parlin Napitupulu & Emmy Pardede, Dr. Canadian Panjaitan, Dr. Robert Walean, Dr. Urbanus Aritonang, Dr. R. A. Hutagaol, Dr. Parangin-angin, Jannus O. Hutapea, MSc, Lily Sitompul, H. E. Sinaga, M.Div. Bremen Panjaitan, M. Div. Kombes Jimmy Sinaga, Dr. Tagor Tambunan & Drg. Tuty Manullang, Brigjen David Hutapea, Dr. Gindo Sitorus, Dr. Victor Siagian, Dr. Albert L. Sondak, Dr. Albert Hutapea, Dr. H. Missah, Dr. J. Sitorus, Dr. BAF Simanjuntak, Dr. M. Sagala, Mahadin Panjaitan, MA, Dr. Bahasa Sumarna, Dr. John Pesolima, Dr. Lies Goei, Dr. Jonathan Kuntaraf, Dr. Emilkan Tambunan, Dr. Amos Simorangkir, Winker Sitanggang, Benny Tambunan, STh.MPTh, D. Rampen, STH, MTh, Dr. B. Laoh, Prof. DR. J. B. Sijabat, Dr. S.A.E. Nababan, Dr. Jan. Everet, Telly Lomboan.
Kelompok Pemimpin Masyarakat, yang rendah hati yang ikut bersama-sama berdoa dengan saya di Capitol Washington, D.C, saya sangat kagum atas dedikasi pelayanan mereka terhadap masyarakat banyak, seperti, Dr. Bill & Hillary Clinton, Albert Gore, Dr. Bob Dole, Dr. Octavianus, Drs. Rudolf Pardede, Hamilton Lee, Dr. Wayne Angel, Dr. Wilbur Wheaton, Mark Hatfield.
Kepada para mantan Presiden R.I yang telah memimpin negara R.I ke level yang disegani dunia menurut gaya kepemimpinannya masing-masing, a.l. Dr. (HC), Ir. Soekarno, Jenderal Besar Soeharto, Prof. DR. B.J. Habibie, Dr. (HC) K.H. Abdurrachman Wahid, MA, Dr. (HC) Megawati Soekarno Putri, juga merupakan motivator yang dahsyat bagi saya.

Juga saya sangat terkesan atas kerendahan hati mereka dan dengan gaya kepemimpinan yang akomodatif, responsif, produktif, komunikatif, partisipatif, sebagai motivasi dalam pelayanan saya terhadap sesama, dari mereka seperti: Adam Malik, Jenderal Besar A. H. Nasution, Letjen (Purn) T. B. Simatupang, Letjen (Purn) Sarwo Eddy, Jend (Purn) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Drs. Yusuf Kalla, Ibu Kristina Herawati, Letjen (Purn) Sutiyoso, Letjen (Purn) Sudi Silalahi, Letjen (Purn) Ali Sadikin, sebagai pelayan masyarakat yang sangat dedikatif.
Pada akhirnya, saya sekali lagi memanjatkan syukur pada Tuhan karena kehendakNyalah semua ini terwujud.

Jakarta,

Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang, MM, SE

Referensi

1. Accounting Principles Board (APB), (1970), Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statements of Business Enterprises, Statement No. 4, NY: AICPA
2. Agus Sudibyo, (2005), Pemberantasan Korupsi dan Rezim Kerahasiaan, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 61
3. Alfred North Whitehead, The Aims of Education (New York, The Free Press)
4. Aloys Budi Purnomo, (2005), Uji Nyali Memberantas Korupsi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Juli, hal. 23
5. American Accounting Association, (1977), Statement on Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA), Florida, AAA
6. American Institute of Certified Public Accountant (1966), Statement of Basic Theory, Evanston, IU: AAA
7. American Institute of Certified Public Accountant (1953), Review and Resume, Accounting Terminology, Buletin No. 1, NY:AICPA
8. Anis Chariri & Imam Ghozali, (2001), Teori Akuntansi, Edisi Pertama, Undip, hal. 27–29
9. Budi Purnomo Aloys, (2005), Uji Nyali Memberantas Korupsi, Penerbit Buku Kompas, Juli, hal. 23
10. Belkaoui A. 2. (1993), Accounting Theory, 3rd, Ed–Orlando: Harcourt Brace, Jovanovich
11. Chalmers A. F, (1928), What is Thing Called Science?, St. Lucia University of Quensland Press
12. Chambers, A.E and P.H. Pesman (1994), Timeliness of Reporting and the Stock Price Reaction to Earnings Announcements, Journal of Accounting Research, Spring, pp. 21–47
13. Charles Himawan, Rasa Malu, Penerbit Buku Kompas, 31/3/2002
14. Conny Semiawan, et.al. (2005), Panorama Filsafat Ilmu, Teraju (PT. Mizan Publika), Jakarta, hal. 13–14
15. Ernest Nagel (1961), The Struction of Science (New York: Harcourt, Brace & World, hal. 20–26
16. Erwan Dukat, dkk, (1986), Accounting Theory, Ak Group Yogyakarta, hal. 44, 142–143
17. FASB (1978), Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No.5 Recognition and Measurement in Financial Statement of Business Enterprises.
18. Flamholtz, EG (1979), Developing Human Resources Accounting as Human Resources Decision Support System Accounting, Horizon, September, pp. 1–9
19. George F. Kneller, (1964), Introduction to the Philosoply of Education (New York: John Willey & Sons), hal. 4
20. Gugliemo Ferrero (1956), Les Lois Psychologiques due Symbolisme, p. VIII, used G Karl Jung on the Fly Leaf Introducing Part I of Symbol of Transformation (collected works, vol–5, New York: Pamthen Books), p. 2
21. Jujun S. Suriasumantri (2005), Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustika Sinar Harapan, Jakarta, hal. 142, 215, 216
22. Harry Ponto (2005), Mengembangkan Rasa Malu, Penerbit Kompas, Jakarta, hal. 40–41
23. Hendriksen E. S (1982), Accounting Theory, 4th Ilinois: Richard D’Irwin
24. Hendriksen E. S & Michael (2000), F. Van Breda, Accounting Theory, hal. 23
25. Indria Piliang, (2005), Korupsi dan Demokrasi, Penerbit Buku Kompas, hal. 92
26. Kalla, Jusuf (2005), Disclamier, Media Indonesia, 26 September, Jakarta
27. Konstan, Majalah (2005), Volume I, Edisi VIII, September
28. Konstant, Majalah (2005), Volume I, Edisi IX, September
29. Kristiadi J (2005), Bukan Politik Dagang Sapi atau Arisan Politik, Penerbit Buku Kompas, hal. 81
30. Kuhn T. S (1962), The Structure of Scientific Revolution, Chicago: University of Chicago Press
31. Limas Sutanto (2005), Exemplars untuk Menumbangkan Korupsi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 128
32. Littheton, A.C. (1953), The Structure of Accounting Theory, American Accounting Association
33. Limas Sutanto (2005), Kita dipakai jadi Bangsa Amnestik; Penerbit Buku Kompas, Jakarta hal. 8
34. Manullang Timbul (2004). Efesiensi pasar modal Indonesia menggunakan Pendekatan Multi Event Sosial, Politik dan Ekonomi, Disertasi Doktor dalam Ilmu Akuntansi, UPI/YAI, Jakarta, hal. 366
35. Masdar Hilmy (2005)–Paradoks Pemberantasan Korupsi, Penerbit Buku Kompas, hal. 197
36. Mohammad Muslih (2004), Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi Dasar, Pradigma dan Keluarga Teori Ilmu Pengetahuan, Penerbit Beluker, Yogyakarta, hal. 98
37. Meyerand et. al (1997)–The Fourth Wave, London, New York: Wiley
38. Moonitz M. (1961), The Basic Postulating of Accounting, Accounting Research Study No.1, New York: American Institute of Certified Public Accountant
39. Nasution Anwar (2005), Laporan Audit Keuangan Pemerintah Pusat, Media Indonesia, 21 September.
40. Nitibaskara TBR. (2005), Reformasi Perlakuan Bagi Koruptor, Penerbit Buku Kompas, hal. 27–28
41. Popper K (1968), The Structure of Scientific Revolution, Chicago: University of Chicago Press
42. Salahuddin Wahid (2005), Agama, Budaya dan Pemberantasan Korupsi Jihad Melawan Korupsi, PT. Buku Kompas, Jakarta, Juli, hal. 137
43. Salmonson, R. F (1969), Basic Financial Accounting Theory, Belmont – California: Wards – Worth Publishing, Co. Inc
44. Satjipto Rahardjo (2005), Mengadili Korupsi Mengapa Dipersulit, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 12
45. Schrader. W. J. (1962), An Inductive Approach to Accounting Theory, The Accounting Review, Volume 2, October
46. Syamsuddin Amir (2005), KPK dan Asas Retroaktif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 14
47. Teten Masduki (2005), Kejutan MW+BP+KP, Penerbit Buku Kompas, hal. 190
48. Webster; Third New International Dictionary, Unbridged (Springfield Mass: G & C. Marriam, p. 237)

LAMPIRAN I

Kronologi Kasus Korupsi KPU
11 Agustus 2004: Koalisi LSM untuk Pemilu Bersih mengadukan dugaan korupsi di lingkungan KPU.
18 Agustus 2004: Surat pimpinan KPU kepada pimpinan KPK berisi permintaan untuk klarifikasi atas Laporan Koalisi LSM untuk Pemilu Bersih.
25 Agustus 2004: Surat KPK kepada BPK meminta laporan hasil audit BPK atas kegiatan KPU atau temuan sementra BPK.
31 Agustus 2004: Pimpinan KPU mengklarifikasi laporan Koalisi LSM di kantor KPK.
14 Desember 2004: Terbit Surat Perintah Penyidikan tentang dugaan korupsi dalam pengadaan logistik Pemilu 2004 oleh KPU. Jangka waktu 20 hari kerja.
16 Desember 2004: Pertemuan pimpinan KPK dan Ketua BPK. Pembicaraan membahas hubungan kerja BPK-KPK dan selintas membicarakan pula audit BPK atas KPU.
20 Desember 2004: Pertemuan Ketua Tim Penyelidikan KPK dengan Penanggung Jawab Tim Pemeriksaan Operasional KPU, membicarakan temuan BPK sebanyak 49 buah.
5 januari 2005: BPK terbitkan Surat Tugas Audit Investigasi untuk pengadaan logistik pemilu KPU tahun 2004.
14 Januari 2005: Pimpinan KPK menerbitkan Perpanjangan Surat Perintah Penyelidikan selama 20 hari kerja lagi.
17 Januari 2005: Pembicaraan antara Penganggung Jawab Tim Audit Investigasi BPK dan Ketua Tim Penyelidik KPK mengenai perkembangan audit investigasi dan mengatur pertemuan antara tim BPK dan tim KPK.
Januari 2005-Pertengahan Maret 2005: Proses interaksi penyelidik KPK dan Tim Audit Investigasi BPK terkait pemeriksaan pengadaan logistik pemilu KPU.
Pebruari- Awal Maret 2005: Tim Audit Investigasi BPK temukan indikasi penyimpangan dalam pengadaan kotak suara dan dugaan adanya indikasi upaya penyuapan dari Panitia Pengadaan Kotak Suara KPU.
8 Maret 2005: MWK kirim SMS ke KS. Minta bertemu 10 Maret sambil membicarakan temuan hasil audit BPK. KS lalu ke KPK menjelaskan rencana pertemuan dengan MWK tersebut.
10 Maret 2005: MWK menelepon KS untuk bertemu di Restoran Jepang Miyama di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Ternyata MWK didampingi SS dan MBR. Pada pertemuan itu MBR menawarkan uang Rp.200 juta–Rp.300 juta untuk memperbaiki audit investigasi kotak suara.
15 Maret 2005: Pertemuan Tim Penyelidik KPK dengan Penanggung Jawab Audit Investigasi BPK Membicarakan perkembangan pemeriksaan dan rencana BPK dalam awal April 2005 melakukan pembahasan dengan anggota KPU dan diharapkan pemberiksaan lapangan akan selesai.
23 Maret–30 Maret 2005: Subtim Investigasi Kotak Suara BPK melakukan cek fisik ke Medan dan Surabaya.
29 Maret 2005: Pertemuan pimpinan KPK dengan anggota BPK soal dugaan upaya penyuapan MWK serta menyampaikan pendokumentasian fakta dan proses kejadian pertemuan antara KS dan MWK, SS, dan MBR di Hotel Borobudur.
30 Maret 2005: Penyelidik KPK menanyakan kepada KS perkembangan hasil audit dan dugaan indikasi upaya penyuapan MWK. Juga menyampaikan bahwa pimpinan KPK sudah bertemu dengan anggota BPK dalam rangka menyampaikan hasil pendokumentasian fakta dan proses kejadian di Borobudur.
31 Maret 2005: MWK menelepon KS untuk bertemu, lalu KS menelepon MWK untuk membicarakan waktu dan tempat pertemuan lalu KS sampaikan hasil pembicaraan dengan MWK ke Penyelidik KPK.
3 April 2005: MWK datang ke kamar 709 Hotel Ibis, Slipi, yang didalamnya sudah menunggu KS, MWK menyerahkan uang sebesar Rp.150 juta dan meminta kepada KS agar membuat laporan dengan lebih proporsional serta MWK kembali, uang yang diserahkan MWK kepada KS lalu diserahkan KS kepada penyelidik KPK. Pertemuan berikutnya direncanakan 4 April.
4 April 2005: KS pulang ke Kisaran, Sumatera Utara, menghadiri pemakaman ayahnya. KS lalu kirim SMS kepada MWK tentang pembatalan rencana pertemuan tanggal 4 April 2005 karena berada di Medan sampai tanggal 7 April 2005.
5 April – 7 April 2005: KS dan penyelidik KPK saling kontak. Pertemuan dengan MWK akan diadakan tanggal 8 April di Hotel Ibis, Slipi Jakarta. Pimpinan KPK mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan KPK sekaligus menyiapkan Surat Perintah Penangkapan.
8 April 2005: MWK datang ke kamar 609 menemui KS. MWK menyerahkan uang tunai empat ikat uang pecahan seratus ribu rupiah dan dua ikat uang pecahan lima puluh ribu rupiah serta empat lembar traveller cheque @25 juta rupiah dengan cara meletakkan di tempat tidur. MWK juga menyampaikan amanat dari SS agar KS juga dapat membantu menyelesaikan permasalahan tinta sebagaimana dengan kotak suara. Penyidik KPK masuk ke kamar 609 dan menangkap MWK dan dibawa ke kantor KPK untuk diperiksa.
9 April 2005: Pemeriksaan dihentikan sementara untuk memberikan kesempatan MWK untuk beristirahat. MWK diberi kesempatan untuk menghubungi keluarga melalui telepon kantor KPK, Surat Perintah Penahanan MWK di Rumah Tahanan Salemba ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK.
10 April 2005: Penyusunan rencana penggeledahan Kantor KPU.
11 April 2005: Permintaan Izin Penggeledahan kepada Pengadilan Khusus Tipikor. Penyidik KPK melakukan penggeledahan Kantor KPU dalam rangka menemukan barang bukti. Di ruangan Hamdani Amin (HA), Kepala Biro Keuangan KPU, ditemukan sejumlah uang tunai dan traveller cheque senilai lebih kurang setara dengan Rp. 2 miliar, yang diakui oleh yang bersangkutan bukan dana APBN serta bukti peminjaman uang (traveller cheque) senilai RP.100 juta oleh MWK. Selain ruangan Hamdani, digeledah juga ruangan lainnya dan ditemukan bukti-bukti lain yang berkaitan dengan sumber dana yang digunakan untuk membantu MWK memberikan suap kepada KS.
12 April–15 April 2005: Pemeriksaan saksi-saksi, Sussongko, Mubari, Richard M. Purba, Nazaruddin Sjamsuddin. Disamping itu, penyidik KPK yang lainnya melakukan penggeledahan lanjutan di ruangan MWK serta tempat-tempat lain.
25–26 April 2005: Pemeriksaan lanjutan atas saksi-saksi rekanan pengadaan logistik KPU berkaitan dengan pengelolaan dana oleh HA yang diakuinya sebagai dana taktis KPU yang bersumber dari pemberian rekanan-rekanan.
26 April 2005: SS dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus penyuapan terhadap KS.
27 April 2005: Penyelidikan dugaan korupsi dalam proses pengadaan barang/jasa berupa asuransi.
28 April 2005: Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan Buku Panduan KPPS dan Buku Keputusan KPU.
2 Mei 2005: Pemeriksaan saksi-saksi, baik pejabat KPU maupun rekanan-rekanan, terkait dengan penerimaan dana oleh Hamdani dari rekanan-rekanan KPU.
3 Mei 2005: Penyelidikan dugaan korupsi dalam pengadaan logistik (kotak suara, surat suara, tinta sidik jari, teknologi informasi dan sampul surat suara) Pemilu 2004.
4 Mei 2005: Penyidikan dugaan korupsi dalam pengadaan logistik Pemilu 2004 dengan tersangka Hamdani dan kawan-kawan.
6 Mei 2005: Pemeriksaan-pemeriksaan terus berlanjut.

Sumber: KPK, BPK, Kompas

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Pribadi
1. Nama : Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang,
MM, SE
2. Tempat/Tgl. Lahir: Porsea, 12 September 1941
3. Jenis Kelamin : Pria
4. Status Kawin : Kawin, 1 Istri, 5 orang anak, 3 cucu
5. Alamat : Jl. Trimaran Indah I Blok J1 No.6.
Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
Telepon: (021)-5884256
6. Data Keluarga :
No Nama Hub. Keluarga Pekerjaan
1. Beffie Lanny Manullang Istri Ex. Director
2. Leonora C. Manullang Anak Consultant
3. Leonard S. Manullang Anak Ketua Yayasan
STIE – IBEK
4. Darius A. Satrianegara Anak Home Care Specialist-California
5. Rizal R. Manullang Anak Ex. Director
6. Yolanda P. Manullang Anak Marketing Executive
7. Pamela Abigail Febiola Laurent Cucu SD Kelas V
8. Briggita Laurencia Geovana Cucu 3 ½ tahun
9. Patricia Desire Lorenza Sabbathini Cucu 1 ½ tahun

B. I. Pendidikan Formal
Universitas Fakultas Lulus Tahun
Strata–1 IKIP–Medan –
Ek. Perusahaan Sosial 1970
Strata–1
Strata–2 STIE–IBEK Jakarta – Akuntansi
STIE–IBEK Jakarta – Keuangan Sarjana Akuntansi
Program MM 1994

1996
Strata–3 Univ. Persada
Indonesia YAI –
Manaj. Akuntansi Pasca Sarjana 2004

II. Riwayat Pendidikan
- 1948–1954: SR VI Pardamean
- 1954–1957: SMP Negeri Narumonda
- 1957–1960: SMA Advent d/h namanya North Sumatera Training School, Pematang Siantar
- 1960–1963: Perguruan Tinggi Advent Bandung, B.A. Accounting

- 1968–1970: - IKIP Medan
- BA. Pendidikan, Jurusan Ekonomi Perusahaan
- Drs. Pendidikan, Jurusan Ekonomi Perusahaan
- 1994:Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Institute Bisnis, Ekonomi dan Keuangan, Lulus Summa Cumlaude
-1996:Magister Manajemen, Konsentrasi Manajemen Keuangan–Institute Bisnis Ekonomi dan Keuangan, Lulus Summa Cumlaude
- 2004: Doktor Ekonomi–Minat Jalur Utama–Manajemen Akuntansi–Universitas Persada Indonesia/YAI, Sidang Terbuka tanggal 12 Mei 2004, Judicium Sangat Memuaskan

III. Faktor Penunjang – Dalam Negeri
1. Manggala Nasional, tahun 1986
2. Lulusan Lemhannas KRA XXIII, tahun 1990

Pengalaman
A. Riwayat Pekerjaan
- 1963–1968: Indonesian Union Corporation
- Firstly: Accounting Manager
- Secondly: Auditor
- Thirdly: Secretary/Treasurer

- 1970: U.S. Embassy, Jakarta,
Position: Procurement Analyst–USAID
- 1971: Auditor Arthur Young, Jakarta
- 1972–1973: I.C.I (Export), Position: Accountant
- 1972–1980: PT. Richardson–Merrel Indonesia
Position: – Firstly: Accounting Manager
- Secondly: Finacial Controller
- Thirdly: Finance Director
- 1980–1982: Widjojo Group
Position: Group Vice President Finance
- 1982–1984: Wirontono Group
Position: Group Vice President Finance
- 1985–Sekarang: PT. Artha Borindo Persada
Position: President Director
- 1987–1992: STIE – IBEK Ketua/Dosen
- 1993–2001: Dosen S–1 STIE–IBEK
- 2002–2004: Dosen Tetap Pascasarjana STIE–IBEK
- 2003–Sekarang:PT. IBEK Network–Business Intelegent Service
Position: President Director
- 2005 – Sekarang: Ketua STIE – IBEK/Guru Besar – Per SK. Mendiknas No. 48818/A2.7/KP/2005, tanggal 31 Agustus 2005, efektif tanggal 1 September 2005

B. Di Bidang Riset/Penelitian
1. The changing role of the controller

2. Krisis ekonomi dapat diatasi dengan menggunakan
pendekatan Grand Strategy
3. World monetary system
4. Inflation accounting dan beberapa pendekatan
serta implikasinya
5. Pemahaman Manager Keuangan terhadap Perbankan di Indonesia
6. Bank sebagai Agent of Trust dan Agent of Development
7. Leasing sebagai salah satu sumber pendanaan
8. Economic Value added (EVA) alternatif metode penilaian kinerja perusahaan
9. Kredit bermasalah
10. Motivasi sebagai sumber instrument mengkritik kinerja perusahaan
11. Mewaspadai pergeseran pradigma pembangunan ekonomi dan manajemen korupsi sebagai kendala pembangunan
12. Analisis Efisiensi Pasar Modal Indonesia menggunakan Multiple Event Sosial, Politik dan Ekonomi dalam bentuk Disertasi Doktor Ilmu Ekonomi

C. Di Bidang Pendidikan
I. Jakarta
1. 1972–1987 – Akademi Pariwisata Indonesia – Dosen
2. 1987–Sekarang – STIE IBEK, Dosen STIE–IBEK
3. 2005– Guru Besar dalam Ilmu Akuntansi–Kopertis III/STIE–IBEK
Pada tanggal 12 September 2005, Tim Penilaian Pusat untuk Guru Besar dalam rapat lengkapnya menyatakan Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang, MM. SE telah memenuhi segala persyaratan menjadi Guru Besar dalam Ilmu Akuntansi. SK Pengangkatan No. 48818/A2.7/KP/2005 mulai tanggal 31 Agustus 2005, berlaku efektif tanggal 1 September 2005.

II. Bangka Belitung
1. Pendiri STIE IBEK, Bangka – Belitung, Program DIII, S1

D. Di Bidang Kemasyarakatan
1. 1970–1975: Sekretaris Pengurus Warga Perantauan yang berdomisili di Tomang
2. 1976–1977: Executive Secretary – Indonesia Financial Executive Institute (IFEI)
3. 1977–1978: Vice President – Indonesia Financial Executive
Institute (IFEI)
: Vice Chairman Membership Committee
International Association Financial Executive Institute
4. 1978–1980: President Indonesia Financial Executive Institute
: Chairman International Association of Financial
Executive Institutes (IAFEI) For ASSEAN
5. 1980–1983: Vice President of International Association of Financial Executives Institutes

6. 1984: Chairman for Planning Committee International
Association of Financial Executives Institutes
7. 1984–1988: Ketua IV Persatuan Sarjana Administrasi Indonesia (Persadi)
8. 1988–1994: Ketua IV Persadi Hubungan Luar Negeri
9. 1989–1993: Ketua Umum Gerakan Cendikiawan Swadiri Indonesia
10. 1989–Sekarang: Ketua Harian Keluarga Besar Keturunan Si Raja Oloan
11. 1994–1998: a). Ketua IV – Persadi
b). Wakil Ketua Umum Inkindo (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia)
c). Ketua Harian Yayasan Pengembangan SDM Kadin Pusat
12. 1998–2004: 1). Wakil Ketua Umum Persadi
2). Anggota Badan Pengkajian Strategis Inkindo
13. 1998–2001: Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Konsultan Pajak
14. 1998–Sekarang: Presiden People to People International
15. 2001–Sekarang: Ketua Umum Persatuan Marga Manullang se-Jabotabek
16. 2005 – 2009: Ketua II, PERSADI

E. Di Bidang Internasional
1. 1972 (Aug):Controller’s Conference di Singapore oleh Richardon Merrell, Inc
2. 1973 (April): Cost Accounting Conference di Manila oleh Richardson Merrell, Inc
3. 1973 (Aug): Budget Control Conference di Bangkok oleh Richardson Merrell, Inc (RMI)
4. 1974 (Mar): Financial Strategy Conference di Manila oleh RMI
5. 1975 (Aug): Financial Strategy di Rey Town – New York, untuk Divisi Asia Timur Jauh dan Latin American oleh Richardson Merrell, Inc
6. 1976 (Apr): Management By Objective – Rey Town, Hilton, New York (RMI)
7. 1976 (Oct): International Currency, Exposure Management – Kuala Lumpur oleh Richardson Merrell, Inc
8. 1977 (Mar): Management Information System – Honolulu, oleh Richardson – Merrell, Inc
9. 1977: Sebagai delegasi dari Indonesia pada World Congress International Association of Financial Executives Institutes, dipilih sebagai Vice Chairman of Membership Committee, Dublin, Irlandia
10. 1977 (Sept): Financial Disclosured Policies – Mexico (Richardson – Merrel, Inc)
11. 1978: Buiness Aires Argentina menjadi Keynote Speaker, Topik: How Indonesia Overcome Inflation Pressure from 635% to 10% pa, pada World Congress International Association of Financial Executive Institutes di Buiness Aires.
12. 1978 (Aug): Management By Objective di Rio de Jeneiro, RMI
13. 1978 (Sept): International Conference di New York oleh Richardson–Merrell, Inc, pulangnya di Argentina
14. 1979 (April): International Financial and Top Management Exposure di Honolulu oleh Richardson–Merrell, Inc
15. 1979:Sebagai Panelist di World Conference of International Association of Financial Executives Institutes, Atlanta
16. 1980:Sidney.Memimpin delegasi Indonesia pada International Association of Financial Executives Institutes dan terpilih menjadi Vice President untuk 1980 – 1983 dari ahli keuangan sedunia itu.
17. 1980 (Oct): Division Conference di Dominican Republic oleh Richardson – Merrell, Inc
18. 1981: Mexico memimpin delegasi Asia Pasifik ke Congress sedunia IAFEI
19. 1982: Madrid–Memimpin delegasi Asia Pasifik ke Spanyol dan berhasil memasukkan Ir. Suhartoyo Ketua BKPM sebagai Keynote Speaker memaparkan: Investment Opportunities in Indonesia. Kepergian beliau adalah atas usaha B.J. Habibie meminta izin Presiden RI.
20. 1983: Jakarta: Menyelenggarakan World Congress IAFEI di Jakarta. Berhasil mengumpulkan 385 eksekutif dari 6 benua. Pembicara seperti Henry Kissinger, William Miller, MenKeu AS, Paul McKracken – Chairman of Security Council AS Chairman Hoda, President Citibank, President Merryl Lynch. Juga tercatat sebagai keynote speaker seperti MenKeu, Menteri/Bappenas Chairman of BKPM. Congress ini dibuka oleh Wakil Presiden RI
21. 1984: Manila – Delegasi Indonesia menghadiri Professore Congress
22. 1986: 1). Kansas: Diundang menjadi pembicara dibeberapa Universitas di AS yang tergabung dalam American Leque of Colleges and Universities di AS. Dianugerahkan Doctor Honoraris Cause in Humen Letters oleh OTTAWA University.
2). Mengadakan penelitian dalam rangka Penelitian Kultur antar Bangsa ke Yunani, Roma, Belanda, Inggris, AS, Korea, Jepang, Phillipine.
23. 1989: Bangkok. Menyampaikan pidato pengukuhan Profesor dihadapan para cendikiawan di Bangkok, pada saat yang sama Prof. DR. Don Wilson, President Pittsburg State University, AS memberikan surat ketetapan menjadi visiting Professor perguruan tinggi bergengsi itu untuk negara bagian Kansas.
24. 1990: Manila – Mengadakan wisata studi ke Clark dan Cubic basis sebagai peserta KRA XXIII Lemhannas
25. 1990: Beijing: ikut rombongan Menteri PU mengadakan studi banding ke Beijing dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Inkindo
26. 1995: Sebagai delegasi Indonesia ke Konferensi Fidic International di Istanbul, Turky
1997: Sebagai delegasi Indonesia ke Konferensi Fidic International di Edinburg, Scotlandia.
27. 2002: Diundang sebagai pembicara tunggal di Arkansas, oleh warga AS yang berasal dari Indonesia, dimana topik pembicaraan adalah hasil penelitian kultur yang masih harus dilanjutkan, bahwa orang Batak itu bersama Bugis, Komering, Toraja, adalah satu garis keturunan Iberani dari anaknya Ishak, cucunya Esau yang mengadakan perkawinan dengan wanita Palistim (Palestina)
28. 2003:Menghadiri Asian Dr. Accounting Consortium di Seoul, Korea

F. Di bidang Organisasi Profesi
1. 1975–1980:Indonesian Financial Executive Institute (IFEI)
Position:- Firstly: Executive Secretary
- Secondly: Vice President
- Thirdly: President
2. 1977–1984: International Association of Financial Executive Institutes (IAFEI)
Position:
- 1977:Terpilih sebagai Vice Chairman Membership Committee di IAFEI World Congress Dublin, Irlandia
- 1978:Terpilih sebagai Main Speaker dalam IAFEI World Congress yang diselenggarakan di Buiness Airies, Argentina.
- 1979:Terpilih sebagai Chairman of IAFEI for Asean, pemilihan diadakan di World Congress di Atlanta
- 1980:Terpilih sebagai Vice President of International Assosiation of Financial Executive Institute (IAFEI) keputusan diambil dalam World Congress in Sidney
-1981: Memimpin Delegasi Asia Pasifik ke World Congress di Mexico
-1982: Memimpin delegasi Asia Pasifik ke World Congress di Madrid, Spain
-1983: Sebagai Principal dan World Congress of IAFEI di Jakarta.
-1984–1985:Sebagai Vice Chairman Planning Committee of IAFEI
3. 1988–1998:Persatuan Sarjana Administrasi Indonesia (PERSADI)
Position:Wakil Ketua Umum membidangi luar negeri
4. 1989–1992:SOKSI PUSAT
Position:- Ketua Litbang
- Ketua Umum GECSI (Gerakan Cendikiawan Swadiri Indonesia)
5. 1994–1999: Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO), Position: Wakil Ketua Umum Urusan Luar Negeri
6. 1998–Sekarang: Persatuan Administrasi Indonesia (PERSADI)
Position: Wakil Ketua Umum
7. 1999–Sekarang: Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)
Position: Anggota Badan Strategis
8. 1996–1999: KADIN Indonesia Pusat
Position:Ketua Harian Yayasan Pengembangan SDM Kadin Pusat (dibantu oleh Suhely Kalla-Bukaka dalam daily operating activities)
9. 1997–Sekarang:People To People International, Honorary Chairman: George Bush
Position: President for Indonesia

G. Di bidang Organisasi Politik
1. Partai Republik: Position: Ketua I membidangi Ekuin
2. 17 Juni 1999: Mengundurkan diri sebagai pengurus sekaligus sebagai anggota
3. 5 April 2004:Direkrut Partai Patriot Pancasila sebagai Anggota Dewan Pakar dan Caleg melalui daerah pemilihan Bali – Tidak dapat Threeshold

H. Penghargaan yang pernah diterima
1. 1988: – Penyerahan kunci kota Colombia Kansas oleh Walikota atas jasa-jasa kemanusiaan
- Penyerahan kunci County Boone atas jasa-jasanya untuk kepentingan orang banyak
2. 1984: Bulang-bulang (Raja Adat) oleh keturunan Si Raja Oloan di Bakara, SRO adalah Eyang Raja Sisingamangaraja
3. 1997: Bulang-bulang (Raja Adat) oleh Clan Manullang di Bakara
4. 2003: The Best Participant, Asian Dr. Accounting Consortium di Seoul, Korea Selatan

I. Pengalaman lain-lain yang bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan dan perdamaian
1. Aktif dalam dialog antara agama
2. Diundang sebagai pembicara dalam forum budaya agama
3. Memotivasi mahasiswa agar tetap menjaga kenetralan
4. Diundang oleh Kongres AS mengadakan doa syafaat bersamaan dengan Presiden AS, Wakil Presiden, para Senator bersama-sama dengan utusan negara-negara di dunia dengan latar belakang agama yang berbeda, seperti, Islam, Jews, Budha, Hindu, Kristen, Katholik, dll

Jakarta, 17 November 2005

Prof. DR. Drs. Laurence A. Manullang


Kastorius Sinaga


Melihat Ormas dari Monas

SETELAH dicerca karena kasus Kampus UNAS dan dianggap melakukan “politik pembiaran” pada insiden Monas, polisi kembali mendapat pujian. Operasi penangkapan massa FPI serta penetapan status tersangka terhadap Ketua FPI yang dilakukan secara maraton oleh Polri telah melegakan semua pihak.

Dugaan bahwa polisi tidak serius karena dianggap memiliki hidden agenda di balik aksi dan keberadaan FPI sirna sudah. Seperti kita ketahui, polisi memang benar-benar melakukan penegakan hukum secara proporsional. Bahkan operasi gabungan tersebut tidak menimbulkan ekses kekerasan baru di lapangan seperti diperkirakan banyak pihak sebelumnya.

Satu agenda yang tersisa dari rangkaian peristiwa tersebut adalah risalah pembubaran FPI selaku ormas yang dipandang meresahkan masyarakat. Bagaimana seluk beluk keberadaan ormas di era reformasi saat ini ?
Organisasi massa adalah wahana wajar dan halal dari masyarakat untuk berhimpun dan mengorganisasikan dirinya sendiri (self-governing) dalam rangka mencapai tujuan yang dirumuskan oleh para pendiri dan anggotanya.

Di alam demokrasi, hampir setiap individu/kelompok terpaut dengan keberadaan ormas/LSM, entah itu dalam bentuk organisasi profesi, hobi, politik, keagamaan, kekerabatan, atau bahkan kepedulian sosial.

Kultur dan cakupan demokrasi akan mencapai bentuknya yang paling ideal bila keberadaan ormas/LSM cukup mengakar dan berkembang sehat di masyarakat. Ormas/LSM secara langsung turut menjalankan fungsi mediasi, artikulasi, pendidikan dan komunikasi politik tanpa mengejar keuntungan (nirlaba) ataupun terjebak pada arus politik praktis. Secara sosiologis, ormas/LSM menjadi sektor ketiga (third sector) yang bermanfaat bagi individu/kelompok masyarakat di dalam mengembangkan diri dan potensinya, di samping dua sektor konvensional lainnya, yaitu birokrasi negara dan sektor (perusahaan) swasta.

Hampir semua ormas eksis di dalam ruang publik (public sphere). Bahkan ormas mendapat legitimasi untuk melakukan mobilisasi sumberdaya dari publik itu sendiri, seperti keuangan, kelembagaan, maupun massa keanggotaan. Karenanya, interaksi antara ormas dan publik (baca: kepentingan publik) menjadi sebuah titik krusial di dalam penyelenggaraan kegiatan.

Kita juga melihat bahwa rezim Orde Baru tumbang di tahun 1998, sebagian besar atas jasa perjuangan sebagian ormas/LSM yang “pro-reformasi” yang tidak kenal lelah dan takut memperjuangkan kebebasan politik dari sistem penetrasi negara. Tahun 1985, almarhum Presiden Suharto telah mengantisipasi sepak-terjang para ormas pro-demokrasi ini dan lalu mengeluarkan UU no. 8/1985 tentang Pembinaan Ormas/LSM. Namun, seperti kita ketahui, UU ini lebih eksis di atas kertas dan hanya efektif mengatur, membina, dan mengendalikan ormas/LSM yang berinduk-semang pada politik pemerintah, dalam hal ini Departemen Dalam Negeri pada saat itu.

Datangnya era reformasi telah membawa euforia demokrasi yang merangsang pertumbuhan ormas/LSM “bak jamur di musim hujan”. Bentuk deprivatif ormas/LSM bermunculan setiap hari dengan tonasi atribut pengerahan massa seperti istilah Front, Aksi, Aliansi, Forum atau Laskar Komando –semuanya lengkap dengan atribut fisik dan modus gerakan yang menyeramkan.

Sebagian dari mereka memakai agama sebagai basis kohesitas di samping banyak juga menggunakan sentimen kedaerahan sebagai tameng gerakan. Lemahnya kemampuan birokrasi negara, vakumnya ruang publik akibat kepemimpinan yang tidak solid, serta meretasnya “nilai-nilai kebersamaan” membuat ormas/LSM menjadi lahan baru yang menggairahkan para petualang politik untuk bermanuver dan meraup rente ekonomi dari situasi instabilitas transisi politik kita.

Dalam konteks demikian, kita menyaksikan bahwa keberadaan sebagian ormas/LSM menjadi “antagonis” dan “asimetris” terhadap kepentingan publik yang sesungguhnya. Bukan hanya kenyamanan dan keamanan publik yang terganggu. Tetapi juga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam makna public sphere, seperti toleransi, solidaritas, dialog, akal-sehat dan pluralisme turut terancam oleh hiruk-pikuk gerakan liar ormas/LSM di hampir semua bidang dan wilayah Indonesia. Insiden Monas kemarin adalah satu contoh dari situasi liar tak terkendali dari ormas/LSM yang memang sudah seringkali berulang di berbagai daerah.
Di titik inilah kita menjadi sadar bahwa di balik tuntutan pembubaran FPI, hal yang sangat urgen dilakukan adalah penataan kembali regulasi terhadap ormas/LSM di Indonesia.

UU Ormas no 8/1985, tampaknya, sudah tidak relevan dengan kondisi faktual kehidupan sosial dan politik kita di tahun 2008 ini dan ke depan. Karenanya, pesan inti dari insiden Monas kemarin adalah kesigapan dan kesiapan dari Pemerintah serta DPR selaku pemangku otoritas legislasi nasional untuk mengadakan revisi total terhadap UU 5/1985 sehingga kita memiliki regulasi tentang ormas/LSM yang secara efektif dapat mengembangkan ormas/LSM yang sehat dan beradab. ***
Penulis adalah Dosen Pascasarjana UI

Si Abang, Riwayatmu Kini (2)

Dr. Kartorius Sinaga
ADNAN Buyung Nasution kembali menjadi sumber berita sekaligus pergunjingan di kalangan aktivitas prodemokrasi. Tokoh flamboyan yang selama dua dekade terakhir ibarat setali tiga uang dengan perjuangan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia di tanah air, kali ini mendapat sorotan sumir atas predikatnya sebagai pendekar demokrasi.
Pasalnya, Buyung–yang sejak “pensiun” dari Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mendirikan kantor pengacara komersial–sebagai kuasa hukum PT IPTN, sedang mengangkat kapak peperangan melawan The Jakarta Post, sebuah koran nasional berbahasa Inggris. Seperti diketahui, koran tersebut sedang nahas akibat human error wartawannya dalam melaporkan peristiwa jatuhnya CN 235 di Serpong, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Meskipun ralat berita dan permintaan maaf telah dilansir oleh koran itu pada hari berikutnya, dan oleh banyak ahli komunikasi seperti Prof. A. Muis, sebenarnya sudah cukup memadai untuk menjernihkan situasi sebagaimana bunyi pasal 11 Kode Etik Jurnalis Indonesia, Buyung tetap berkeras, atas kuasa hukumnya, B.J. Habibie selaku Direktur Utama IPTN, mengambil langkah-langkah legal action.

Bahkan, somasi berikut prasyarat-prasyarat penyelesaian masalah dengan The Jakarta Post sudah resmi dilayangkan. Malah, tak tanggung-tanggung, somasi itu kemudian dirilis ke publik, sebuah langkah unik yang jarang dilakukan dalam penanganan perkara hukum.
Masyarakat umum pun bertanya-tanya tentang gejala contradiction-in-habitus yang menghinggapi pribadi Buyung yang populer dipanggil “Abang” itu. Yaitu, mengapa si Abang, pendekar demokrasi dan pembela kebebasan pers, yang pada tahun 1994 dengan galak memimpin demonstrasi pembredelan Tempo, Editor dan Detik, sekarang berada “di seberang” dan berkukuh mengadili pers nasional yang selama ini terkesan powerless itu?

Entah secara kebetulan atau tidak, yang juga menarik adalah soal sifat hubungan Buyung-Habibie yang sekalipun asimetris, namun saling menyambung dengan konteks kejadian. Tahun 1994, Buyung berhadapan melawan B.J. Habibie yang sewaktu itu bertanggung-jawab atas pembelian 31 kapal perang eks Jerman Timur, kasus yang kemudian kita ketahui turut menjerat TEMPO ke liang kubur. Lalu tahun ini, Buyung berada di kubu Habibie berhadapan melawan pers, dalam hal ini The Jakarta Post.

Lalu, di awal tahun 1990-an, Buyung turut menjadi “konsultan hukum” dari LSM prodemokrasi yang menggugat Habibie ke pengadilan karena pemakaian dana penghijauan hutan tropis untuk keperluan IPTN. Hal ini dianggap dapat memanipulasi penggunaan uang rakyat untuk proyek elite IPTN. Lantas, tahun ini Buyung menjadi kuasa hukum IPTN yang hendak menggugat Jakarta Post karena pemberitaan jatuhnya CN 235.

Agak mirip ketika orang meributkan manuver politik Gus Dur yang “berbulan madu politik” dengan Mbak Tutut, dalam konteks yang berbeda, giliran “bulan madu” Buyung dan Habibie menjadi teka-teki politik. Situasi tersebut bahkan membuat masalah inti berupa human error yang menimpa The Jakarta Post dan keberatan Habibie atas kesalahan jurnalis itu menjadi relatif dan kurang menarik dibanding gejala perubahan karakter politik dari seorang Adnan Buyung Nasution.
Pasang surut gelombang gerakan prodemokrasi di Indonesia sangat erat berhubungan dengan pasang surut penokohan aktor intelektual di belakangnya. Itu berbeda dengan gerakan demokrasi di negara lain, seperti Thailand, Filipina dan bahkan Burma.

Di tiga negara itu, gerakan prodemokrasi lebih bertumpu pada aliansi kekuatan yang secara populer berbasis di masyarakat bawah untuk melawan totalitarisme sistem kekuasaan. Di Indonesia, gerakan itu lebih banyak muncul sebagai intelectual excercise dari beberapa tokoh kelas menengah — yang kebetulan menempati posisi pinggiran atau bahkan di luar sistem.

Karenanya, “kepemimpinan”, “organisasi” dan bahkan “personifikasi” menjadi sangat sentral dalam ritus perjuangan demokratisasi di negara ini.
Gerakan demokratisasi di Indonesia terkesan telah menjadi “proyek” dari segelintir “tokoh masyarakat” berasal dari kelas menengah perkotaan agar tetap dapat eksis di tataran opini publik. Sehubungan dengan itu, lembaga yang menggerakkannya juga menjadi terkesan sekadar melayani selera dan personal interest para public figure pejuang demokrasi itu.

Akibatnya, lembaga tersebut menjadi tertutup, kurang demokratis, dan bahkan lebih tampak sebagai “milik” individual/kelompok daripada menjadi muara aliansi kekuatan arus bawah alias “lokomotif demokrasi”. Situasi seperti itu pulalah yang mewarnai kemelut YLBHI di tahun lalu, dan yang kemudian kita ketahui melahirkan keretakan internal serta disintegrasi para pengurusnya, yang sebenarnya tidak lain adalah juga kader-kader Buyung sendiri.

Dengan konteks situasi demikian, kekuatan figur Buyung sebagai pemimpin gerakan prodemokrasi, sebenarnya, bukanlah berdiri tegak di atas massa. Dalam pandangan masyarakat awam, memang terkesan seolah-olah ia menaruh loyalitas terhadap masyarakat. Sebenarnya, kekuatan itu hanya eksis di tataran “simbol” yang tidak lain adalah hasil pemberitaan pers yang menokohkan Buyung demi tegaknya pilar demokratisasi.

Maka, Buyung dan massa aktivis prodemokrasi menjadi ibarat dua kutub magnet yang sebenarnya saling menolak. Soalnya, karakter keduanya menjadi sangat kontras: yang satu bersifat flamboyan dengan gaya hidup metropolis yang “pragmatis”, sementara itu, yang lain adalah massa aktivis yang “populis” dan terkesan “ultraidealis”.

Maka, tak mengherankan bila aktivis muda seperti Nuku Suleman dan Tri Agus Susanto, tokoh aktivis Pijar, dari balik penjara berkali-kali memaki-maki kedekatan Buyung dengan kekuasaan sebagai bentuk pengkhianatan atas perjuangan. Kedudukan Buyung sebagai kuasa hukum IPTN dan sejumlah perusahaan industri strategis yang dikelola Habibie juga telah dilihat sebagai bagian dari bertolakbelakangnya Buyung dan aktivis prodemokrasi.

Kiranya, lewat kasus The Jakarta Post, Adnan Buyung Nasution hendak memberi pesan bahwa orang bisa berubah, sedangkan “kepentingan” itu abadi.


Luhut Binsar Panjaitan



Nama: Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan

Lahir: Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947
Agama: Kristen
Isteri: Devi boru Simatupang
Anak:
- Paulina Panjaitan (Maruli Simanjuntak)
- David Panjaitan
- Paulus Panjaitan
- Karri Panjaitan

Pendidikan:
- SMA Penaburan, Bandung
- Akademi Militer 1970

Karir:
- Kopassus (Komando Pasukan Khusus)
- Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung
- Asisten Operasi di Markas Kopassus
- Komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81
- Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung
- Komandan Korem di Madiun
- Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung

Kegiatan Lain:
- Pendiri Sekolah Politeknik DEL di Balige

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional, ini lulusan terbaik Akademi Militer angkatan 1970. Jenderal TNI (Purn) kelahiran Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947 ini, mengabdi di kesatuan baret merah Kopassus (Komando Pasukan Khusus), yang bermarkas di Cijantung, selama 23 tahun. Dia Komandan pertama Detasemen 8, sekaran Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81.

Penerima penghargaan Adimakayasa (penghargaan terhormat di Akademi Militer), ini selepas pendidikan dari Akademi Militer dengan pangkat letnan dua, langsung bertugas di Kopassus.

Di Kopassus, Luhut Panjaitan pernah menjabat Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung, Asisten Operasi di Markas Kopassus serta Komandan pertama Detasemen 81 yang sekarang disebut Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81. Suatu detasemen yang sangat disegani dan secara khusus menangani masalah teroris. Luhut yang membangun detasemen ini mulai dari nol, saat Panglima ABRI dijabat Jenderal Benny Moerdani.

Suami dari Devi boru Simatupang, ini juga pernah menjadi Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung. Saat menjabat Komandan Korem di Madiun, dia meraih prestasi sebagai Komandan Korem terbaik.

Luhut mendapat promosi pangkat jenderal berbintang tiga, kala dipercaya sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung. Kemudian saat menjabat menteri, dia dianugerahi pangkat jenderal berbintang empat purnawirawan.

Pada saat muda, Luhut aktif sebagai atlet renang karate, judo dan erjun payung. Bahkan sebagai atlet renang dari Provinsi Riau, dia pernah meraih medali di PON di Bandung. Kemudian dia rajin mengikuti olahraga karate dan judo serta terjun payung.

Setelah tidak lagi menjabat menteri, dia merasa punya banyak waktu serta merasa memahami masalah olahraga, sehingga memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi Ketua Umum KONI Pusat. Namun, dia harus mengakui dan menghormati pilihan peserta Kongres Koni yang memilih Agum Gumelar.

Sebelum menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan reformasi, Luhut Panjaitan, dia aktif sebagai pedagang (pengusaha). Kemudian dia mendirikan sekolah Politeknik DEL di Balige. Pada awal mendirikan sekolah ini, Luhut mengundang para duta besar negara-negara sahabat seperti Duta Besar Amerika, Australia dan Singapura untuk melihatnya.

Perkenalannya dengan Devi boru Simatupang berawal ketika bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas di Bandung. Ketika itu, Luhut sekolah di SMA Penaburan dan Devi di SMA Kristen, Bandung. Hubungan mereka berlangsung hingga ke pernikahan, dikaruniai empat orang anak, yakni Paulina Panjaitan (menikah dengan Kapten Inf Maruli Simanjuntak), David Panjaitan, Paulus Panjaitan, dan Karri Panjaitan.


Martua Sitorus


Sosok Wilmar dan Martua Sitorus
Di pentas bisnis nasional, nama kelompok usaha ini mungkin kurang familier. Padahal, Wilmar termasuk perusahaan agrobisnis terbesar di Asia, mulai dari penguasaan lahan, pabrik pengolahan, hingga perdagangannya. Dan, walaupun berbasis di Singapura, sejatinya sebagian besar aktivitas produksinya berada di Indonesia. Di negeri ini, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan operasional. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania. Pada akhir 2005, kelompok usaha yang resminya bernama Wilmar International Limited ini memiliki total aset US$1,6 miliar, total pendapatan US$4,7 miliar, dan laba bersih US$58 juta.

Lebih dari itu, pendiri Wilmar adalah orang Indonesia bernama Martua Sitorus. Lelaki yang baru berusia 46 tahun ini berasal dari Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia adalah sarjana ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan, Sumatera Utara.

Awalnya Martua berdagang minyak sawit dan kelapa sawit kecil-kecilan di Indonesia dan Singapura. Lama-kelamaan bisnisnya berkembang pesat. Dan, pada 1991 Martua mampu memiliki kebun kelapa sawit sendiri seluas 7.100 hektar di Sumatera Utara. Di tahun yang sama pula ia berhasil membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertamanya. Pada 1996 Martua berekspansi ke Malaysia dengan membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di sana.

Tak puas dengan itu, Martua mulai melirik bisnis hilir (produk turunan) yang lebih bernilai tinggi. Pada 1998 Martua untuk pertama kalinya membangun pabrik yang memproduksi specialty fats. Lalu pada tahun 2000 ia juga meluncurkan produk konsumsi minyak goreng bermerek Sania.

Selanjutnya, tahun demi tahun bisnis Martua makin membesar hingga menjadi salah satu perusahaan agrobisnis terbesar di Asia yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Per 31 Desember 2005, Wilmar memiliki total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 69.217 hektar, 65 pabrik, tujuh kapal tanker, dan 20.123 karyawan. Wilmar mengekspor produk-produknya ke lebih dari 30 negara. Puncaknya, Martua mencatatkan Wilmar di bursa efek Singapura pada Agustus 2006 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$2 miliar.

Berkat keberhasilannya itu, sosok Martua Sitorus juga makin menonjol di pentas bisnis global. Majalah Forbes menempatkan Martua di urutan ke-14 dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia pada 2006. Kekayaan bersihnya ditaksir mencapai US$475 juta. “Palm Oil King”,
Bermitra dengan Kuok Khoon Hong
Akan tetapi, Martua Sitorus tak sendirian dalam mengembangkan Wilmar Corporation. Pada akhir 1980-an, ia menjalin kemitraan dagang dengan Kuok Khoon Hong. Pria berusia 57 tahun ini adalah keponakan Robert Kuok, raja bisnis gula dan properti Malaysia. Keduanya sepakat untuk mengembangkan bisnis bersama-sama. Nama Wilmar sendiri disebut-sebut sebenarnya adalah singkatan dari kedua nama mereka, yaitu William, nama panggilan Kuok Khoon Hong, dan Martua Sitorus. Mereka berdua adalah pemilik signifikan Wilmar Holdings Pte Ltd (perusahaan holding Wilmar International Ltd). Keduanya berbagi tugas, Kuok Khoon Hong sebagai chairman & CEO dan Martua sebagai chief operating officer (COO) Wilmar International Ltd.

Keluarga besar Martua Sitorus juga berperan penting dalam mengembangkan Wilmar Corp. Istri (Rosa Taniasuri Ong), saudara laki-laki (Ganda Sitorus), saudara perempuan (Bertha, Mutiara, dan Thio Ida), dan ipar (Suheri Tanoto dan Hendri Saksti) Martua menduduki berbagai posisi kunci di Wilmar Corp. Bahkan, Hendri Saksti diberi kepercayaan menjadi kepala operasional bisnis Wilmar di Indonesia.
Hendri Saksti bukanlah orang baru di bisnis sawit. Presdir PT Cahaya Kalbar Tbk. ini mulai bergabung dengan Wilmar Corp. sebagai manajer cabang operasional bisnis minyak sawit Wilmar di Indonesia dan kemudian diangkat sebagai direktur keuangan operasional Wilmar di Indonesia pada 1996. Darius Na, mantan direktur PT Cahaya Kalbar Tbk., mengungkapkan sebelumnya Hendri juga sempat berkarier di PT Astra Agro Lestari Tbk. Darius menggambarkan sosok Hendri sebagai pebisnis yang cukup tegas dan memiliki visi bisnis untuk selalu berupaya memperbesar kapasitas. “Ia terhitung orang yang mengutamakan jumlah,” ungkapnya.

Kini, bisnis Martua dan Kuok Khoon Hong terus berkembang. Selama sembilan bulan pertama 2006, pendapatan Wilmar Corp. naik 7,8% menjadi US$3,7 miliar dibanding periode yang sama 2005 sebesar US$3,4 miliar. Adapun laba bersihnya selama sembilan bulan pertama 2006 tumbuh 56,4% mencapai US$68,3 juta dibanding periode yang sama 2005 sebesar US$43,6 juta.
Rencana Merger dan Bisnis Biodiesel
Saat ini ada dua isu yang mencuat mengenai Wilmar Corp. Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd., dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Nilai transaksi merger itu mencapai US$2,7 miliar. Merger ini diperkirakan akan menjadikan Wilmar sebagai salah satu dari 15 perusahaan terbesar di bursa efek Singapura berdasarkan nilai kapitalisasi pasarnya. Sebab, merger ini ditaksir akan memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar sebesar US$7 miliar. Merger ini diperkirakan juga akan menghasilkan kombinasi pendapatan US$10 miliar dan laba bersih US$300 juta selama sembilan bulan pertama 2006.


Marandus Sirait

Marandus Sang Pencipta Taman Eden

Saat tiba di Laguboti, Balige, tersiarlah kabar ada seorang penerima Kalpataru di sekitar daerah itu. Ini tentulah kabar yang sangat menggairahkan. Terusik keinginan untuk selekasnya mencari tahu sekaligus menemuinya. Tak sabar lagi untuk bersua dengannya. Kata banyak orang, penerima Kalpatrau ini juga membudidayakan tanaman yang sudah langka di bumi Batak.
Si penerima pohon kehidupan itu, namanya juga sudah sangat dikenal warga di sekitar Balige dan Porsea. Kalau ada orang yang masih asing dengan namanya, cukuplah menanyakan kepada kerumunan orang yang berada di terminal atau lapo, dan tanyakan di mana lokasi Taman Eden 100. Yang ditanya akan menunjukkan arah Lumbanjulu. Ya, di situlah ”markas besar” dari Marandus Sirait. Dusunnya bernama Lumban Rang, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Tobasa, sekitar 16 kilometer dari Parapat atau 40 km dari Balige.
Taman Eden 100 dan Marandus Sirait bagai pinang dibelah dua, karena dialah yang mengelola taman dengan konsep agrowisata itu. Lahannya seluas 40 hektar yang hanya diperuntukkan untuk konservasi lingkungan Danau Toba. Marandus Sirait dengan mudah ditemui di Taman Eden 100. Atau sebaliknya, kalau ke Taman Eden 100 pasti akan menjumpai Marandus Sirait. Sirait dan Eden jadi kata kunci.
Taman Eden 100, adalah karya nyata dan bukti perjuangannya bagi lingkungan. Dia melakukannya tanpabanyak basa-basi, seperti kebanyakan orang lain, yang hanya menanam pohon untuk pencitraan, semata-mata untuk mendongkel semakin naiknya popularitas. Marandus bukan seperti orang-orang kebanyakan. Sebuah apresiasi yang setinggi-tingginya layak diberikan kepadanya. Hingga Kalpataru datang menghampirinya. Dan penghargaan itu pun dinilai sangat wajar baginya. Dia adalah penerima Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan tahun 2005, yang langsung diberikan oleh petinggi republik ini, Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Cipanas, Bogor. Saat menerima penghargaan tertinggi untuk upaya pelestarian lingkungan itu dia masih berusia cukup muda, 38 tahun, masih lajang. Dia barangkali termasuk kategori penerima Kalpataru yang termuda sampai sampai saat ini.

Pendeta Muhammad
Mengunjungi Taman Eden, buah karya Marandus Sirait, sangatlah mudah, karena pintu gerbangnya langsung berada pada sisi jalan di sebelah kiri, kalau tamu berangkat dari Parapat. Namun, karena pintu gerbang berada pas di tingkungan, maka sering tak terlihat. Mobil sering kelewatan dan alhasil terdampar di Polsek setempat, yang memang jaraknya tak jauh dari taman itu. Setelah tiba di pintu gerbang Taman Eden 100, ayunkanlah kaki melangkah masuk ke dalam, menempuh jalan yang sedikit menanjak. Jalan masuk adalah jalan berbatu, yang kalau kita tapaki maka batu-batu kecil pasti ikut tercampakkan ke sana-ke sini. Menarik, menyusuri jalan itu. Kita bisa melihat tanaman-tanaman yang sudah ditanam, juga melihat setiap tanaman itu yang sudah ada nama pemiliknya, nama si penanam dan tanggal saat tanaman itu dihunjamkan ke dalam tanah.
Seorang Pendeta bernama Muhammad pun pernah menanam pohon di situ, dan namanya langsung terlihat saat menyusuri jalan yang berbatu itu. Sampai di penghujung jalan, terdapat sebuah pos komando utama, sebuah rumah kayu yang terlihat sebagai tempat informasi sekaligus rumah tinggal. Dinding-dinding rumah itu, yang bertempelkan banyak guntingan-guntingan koran pun bercerita mengenai seorang sosok yang akan ditemui. Memang, sudah banyak media yang mengupas sosok yang satu ini.
Usai memanggil si empunya rumah, keluarlah seorang kakak, dan dia berkata, ”Abang sedang ke dalam, sedang mengantar pengunjung ke rumah Tarzan, silahkan menunggu sebentar.”
Pasti sudah terbayang rumah yang dimaksud tentulah sebuah rumah pohon. Karena, kabarnya Tarzan tinggal di pohon bukan di gua. Rumah Tarzan, air terjun dua tingkat, air terjun tujuh tingkat, gua kelelawar, bukit Manja, hingga hutan yang masih dihuni sepasang harimau, adalah daya tarik dari wisata di Taman Eden 100 ini. Kalau ingin menuju ke beberapa lokasi disediakan beberapa orang sebagai pemandu. Bila mau ke Bukit Manja maka akan menempuh jarak sekitar 5 kilometer atau sekitar 2,5 jam dari posko dengan berjalan kaki, menembus hutan, dengan jalanan yang menanjak. Tak berapa lama kemudian, seorang yang memakai kaus berwarna merah, bercelana pendek coklat dan bertopi rimba datang menghampiri. Dia mengiyakan sebagai orang yang tengah dicari.
Banyak yang mengagumi keberadaan Taman Eden 100, namun Marandus mengatakan, ”Sebenarnya, bagi saya ini belum selesai, semua masih berjalan, memang sudah terdapat 100 tanaman berbuah di sini. Namun, kami masih harus menambah beberapa fasilitas lain, seperti gua-gua penginapan, kolam pancing, tempat main untuk anak-anak. Juga kami mau coba mendatangkan kuda. Jadi bagi saya ini baru berjalan sekitar 50%.” Sebuah jawaban yang menarik, bahwa kerja kerasnya yang sudah membuahkan hasil ternyata masih belum berakhir. Dari brosur mengenai Taman Eden 100 ini, memang tertulis bila taman yang telah diupayakan sejak tahun 1999 itu ditargetkan semua akan tercapai pada tahun 2020.
Saat ini, di taman Eden 100 juga telah dibudidayakan tanaman-tanaman langka di bumi Batak, bahkan yang sudah jarang dijumpai lagi, seperti jabi-jabi, hariara, sampinur bunga, tahul-tahul dan tentu saja andaliman, yang sering diplesetkan menjadi ”keandalan iman.”
Di dalam taman terdapat area khusus untuk konservasi Anggrek Toba atau Orchid Park. Anggrek Toba di Taman Eden 100 ini merupakan satu-satunya taman konservasi anggrek hutan milik Sumatera Utara. Selain itu, sejak 29 September 2007 dan seterusnya, Marandus Sirait tengah mengupayakan Bank Pohon, yang dimaksudkan agar dapat menyuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba yang lain, dengan niat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan beragamnya tanaman di situ, maka wisata dengan konsep agrowisata lebih tepat diberikan ke Taman Eden 100 ini, meskipun taman ini juga kerap dijadikan sebagai wisata rohani. Sepertinya dia enggan untuk menambahkan fasilitas rumah ibadah seperti layaknya sebuah wisata iman di daerah Sidikalang yang memiliki empat rumah ibadah. Marandus hanya akan menambahkan gua-gua doa, yang akan diupayakannya sealami mungkin. Dan kemungkinan nantinya bisa digunakan oleh semua umat pemeluk beragama.
”Dikasi nama seratus itu memang agar ada seratus tanaman berbuah di sini, dan saya hitung-hitung ternyata sudah lebih. Sedangkan Taman Eden-nya ini diambil dari kitab Kejadian 2 ayat 15, yang bunyinya usahakan dan lestarikan bumi. Dulu kan di Taman Eden itu semua makhluk bisa hidup berdampingan, baik manusia, hewan, juga tanaman-tanaman. Semuanya hidup rukun,” katanya menguraikan. Dia pun mencoba menerangkan kembali makna dari taman yang dikelolanya ini. Sebuah harapan agar semua bisa rukun kembali di Taman Eden 100 ini. Tak berlebihan. Karena, meskipun namanya Taman Eden 100 yang cenderung Alkitabiah, namun ternyata yang pernah datang ke situ tidak hanya kaum kristiani, pendeta budhis pun pernah meditasi di taman ini.

Guru Musik
Marandus Sirait pada awalnya adalah seorang guru musik tamatan dari sekolah musik yang cukup terkenal di kota Medan, yaitu Medan Musik. Sebenarnya, dia sangat mencintai profesinya dan sudah ”cukup makan” dengan bidang yang digelutinya itu. Sejak tahun 1991, Marandus sudah menjadi guru musik di beberapa sekolah dan di gereja-gereja sekitar daerah Tobasa, malah sampai ke Pematang Siantar. Tak cuma itu, dia pun rela untuk mengasuh dan mengajarkan musik kepada para tuna netra di Panti Asuhan Hepata di daerah Laguboti.
Saat sembari mengajarkan musik itulah dia sering ”berkhotbah” tentang perlunya menjaga lingkungan hidup, karena itu adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Khotbah itu yang selalu didengung-dengungkannya setiap kali mengajar, di setiap tempat, di setiap waktu. Dia pun gelisah karena ”khotbahnya” terasa seperti menjadi ”kering.” Karena itu, dia menginginkan khotbahnya itu menjadi ”daging,” menjadi sebuah karya yang nyata, dalam perbuatan dan sikap. Lantas anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini pun mengusulkan kepada ayahnya, Leas Sirait, untuk memulai langkahnya mengupayakan 40 hektar areal keluarganya itu sebagai areal konservasi dengan konsep agrowisata. Gayung pun bersambut dari keluarga besar Sirait yang budiman ini. Lahan keluarga seluas 40 hektar ini berbatasan langsung dengan ribuan hektar hutan lindung milik pemerintah.
Dibuatlah konsep program Taman Eden 100 sejak tahun 1998. Tahun 1999 sudah mulai berjalan. Sejak Mei 2000 sudah disosialisasikan ke khalayak ramai dan ditargetkan akan selesai tahun 2020, dengan penambahan beberapa fasilitas yang memungkinkan. Mengupayakan dan mempertahankan areal konservasi seluas 40 hektar, yang merupakan lahan keluarga ini, hingga masih tetap bertahan bukan hal yang mudah. Tak lebih dan tak kurang juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Tiadanya bantuan pemerintah daerah setempat tidak membuat Marandus gentar sedikit pun. Semua hal telah dilakukannya. Katanya: ”Tak masalah kalo aku tak punya uang di kantong, asal taman ini tetap ada.”
Saat awal pembuatan taman ini, sekitar tahun 1998, dia pun menjual semua alat-alat band-nya untuk memulai langkah awal niatnya yang tulus. Semua penghasilannya dari seorang guru musik dan hasil penjualan dari alat-alat band-nya menjadi modal awal untuk membangun taman ini. Pastilah sangat berat bagi seorang guru musik saat memutuskan akan menjual semua alat-alat musik yang digemarinya. Kenangannya saat bersama alat-alat musik itu tentu menyesakkan dada. Namun, niat sudah dipancangkannya, langkah sudah diayunkannya.
Semuanya inisiatif sendiri, walau Marandus juga mengiyakan pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, ”Dulu ada bantuan pemerintah. Tapi, dulu, dari dinas pariwisata, tapi ya, minimlah. Bagaimanapun sudah kita syukuri kan, masih ada yang bantu.”
Berjuang dan bersyukur terlihat jelas di wajah putra Batak yang satu ini. Nampak jelas dari sinar matanya, guratan wajahnya, dan pada setiap patah kata dari ucapan Bataknya yang sangat kental. Jenggotnya yang tidak terlampau lebat menyiratkan seorang pejuang lingkungan sejati. Sedikit pun tak kelihatan dia merasa lelah, meskipun baru saja keluar dari dalam hutan mengantar dan memandu tamu yang keluar masuk hutan, melihat rumah Tarzan dan air terjun dua tingkat.
Saat ini dia mengucapkan syukur kepada sang khalik, karena sekarang tempat ini sudah sering dikunjungi oleh beberapa wisatawan lokal dan mancanegara. Marandus dan Taman Eden juga bersyukur, saat ada pembuatan tali air dari program Dinas Pengairan pemerintah yang mengalirkan air terjun yang melewati tamannya dan mengalir ke sawah-sawah penduduk di daerah sekitar Lumbanjulu. Tali air yang menjulur ke bawah melewati Taman Eden ini ibarat sebuah durian runtuh bagi para petani setempat.
Rasa syukurnya itu juga ditunjukkan kepada para pengunjung yang datang ke Taman Eden 100. Taman ini tidak mengenakan pungutan terhadap pengunjung. Hanya diletakkan sebuah kotak besar terbuat dari kaca yang transparan, yang disediakan bagi para pengunjung yang ingin memberikan sumbangan untuk perawatan Taman. Karena kotaknya transparan maka uang pun terlihat. Tak banyak, paling hanya beberapa lembar uang kertas lima ribu perak, bahkan seribu perak. Pengunjung tidak dikenakan pungutan namun bila ingin menanam sebuah pohon maka akan dikenakan ”kutipan” sebesar Rp 20.000 untuk perawatannya. Biasanya pengunjung yang menanam pohon namanya akan tercantum di pohon. Rombongan keluarga maupun pelajar tidak kena pungutan atau restibusi apa pun.
Hutan mekar kembali di pegunungan yang pernah kering. Danau Toba menghijau kembali, burung-burung datang dan berkicau kembali. Itulah bukti nyata sumbangsih seorang putra Batak bernama Marandus Sirait, si penerima Kalpataru, yang mungkin juga penerima Kalpataru termuda dan orang kelima dari Sumatera Utara yang pernah menerima pohon kehidupan itu sejak tahun 1980. Dari guru musik Marandus menjelma menjadi penyelamat lingkungan hidup. Layaklah bagi siapa saja untuk belajar dari ajaran dan tindakan guru yang satu ini.
Sejak tahun 2008, sang ”Adam” sudah tidak sendirian lagi di Taman Eden 100 ciptaannya ini, karena Tuhan telah mendatangkan seorang ”Hawa,” seorang permaisuri di ”kerajaan” lingkungan itu, namanya Yohana boru Sitepu. Sehingga dia sudah tak gelisah karena sendirian di ”istananya” yang hijau, di Taman Eden 100 itu.


Trymedia Panjaitan

Trimedya Panjaitan, SH. lahir di Medan, 06 Juni 1966. Mantan Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004, periode 2004-2009 duduk sebagai Ketua Komisi III. Selain di Komisi, putra Batak ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PDIP dan Anggota Badan Legislasi (Baleg).
Biodata
Kelamin: Laki-laki
Tmp/Tgl Lahir: Medan, 06 June 1966
Agama: Kristen Protestan
Alamat Lengkap: Gd. DPR/MPR RI Nusantara I Lt. 05 R. 0514 Jl. Gatot Subroto
Cempaka putih barat 25 No.11 Rt 03/07
Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Indonesia
Telpon: 5756138, 5756139, 5715569, 5715864, 5756040
Istri: Jovita Eva Sasantisiwi
Anak: 3 (tiga) Orang
Masa Akhir Jabatan: June 2009
Riwayat Pendidikan
• SDN HKBP Medan 1979
• SMPN 5 Medan 1982
• SMAN 30 Jakarta 1985
• Fak. Hukum Universitas Pancasila Jakarta 1991
Riwayat Jabatan
• Pembela Umum LBH 1991-1993
• Pembela Umum YLBHI 1993-1996
• Pimpinan Law Office Trimedya panjaitan & Ass 1996-n/a
• Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004
Pengalaman Organisasi
• Anggota Dewan Mandiri, Perhimpunan Bantuan Hukum & HAM Indonesia 1996-1998
• Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia
• Anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia 1997-n/a
• Ketua Forum Pembela Demokrasi Indonesia


Rosiana Silalahi

Lahir 26 September 1972 (umur 37)
Flag of Indonesia.svg Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Indonesia
Pekerjaan pembawa acara
Tahun aktif 1998-sekarang
Pasangan Dino Gregory Izaak
Almamater Universitas Indonesia
Agama Kristen

Rosiana Silalahi yang memiliki nama lengkap Rosiana Magdalena Silalahi adalah presenter berita dan Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV.

Bungsu dari lima bersaudara pasangan L.M. Silalahi (alm) dan Ida Hutapea ini menggeluti dunia jurnalistik sejak di bangku SMA. Waktu sekolah di SMA Ursula, Rosi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler majalah dinding dan aktif di majalah sekolah, Serviant.

Selepas SMA, Rosi mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri. Sayangnya, Rosi gagal diterima di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) dan diterima di pilihan kedua, Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra UI. Meski demikian, keinginannya untuk menjadi wartawan tak pernah pupus.

Usai meraih gelar sarjana, Rosi mengirimkan lamaran kerja ke TVRI yang sedang membuka lowongan. Sempat bekerja di perusahaan periklanan selama beberapa bulan, Rosi akhirnya dipanggil untuk menjalani tes di TVRI dan diterima sebagai reporter. Di sinilah awal karier yang membesarkan nama Rosi. Kesempatan datang di tahun 1999, saat Liputan 6 SCTV mencari reporter dan presenter baru. Rosi diterima dan setahun kemudian mulai tampil di belakang meja siar sebagai pembaca berita, meski tugas sebagai reporter tetap dijalani.

Karier Rosi mulai menanjak setelah Ira Koesno dan Arief Suditomo hengkang dari SCTV. Rosi menjadi salah satu dari 6 jurnalis TV dari Asia yang mendapat kesempatan mewawancarai secara eksklusif Presiden AS George Bush di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat pada 2003. Nama Rosi melejit setelah mendapat gelar Pembawa Acara Talk Show Terfavorit dan Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit versi Panasonic Award 2004. Setahun kemudian, Rosi juga mendapat gelar terfavorit untuk kategori Presenter Berita (Curent Affairs) dalam ajang Panasonic Award 2005 yang diselenggarakan bulan Desember 2005. Sebelum itu, di bulan November 2005, Rosi diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai pemimpin redaksi Liputan 6. Saat Pemilu 2004, Rosi memproduksi program ‘Kotak Suara' yang membahas mengenai money politics sehingga ia memenangkan penghargaan ‘Indonesia Journalist Board' di tahun 2004. Di tahun 2007, Rosi kembali menyabet gelar Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit di ajang Panasonic Award 2007.

Rosi dipersunting Dino Gregory Izaak di Gereja Katedral, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada tanggal 30 Juli 2005.

Penghargaan


  • Pembawa Acara Talk Show Terfavorit Panasonic Award 2004
  • Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit Panasonic Award 2004
  • Indonesia Journalist Board 2004
  • Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit Panasonic Award 2005
  • Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit Panasonic Award 2007

Joey Bangun


Bernama lengkap Joey Adi Citra Bangun dikenal sebagai
seniman serba bisa. Joey Bangun lahir di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 9 September 1979.

Sejak kecil sudah terlihat minat Joey pada sastra. Kegemarannya membaca buku-buku dan mengoleksinya, menjadikan perpustakaan pribadi di kamarnya ketika masih duduk di SMP. Bakatnya pada seni sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu hobinya melukis. Hobinya itu membuatnya mengikuti lomba lukis anak-anak tingkat daerah. Sarjana Teknik Elektro ini mengenal drama saat SMP. Ketika itu gereja tempatnya beribadah akan membuat sebuah pargelaran seni. Dan setelah di casting, akhirnya dia terpilih menjadi pemeran utama. Penampilannya di pargelaran itu mendapat pujian banyak orang.

Duduk di bangku kuliah, Joey menyelami dunia model. Berbagai penghargaan pemilihan model tingkat daerah maupun nasional dia raih. Selain itu, dia menjadi icon untuk produk iklan rokok Djarum Coklat dan terpilih sebagai Sang Lelaki Indosiar.

Keinginannya memperdalam dunia drama membuatnya menimba ilmu di acting course Studiklub Teater Bandung (STB) tahun 2002. STB adalah sebuah kelompok teater profesional di Bandung dan termasuk kelompok teater tertua di Indonesia.

Tekadnya untuk mengembangkan bakatnya di dunia seni peran sudah bulat. Tanggal 24 Mei 2003 diia mendirikan kelompok teater yang diberi nama Teater Topeng di kampusnya Universitas Kristen Maranatha Bandung dan menjadi pimpinan kelompok seni tersebut. Sejak itu dia aktif menulis karya drama dan kemudian menyutradarainya. Dia juga memperdalam karya sastra dramawan dunia seperti William Shakespeare, Johann Wolfgang Goethe, Samuel Beckett, dan sebagainya.

Lepas dari Teater Topeng yang memang kelompok itu sudah milik Universitas Kristen Maranatha, lalu dia mendirikan Teater Aron di Bandung tahun 2006. Hingga saat ini dia menjadi pimpinan dan berkarya di komunitas ini.

Joey kemudian memperdalam ilmu sinematografi penyutradaraan di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Setelah itu dia banyak membuat film sinetron produksi Multivison Plus dan MD Entertainment.

Daya hayal dan imajinasinya yang mulai berkembang membuat Joey menulis banyak cerita fiksi yang telah dimuat di berbagai media. Hasilnya, 2 buku kumpulan puisi dan cerita pendeknya telah diterbitkan. Joey juga menulis banyak artikel di berbagai media. Tulisan-tulisannya banyak menyorot tentang perkembangan seni dan budaya, terutama etnis Karo.

Talentanya dalam seni peran, menulis, melukis, bermain musik, telah berpadu dalam satu wadah seni yang disebut Teater.

*

PENDIDIKAN

- TK Fajar, Medan (1984)

- SD St Antonius II, Medan (1985)

- SMP Putri Cahaya, Medan (1991)

- SMU Immanuel, Medan (1994)

- Teknik Elektro, Universitas Kristen Maranatha, Bandung (1997)

- Teknik Elektro, Universitas Kebangsaan, Bandung (2005)

- Acting Course Studiklub Teater Bandung (STB) (2002)

- Sinematografi Pusat Perfilman SDM Citra Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) (2007)

*

WORKSHOP & SEMINAR

Workshop Teater PEKAN PERFORMING ART NASIONAL Teater Orok Universitas Udayana Denpasar, Bali 24 – 28 Mei 2004

Workshop Teater SERAT SARWA SATWA Selaser Sunaryo Art Space, Main Teater Bandung & Melbourne Juni – Juli 2004

KONGRES KESENIAN INDONESIA II Padepokan Pencak Silat Indonesia, Jakarta 26-30 September 2005

Workshop THE ART OF FILM MAKING AND EDITING Lasalle College International 26 Agustus 2006

Workshop International THE ECONOMY OF CINEMA & TELEVISON Fakultas Film dan Televisi – Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Faculte du Cinema et de L’Audiovisuel Uversite de Paris 3/ Sorbonne Nouvelle 16 – 20 April 2007

Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya, Yayasan Kelola dan Lembaga PPM, 12-16 Mei 2008

ORGANISASI

2003 – 2004 : Ketua Teater Topeng Bandung

2006 –2011 : Kepala Departemen Seni, Budaya, dan Pariwisata DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI)

2006 – sekarang : Direktur Artistik Teater Aron

2007 – sekarang : Pokja Komunikasi Internal dan Administrasi/Tim Website Masyarakat Film Indonesia (MFI) www.masyarakatfilmindonesia.org


Choky Sitohang

Choky,Si Gartip Pahoppu Panggoaran

Doli-doli parlente, pintar bicara, ini bernama lengkap Binsar Choky Victory Sitohang. Ketika berumur empat tahun sudah gartip, alias bawel. Tak heran, masih belia ia sudah pintar bicara. Bakatnya berkobar waktu umurnya 17. Dia lahir di Bandung, 10 Juli 1982.
Choky memulai karir sebagai wartawan lepas (pembaca berita) di salah satu stasiun TV swasta. Dia membawakan acara Good Morning on The Weekend. Dari sana karirnya menanjak cepat. Sukses yang dititinya itu dia lalui penuh liku selama delapan tahun.

Pernah gagal casting, jatuh sakit, dan sempat mencoba berbagai profesi, tetapi semangatnya tak pernah padam. Dia tahu meniti karier itu penuh perjuangan.

Mengapa terjun ke bidang publik speaking? Pria ganteng ini lugas menjawab: “Bakat saya di publik speaking, bakat saya di dunia bicara. Saya menyukai pekerjaan ini. Selain kepuasan batin yang saya dapat, saya juga menghibur dan memberi inspirasi kepada banyak orang.”
Ia mengakui peran keluarga dalam kariernya besar, terutama ibunya, Diana Napitupulu dan (almarhum) bapaknya, Poltak Sitohang, juga kedua adik perempuanya.

Sebagai pekerja profesional, Choky mengelola sendiri jadwal kesibukannya. Jika ada yang ingin mengundang harus lewat manajer. “Karena ini pekerjaan saya, maka saya kerjakan secara profesional. Ada tim yang khusus menyusun dan menerima undangan. Soal tarif, saya tidak mau menyebut angka. Kenapa? Karena etika. Saya punya tanggung jawab moral pada klien. Apa yang diberikan kepada saya harus memperoleh sesuatu dari saya.”

Tidak terlalu pasif berbahasa Batak, namun Choky bangga menjadi orang Batak. “Saya bangga menjadi orang Batak. Karena itu, on air saya berani berkata ini Choky Sitohang. Meskipun saya tidak terlalu terbiasa berbahasa Batak, bahkan nyaris tidak bisa. Tetapi, darah saya darah orang Batak. Ibu saya boru Napitupulu. Kakek nenek saya semua orang Batak. Ompung saya Kolonel MC Sitohang alamarhun begitu baik pada saya,” ujar pahoppu panggoaran (cucu pertama dari anak pertama) ini.



















































Artikel Terkait




Share

Digg Google Bookmarks reddit StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

 
TANGGU RAJA PARDEDE | HARLEN PARDEDE | PARDEDE Template™